
TUGUJOGJA – Setiap tanggal 23 Juni, masyarakat dunia akan memperingati Hari Janda Internasional atau International Widows’ Day.
Peringatan ini telah diresmikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi Nomor A/RES/65/189 yang berlaku sejak tahun 2011.
Mungkin tak semua orang mengetahui keberadaan hari penting ini.
Padahal, peringatan ini membawa pesan penting untuk memperjuangkan hak-hak serta pengakuan penuh bagi para janda di seluruh dunia.
Sejarah Hari Janda Internasional 23 Juni
Latar belakang lahirnya Hari Janda Internasional bermula dari perhatian PBB terhadap banyaknya permasalahan yang dihadapi para janda, terutama di negara berkembang.
Melansir laman resmi PBB, diketahui ada berbagai tantangan yang kerap dihadapi para janda.
Misalnya kemiskinan, kekerasan, kesehatan, hingga keterlibatan mereka dalam situasi konflik.
Para janda ini sering kali menjadi kelompok yang terpinggirkan dalam masyarakat.
Bagi mereka, kehilangan pasangan hidup bukan hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga memunculkan tantangan berat secara fisik, emosional, hingga sosial.
Bahkan tak jarang mereka harus menghadapi stigma negatif, isolasi sosial, dan kesulitan ekonomi akibat hilangnya tulang punggung keluarga.
Tujuan Peringatan Hari Janda Internasional
Peringatan Hari Janda Internasional ditujukan untuk mengangkat suara, pengalaman, serta perjuangan para janda, sekaligus mendorong dunia agar memberikan dukungan nyata yang mereka perlukan.
Kemudian diharapkan mampu menghapus stigma sosial, diskriminasi, dan praktik berbahaya yang seringkali menimpa para janda.
Peringatan ini juga sejalan dengan komitmen global dalam upaya menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.
Tak Sekadar Simbolik
Jadi kesimpulannya, Hari Janda Internasional menjadi momen penting bagi masyarakat dunia untuk menyadari betapa besar peran dan kontribusi janda dalam kehidupan sosial.
Dengan adanya kampanye ini, maka diharapkan masyarakat semakin peka terhadap ketidakadilan yang sering mereka alami.
Mulai dari keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, kesulitan ekonomi, risiko kekerasan yang meningkat dan lain sebagainya.
Dan melalui peringatan ini, masing-masing individu serta lembaga diharapkan dapat ikut serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung, sehingga para janda dapat menjalani kehidupan dengan lebih layak, bermartabat, dan sejahtera.***