
TUGUJOGJA— Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Giwangan menunjukkan semangat gotong royong dan inovasi hijau.
Koperasi ini tak hanya berbicara soal keuntungan, tetapi juga menghadirkan nilai keberlanjutan dan kepedulian lingkungan melalui produk sabun alami ramah lingkungan bernama Giwangi (Giwangan Wangi).
Ketua KKMP Giwangan, Sudaryanto, memimpin langkah ini dengan visi yang kuat. Ia menegaskan bahwa koperasi di tingkat kelurahan tidak perlu menunggu modal besar untuk bergerak.
Menurutnya, yang terpenting adalah kemauan untuk berbuat, semangat kolaborasi, dan kesadaran untuk maju bersama.
“Giwangan mungkin belum menjadi yang terbaik, tapi semangat kami tidak kalah. Kami ingin KKMP Giwangan menjadi pilot project, contoh nyata yang bisa menyemangati koperasi-koperasi lain di Yogyakarta,” ujar Sudaryanto.
Koperasi Kalurahan Merah Putih Giwangan
Sudaryanto melihat koperasi bukan sekadar wadah simpan pinjam, melainkan mesin penggerak ekonomi rakyat yang bisa hidup dari kerja sama dan kreativitas. Ia menggerakkan anggota untuk tidak hanya menunggu bantuan pemerintah, melainkan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan mereka sendiri.
Dalam upaya itu, KKMP Giwangan ikut berperan aktif dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif yang melibatkan banyak pihak, termasuk koperasi, untuk menyediakan bahan pangan bagi dapur-dapur komunitas.
“Kalau di wilayah teman-teman ada dapur MBG juga, silakan segera hubungi SPPG-nya. Koperasi bisa menjadi salah satu supplier-nya,” jelas Sudaryanto.
Melalui program ini, koperasi bukan hanya berfungsi sebagai penyalur barang, tetapi juga sebagai jembatan antara kebutuhan masyarakat dan sumber daya lokal. Keterlibatan tersebut memperkuat posisi koperasi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sosial yang berkelanjutan.
Inovasi Hijau: Lahirnya Sabun Giwangi
Tak berhenti di sana, KKMP Giwangan melangkah lebih jauh dengan menciptakan produk unggulan: sabun alami ramah lingkungan Giwangi. Produk ini lahir dari semangat untuk menghadirkan solusi sederhana tapi berdampak besar.
Sabun Giwangi dibuat dari bahan-bahan alami yang aman bagi kulit dan lingkungan. Proses produksinya dilakukan dengan melibatkan warga sekitar, terutama ibu-ibu rumah tangga yang memiliki keterampilan membuat olahan bahan alami.
“Sabun ini bukan sabun biasa. Bahannya alami, tidak mencemari tanah, dan bisa terurai dengan baik. Ini contoh produk yang tidak hanya bernilai ekonomi, tapi juga peduli terhadap lingkungan,” tutur Sudaryanto bangga.
Sabun Giwangi kini menjadi simbol semangat baru bagi KKMP Giwangan. Koperasi ini tidak hanya menjual barang, tetapi juga menawarkan nilai: keberlanjutan, kemandirian, dan kepedulian sosial.
Bagi Sudaryanto, koperasi bukan hanya urusan keuangan. Lebih dari itu, koperasi adalah ruang untuk membangun kesadaran bahwa kekuatan ekonomi lokal bisa tumbuh dari bawah, asal ada niat, kerja sama, dan kepercayaan.
“Ayo bergerak dengan apa yang kita punya. Jangan tunggu punya modal besar—lima juta, lima miliar—itu bukan ukuran. Yang penting, kita mulai dulu dengan niat baik dan kerja sama,” ujarnya tegas.
Langkah KKMP Giwangan membuktikan bahwa koperasi bisa menjadi motor perubahan sosial. Dengan berfokus pada nilai-nilai kebersamaan, keberlanjutan, dan inovasi, koperasi ini menyalakan kembali semangat ekonomi rakyat yang berakar pada gotong royong.
Cerita KKMP Giwangan menjadi inspirasi bagi koperasi-koperasi lain di Kota Yogyakarta. Di tengah tantangan zaman, mereka membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil: dari sabun alami yang ramah lingkungan, dari dapur masyarakat, dari tangan-tangan yang mau bekerja sama.
Koperasi Kalurahan Merah Putih Giwangan menegaskan bahwa kemandirian tidak harus menunggu kaya. Kemandirian justru tumbuh dari keyakinan bahwa setiap orang bisa berkontribusi untuk kesejahteraan bersama. (ef linangkung)