TUGU JOGJAย – BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mundur sedikitnya 30 hari atau tiga dasarian dibandingkan kondisi normal periode 1991-2020.
Pada saat yang sama, seluruh wilayah DIY berstatus Awas kekeringan meteorologis pada dasarian III Oktober 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II D.I. Yogyakarta, Dr. Mamenun, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa dinamika atmosfer dan laut mendukung potensi berlangsungnya musim kemarau lebih panjang.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan sekaligus mengantisipasi cuaca ekstrem selama peralihan musim.
Berdasarkan analisis BMKG, angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator masih bertiup dari timur. Pola tersebut menunjukkan Monsun Australia masih aktif dan memengaruhi kondisi atmosfer di DIY.
Indeks El Niรฑo-Southern Oscillation (ENSO) berada dalam kondisi sangat kuat dan diprediksi berpeluang bertahan hingga awal 2027.
Sementara itu, Dipole Mode Index (DMI) berada dalam fase positif yang berpotensi berlangsung sampai akhir 2026. Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.
BMKG juga mencatat anomali suhu muka laut di perairan selatan DIY berkisar minus 0,5 hingga plus 1 derajat Celsius, dengan kategori netral hingga hangat. Suhu muka laut di kawasan tersebut berada pada kisaran 26-28 derajat Celsius.
Kondisi itu menjadi bagian dari dasar analisis BMKG dalam memperkirakan curah hujan selama akhir Oktober 2026 hingga awal 2027.
Pada dasarian III Oktober dan dasarian I November 2026, curah hujan DIY diprediksi berkisar 10-50 milimeter per dasarian. Sifat hujan pada periode tersebut berada dalam kategori Bawah Normal (BN).
Memasuki dasarian II November 2026, curah hujan diperkirakan meningkat menjadi 20-75 milimeter per dasarian, dengan kategori rendah hingga menengah. Meski demikian, sifat hujan di seluruh wilayah prakiraan masih diprediksi Bawah Normal.
BMKG menetapkan status Awas kekeringan meteorologis untuk seluruh wilayah DIY pada dasarian III Oktober 2026. Peringatan ini menjadi perhatian bagi masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.
Pemerintah daerah perlu mengantisipasi keterbatasan air bersih dan kebutuhan irigasi, termasuk menyiapkan sumber air alternatif serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait.
Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diimbau menghindari pembakaran sampah maupun lahan secara terbuka ketika vegetasi dan material di sekitar permukiman berada dalam kondisi kering.
Berdasarkan prakiraan bulanan BMKG, curah hujan DIY pada November 2026 berkisar 51-300 milimeter, dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal.
Pada Desember 2026, curah hujan diperkirakan mencapai 151-500 milimeter per bulan, dengan sifat hujan Bawah Normal hingga Atas Normal.
Sementara itu, curah hujan Januari 2027 diprediksi berkisar 201 hingga lebih dari 500 milimeter per bulan. Sifat hujan pada periode tersebut diperkirakan Normal di seluruh wilayah prakiraan.
BMKG juga memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 di DIY berlangsung bertahap berdasarkan zona musim (ZOM).
Sebanyak dua ZOM atau 25 persen wilayah prakiraan diprediksi memasuki musim hujan pada dasarian III November 2026.
Selanjutnya, tiga ZOM atau 37,5 persen diperkirakan memasuki musim hujan pada dasarian I Desember 2026. Tiga ZOM lainnya atau 37,5 persen diprediksi mulai mengalami musim hujan pada dasarian II Desember 2026.
Dibandingkan kondisi normal periode 1991-2020, seluruh ZOM di DIY diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan sedikitnya tiga dasarian.
Selain datang lebih lambat, musim hujan 2026/2027 juga diperkirakan berlangsung lebih pendek. Sebanyak tujuh ZOM atau 87,5 persen wilayah diprediksi mengalami musim hujan selama 13-15 dasarian. Satu ZOM lainnya atau 12,5 persen diperkirakan mengalami musim hujan selama 16-18 dasarian.
BMKG memperkirakan durasi musim hujan di seluruh wilayah DIY lebih pendek sedikitnya tiga dasarian dibandingkan kondisi normal.
Untuk puncak musim hujan, empat ZOM atau 50 persen wilayah diprediksi mencapai puncak pada Februari 2027. Empat ZOM lainnya atau 50 persen diperkirakan mengalami puncak hujan pada Maret 2027.
Jika dibandingkan dengan kondisi normal, empat ZOM diprediksi mengalami puncak sesuai jadwal. Tiga ZOM lainnya diperkirakan mengalami kemunduran puncak musim hujan selama satu bulan.
Sementara, BMKG memperkirakan total curah hujan selama musim hujan 2026/2027 di DIY berkisar 1.001-2.000 milimeter.
Berdasarkan sifat hujan, lima ZOM atau 62,5 persen wilayah diprediksi mengalami kondisi Normal.
Dua ZOM atau 25 persen diperkirakan mengalami sifat hujan Bawah Normal, sedangkan satu ZOM atau 12,5 persen diprediksi mengalami Atas Normal.
Akhir musim hujan juga diperkirakan berlangsung bertahap. Sebanyak tiga ZOM atau 37,5 persen wilayah diprediksi mengakhiri musim hujan pada dasarian I April, sedangkan empat ZOM atau 50 persen diperkirakan mengakhirinya pada dasarian III April.
Perbedaan waktu awal, durasi, puncak, dan akhir musim hujan membuat pemerintah daerah serta masyarakat perlu menyesuaikan perencanaan berdasarkan karakteristik wilayah masing-masing. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam pengaturan jadwal tanam dan distribusi air.
Selain kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan, BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim. Fenomena tersebut dapat berupa hujan lebat, petir, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Karena itu, kondisi musim yang relatif kering tidak berarti risiko hujan lebat dalam waktu singkat dapat diabaikan.
BMKG mengimbau masyarakat membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memeriksa kekuatan bangunan dan baliho untuk mengurangi potensi kerusakan akibat angin kencang.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan kesiapan infrastruktur, memeriksa drainase, memantau wilayah rawan banjir dan tanah longsor, serta menyiapkan langkah tanggap darurat sesuai kondisi setempat.
BMKG turut mengingatkan masyarakat agar memperbarui informasi iklim dan peringatan cuaca melalui kanal resmi Stasiun Klimatologi Kelas II D.I. Yogyakarta.
Informasi terbaru diperlukan agar keputusan terkait aktivitas masyarakat dan mitigasi bencana dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi atmosfer.ย (ef linangkung)





