
TUGUJOGJA – Bulan Rajab adalah salah satu bulan suci dalam kalender Islam. Pelajari sejarah, makna, dalil kemuliaannya, dan amalan sunnah yang bisa dilakukan sepanjang 30 hari bulan Rajab 1447 H.
Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan istimewa dalam kalender Hijriah yang dikenal dengan sebutan Asyhurul Hurum atau bulan-bulan haram. Bulan ini tidak hanya penting sebagai gerbang menuju bulan suci Ramadan, tetapi juga dianggap waktu penuh keberkahan dan ampunan. Di kalangan ulama salaf, ada ungkapan bijak yang menyebut Rajab sebagai bulan menanam benih, Syaban sebagai bulan menyiram, dan Ramadan sebagai bulan memanen pahala.
Namun, di balik popularitasnya, banyak yang belum mengetahui asal-usul nama Rajab dan alasan Allah SWT menempatkannya sebagai bulan suci atau Haram. Memahami sejarah dan etimologi bulan Rajab membantu kita mengagungkan syiar-syiar Allah dan menjalani bulan ini dengan adab dan amalan yang lebih baik.
Asal-usul Nama Rajab
Secara etimologis, kata Rajab berasal dari akar kata At-Tarjib, yang berarti “mengagungkan” atau “memuliakan”. Dahulu, masyarakat Arab sangat menghormati bulan ini hingga mereka menahan diri dari peperangan dan konflik selama satu bulan penuh.
Selain itu, Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayis Al-Lughah menjelaskan bahwa Rajab juga berhubungan dengan makna “menopang” atau “menyanggah” pohon agar buahnya tidak patah. Makna ini dapat dimaknai secara spiritual bahwa bulan Rajab adalah waktu untuk menopang diri dengan amal saleh dan menahan diri dari dosa.
Bulan Rajab juga memiliki beberapa julukan lain yang menggambarkan keistimewaannya, antara lain:
- Rajab Al-Ashamm (Yang Tuli) – disebut demikian karena pada bulan ini tidak terdengar suara peperangan atau denting pedang.
- Rajab Al-Ashabb (Yang Mengucur) – karena rahmat Allah turun melimpah bagi hamba yang bertaubat.
- Rajab Mudar – dinisbatkan kepada suku Mudar yang dikenal paling konsisten memuliakan bulan Rajab.
Mengapa Disebut “Bulan Haram”?
Istilah Bulan Haram sering disalahpahami sebagai larangan secara negatif, padahal maknanya adalah bulan yang suci dan dihormati. Ada dua alasan utama mengapa Rajab, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, disebut bulan haram:
- Diharamkan berperang – Sejak masa Nabi Ibrahim AS, hingga masa Jahiliyah, dan akhirnya Islam mengukuhkannya, pertumpahan darah dilarang keras.
- Dosanya lebih berat, pahalanya lebih besar – Setiap perbuatan dosa di bulan ini mendapatkan ganjaran lebih berat, sementara amal saleh dilipatgandakan.
Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Allah mengkhususkan empat bulan haram sebagai bulan mulia, sehingga amal dan dosa di bulan ini memiliki bobot berbeda dibandingkan bulan lainnya.
Dalil Kemuliaan Bulan Rajab
1. Dalil Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas, di antaranya empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri dalam bulan-bulan itu.”
Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga diri dari dosa dan memperbanyak amal di bulan Rajab.
2. Dalil Hadits
Rasulullah SAW bersabda dalam Khutbah Haji Wada’:
“Setahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudar yang terletak antara Jumada dan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan posisi Rajab sebagai bulan yang mulia dan harus dimanfaatkan untuk menahan diri dari dosa.
Amalan Sunnah di Bulan Rajab
Bulan Rajab menjadi kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah sunnah. Berikut beberapa amalan yang dianjurkan:
1. Istighfar dan Taubat
Memperbanyak istighfar setiap pagi dan sore di bulan Rajab dianjurkan, misalnya:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ
Rabbighfirli warhamni wa tub alayya
Artinya: “Ya Rabb, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku.”
2. Puasa Sunnah
Puasa sunnah di bulan Rajab memiliki banyak keutamaan:
- 1 hari: Mendapat ridha Allah
- 2 hari: Mendapat kemuliaan besar
- 3 hari: Dilindungi dari bencana dan fitnah
- 7 hari: Tujuh pintu neraka tertutup
- 8 hari: Delapan pintu surga terbuka
- 10 hari: Semua doa dikabulkan Allah
- 15 hari: Dosa diampuni dan diganti dengan kebaikan
Rasulullah SAW bersabda:
“Berpuasalah di bulan-bulan haram, dan perbanyaklah amal saleh di dalamnya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
3. Dzikir
Dzikir dianjurkan dibaca sebanyak 100 kali sesuai pembagian 10 hari:
- 1–10 Rajab: سُبْحَانَ اللَّهِ الْحَيُّ الْقَيُّمِ (Subhaanallaahil Hayyul Qayyum)
- 11–20 Rajab: سُبْحَانَ اللَّهِ الْأَحَدُ الصَّمَدِ (Subhaanallaahil Ahadush Shamad)
- 21–30 Rajab: سُبْحَانَ اللهِ الرَّؤُوْفِ (Subhaanallaahir Ra-uuf)
- Hari Jumat terakhir Rajab: أَحْمَدُ رَسُوْلُ اللهِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ (Ahmad Rasûlullâh Muhammad Rasûlullâh) sebanyak 35 kali.
4. Sedekah
Memperbanyak sedekah di bulan Rajab menjadi bukti pengagungan terhadap syiar Allah dan membuka ladang pahala.
5. Sholat Sunnah dan Membaca Al-Qur’an
Memperbanyak sholat sunnah, tilawah Al-Qur’an, dan menjaga hubungan baik antar manusia sangat dianjurkan di bulan Rajab, agar pahala bertambah dan hati semakin bersih.
Bulan Rajab adalah bulan penuh keberkahan yang mengajak kita menahan diri dari dosa, memperbanyak ibadah, dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan.
Memahami sejarah, makna, dan amalan di bulan ini menjadi bekal spiritual untuk meningkatkan kualitas iman. Mari manfaatkan setiap hari di bulan Rajab 1447 H dengan istighfar, puasa sunnah, dzikir, sedekah, sholat sunnah, dan membaca Al-Qur’an, sehingga pahala dan kemuliaannya bisa kita raih secara maksimal.
***