
TUGU JOGJA – Pagi di lereng Gunung Merapi belum benar-benar tenang. Saat sebagian besar masyarakat masih memulai aktivitas, Gunung Merapi kembali menunjukkan dinamika vulkaniknya. Senin (13/7/2026) pukul 05.09 WIB, awan panas guguran meluncur dari puncak Merapi dengan jarak luncur mencapai sekitar 2.000 meter ke arah barat daya dan selatan. Peristiwa itu kembali mengingatkan bahwa gunung api paling aktif di Indonesia tersebut masih menyimpan energi yang sewaktu-waktu dapat memicu guguran maupun awan panas.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas guguran tersebut meluncur menuju hulu Kali Krasak di sektor barat daya serta hulu Kali Boyong di sektor selatan. Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 19,52 milimeter dengan durasi 109,99 detik.
Fenomena tersebut menjadi bagian dari aktivitas Merapi yang hingga kini masih berstatus Siaga (Level III). BPPTKG menegaskan masyarakat harus tetap mematuhi seluruh rekomendasi resmi dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk dalam daerah potensi bahaya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, mengatakan aktivitas Gunung Merapi masih didominasi proses ekstrusi magma yang memicu guguran lava dan berpotensi menghasilkan awan panas guguran.
“Suplai magma hingga saat ini masih berlangsung. Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya awan panas guguran masih tetap ada, khususnya di dalam wilayah potensi bahaya yang telah ditetapkan,” kata Agus Budi Santosa.
Menurut Agus, masyarakat tidak boleh lengah hanya karena aktivitas Merapi terlihat berlangsung seperti biasa. Justru karakter erupsi efusif yang sedang terjadi dapat menghasilkan guguran lava maupun awan panas secara tiba-tiba ketika material di kubah lava kehilangan kestabilannya.
Ia menegaskan seluruh rekomendasi yang telah dikeluarkan BPPTKG masih berlaku dan harus menjadi acuan utama masyarakat maupun para pemangku kepentingan di kawasan lereng Merapi.
Berdasarkan hasil pengamatan selama 24 jam pada Minggu (12/7/2026), aktivitas Merapi masih tergolong tinggi. Petugas mencatat sebanyak 116 kali gempa guguran, satu kali tremor harmonik, 95 kali gempa hybrid atau fase banyak, satu kali gempa vulkanik dangkal, serta satu kali gempa tektonik jauh.
Selain aktivitas kegempaan yang cukup intens, petugas juga mengamati 13 kali guguran lava ke arah barat daya melalui Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Secara visual, puncak Merapi tampak jelas hingga tertutup kabut tipis. Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis teramati membumbung sekitar 25 hingga 50 meter di atas puncak.
Meski kondisi cuaca relatif cerah hingga mendung dengan angin bertiup lemah ke arah barat, aktivitas internal gunung api tetap menunjukkan suplai energi yang belum berhenti.
Agus menjelaskan, potensi bahaya saat ini masih terkonsentrasi di sektor selatan hingga barat daya. Guguran lava dan awan panas berpotensi mengarah ke Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Kali Krasak, dan Kali Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.
Sementara itu, di sektor tenggara potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.
“Selama aktivitas masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya. Rekomendasi ini disusun berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi aktivitas Gunung Merapi,” ujarnya.
Tidak hanya ancaman awan panas guguran, masyarakat juga harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar apabila hujan turun di kawasan puncak Merapi. Material vulkanik yang masih menumpuk di lereng dapat terbawa aliran sungai dan mengancam wilayah hilir.
Di sisi lain, potensi abu vulkanik juga tetap harus diantisipasi apabila terjadi peningkatan aktivitas maupun letusan eksplosif. Material abu dapat mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, hingga transportasi di sekitar kawasan Merapi.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Merapi hanya disampaikan melalui Badan Geologi, PVMBG, dan BPPTKG.
Hingga saat ini BPPTKG belum mengubah status aktivitas Gunung Merapi yang masih berada pada Level III (Siaga). Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, evaluasi terhadap tingkat aktivitas akan segera dilakukan sesuai perkembangan data pemantauan.
Peristiwa awan panas guguran pada Senin pagi menjadi pengingat bahwa Merapi terus bekerja di balik kemegahan lanskapnya. Gunung yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan warga di sekitarnya itu juga menyimpan potensi ancaman yang tidak pernah boleh diremehkan. Kewaspadaan, kepatuhan terhadap rekomendasi resmi, serta kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi benteng utama dalam menghadapi dinamika Merapi yang hingga kini masih terus berdenyut.(ef linangkung).