
TUGUJOGJA – Di tengah ramainya musik pop modern dan tren lagu yang sering viral di media sosial, ada satu genre yang tetap bertahan dan masih dicintai oleh banyak orang, yaitu campursari.
Musik ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi penguat semangat, penghibur hati yang sedang rindu kampung halaman, bahkan teman setia dalam perjalanan panjang.
Dari buruh yang bekerja keras, sopir yang menghabiskan waktu di jalanan, hingga mahasiswa yang merantau jauh dari keluarga, lagu campursari selalu punya tempat istimewa.
Banyak yang bertanya, mengapa lagu campursari masih begitu digemari, meskipun musik-musik baru bermunculan setiap hari?
Jawabannya bisa ditelusuri dari makna yang terkandung dalam lirik, identitas budaya yang dibawanya, serta aransemen musik yang sederhana namun kaya akan rasa.
Lirik Jujur dan Menyentuh Kehidupan
Salah satu kekuatan terbesar campursari terletak pada liriknya. Lagu-lagu ini berbicara tentang kehidupan nyata, sesuatu yang bisa dirasakan siapa saja.
Seniman-seniman besar seperti almarhum Didi Kempot adalah contoh nyata bagaimana campursari mampu menyentuh hati banyak orang.
Ada lagu yang menggambarkan kerasnya perjuangan hidup, bagaimana seseorang harus bekerja keras di tanah rantau demi keluarga.
Cerita semacam ini sangat dekat dengan kehidupan para buruh dan sopir. Ada pula kisah cinta yang pilu, tentang patah hati, kerinduan, dan perpisahan jarak jauh yang terasa relevan bagi mahasiswa perantauan maupun pekerja yang harus meninggalkan pasangan di rumah.
Bahkan, tidak sedikit lagu campursari yang sarat dengan nasihat dan renungan hidup, memberi ruang bagi pendengarnya untuk merenung dan belajar dari pengalaman.
Bahasa yang dipakai sederhana, tetapi tetap puitis. Inilah yang membuat pendengar merasa seolah-olah mereka tidak sendiri dalam menghadapi masalah. Melalui lagu, ada seniman yang ikut merasakan dan menyuarakan apa yang mereka alami.
Campursari sebagai Ikatan Budaya
Bagi mereka yang berasal dari Jawa, musik campursari lebih dari sekadar hiburan. Lagu ini adalah pengingat akan kampung halaman. Buruh, sopir, dan mahasiswa yang merantau sering kali menjadikan musik ini sebagai obat rindu.
Mendengarkan campursari seperti mendengar suara rumah, mengurangi rasa sepi, dan menumbuhkan kebersamaan di antara sesama perantau.
Penggunaan bahasa Jawa dalam banyak lirik juga menghadirkan rasa keakraban yang khas.
Meski jauh dari tanah kelahiran, mendengar campursari bisa menghadirkan kembali suasana desa, keluarga, dan kenangan masa lalu.
Musik yang Mudah Diterima Semua Kalangan
Campursari pada dasarnya adalah hasil percampuran budaya musik. Musik ini menyatukan unsur-unsur tradisional Jawa, seperti gamelan, kendang, saron, dan gong, dengan alat musik modern seperti gitar, keyboard, serta drum.
Perpaduan ini melahirkan alunan musik yang unik, mudah didengar, dan bisa diterima oleh banyak generasi.
Bagi sopir, irama campursari yang dinamis sangat cocok untuk menemani perjalanan jauh. Bagi mahasiswa, musik ini terasa akrab tanpa terkesan kuno karena ada sentuhan modern di dalamnya.
Sedangkan bagi para buruh, harmoni yang tercipta seakan menjadi penyemangat dalam menjalani kerasnya kehidupan sehari-hari.
Jejak Sejarah dan Sosok di Baliknya
Jika menengok sejarahnya, musik campursari tidak bisa dilepaskan dari sosok maestro asal Gunung Kidul, yaitu Manthous atau Anto Sugiartono.
Berdasarkan laman ISI Yogyakarta, diketahui bahwa ia juga dikenal sebagai penggagas dan pengembang campursari hingga menjadi salah satu entitas musik modern yang melekat pada budaya populer Jawa.
Namanya pun sejajar dengan tokoh besar lain dalam musik tradisional dan populer Jawa, seperti Waljinah, Mus Mulyadi, dan Didi Kempot.
Berkat dedikasi seniman seperti Manthous, campursari berkembang pesat dan tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi kebanggaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Campursari sebagai Teman Setia di Perantauan
Jadi kesimpulannya, alasan mengapa campursari tetap menjadi teman bagi buruh, sopir, dan mahasiswa perantauan adalah karena musik ini hadir sebagai cerminan kehidupan nyata.
Lagu tersebut membawa pesan emosional yang menyentuh, menjadi pengikat identitas budaya, serta menghadirkan irama musik yang bersahabat dengan telinga siapa pun.
Campursari bukan sekadar lagu. Ini merupakan kisah tentang perjuangan, cinta, kerinduan, dan nasihat hidup.
Hingga kini, cerita di balik lagu campursari masih terus hidup. Genre musik ini tetap dinikmati, diwariskan, dan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Dan justru dalam kesederhanaannya, campursari membuktikan bahwa musik yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan ke hati siapa pun yang mendengarnya.***