Daftar Jembatan Cagar Budaya di Jogja, Apakah Jembatan Kewek Termasuk?

Bagikan :
Rekayasa lalu lintas diterapkan Pemkot Yogyakarta setelah Jembatan Kewek dinyatakan memasuki fase kritis. (Ist)

TUGUJOGJA – Keberadaan jembatan-jembatan lama di Kota Yogyakarta bukan sekadar berfungsi sebagai penghubung wilayah, tetapi juga menyimpan nilai sejarah penting yang melekat pada perkembangan kota.

Di antara berbagai jembatan bersejarah itu, Jembatan Kewek atau yang juga dikenal sebagai Jembatan Kleringan, menjadi yang paling sering dibicarakan masyarakat terutama setelah kondisinya dinyatakan kritis dan resmi ditutup pada Selasa, 10 Desember 2025.

Penutupan yang berlangsung sejak pagi hari tersebut langsung menimbulkan kemacetan di sejumlah titik. Untuk mengurai kepadatan lalu lintas, pemerintah membuka sistem dua arah di Jembatan Kleringan mulai pukul 10.00 WIB sebagai langkah rekayasa sementara.

Situasi ini membuat publik kembali mempertanyakan apakah Jembatan Kewek sebenarnya termasuk dalam daftar jembatan cagar budaya di Jogja?

Meski umurnya telah mencapai sekitar satu abad, Jembatan Kewek belum ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB).

Penjelasan ini disampaikan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang menyebutkan bahwa jembatan tersebut tidak terdaftar secara resmi berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Alasan utamanya sederhana, jembatan ini memang belum pernah diajukan untuk proses penetapan.

Namun, status tersebut bukan berarti Jembatan Kewek tidak memiliki nilai penting. Justru letaknya yang berada di titik strategis menjadi batas antara Kawasan Cagar Budaya (KCB) Keraton dan KCB Kotabaru menjadikannya bagian integral dari lanskap historis Kota Jogja.

Kenapa Tidak Bisa Langsung Ditetapkan sebagai Cagar Budaya?

Meski saat ini Jembatan Kewek sedang menjalani asesmen teknis terkait kondisi kritisnya, proses tersebut tidak otomatis dapat dijadikan dasar penetapan sebagai cagar budaya. Untuk menjadi BCB, diperlukan kajian berbeda yang lebih mendalam, yakni Heritage Impact Assessment (HIA) atau Analisis Dampak pada Warisan Budaya (ADWB).

Baca juga  Ikuti Job Fair Akbar 2025 di UPN Veteran Jogja, Simak Tips dan Manfaatnya

Dokumen ini wajib disusun sebelum sebuah objek ditetapkan sebagai cagar budaya karena memuat analisis historis, sosial, arsitektural, dan dampak perubahan terhadap nilai warisan.

Rehabilitasi Wajib Mengikuti Kaidah Kebudayaan

Walaupun bukan BCB terdaftar, setiap rencana perbaikan atau pembangunan ulang Jembatan Kewek tetap harus mengikuti pedoman konservasi. Pemerintah memastikan bahwa rehabilitasi jembatan tetap mempertahankan f asa d historis dan karakter lamanya, meski bagian dalam atau struktur dasarnya bisa diperkuat dengan teknologi modern.

Bahkan, Dinas Kebudayaan DIY telah menegaskan bahwa setiap langkah renovasi tetap harus melewati pengkajian kebudayaan. Hal ini penting agar jembatan tidak kehilangan identitas visual yang telah melekat pada masyarakat Jogja.

Situasi kritis Jembatan Kewek juga menjadi perhatian serius pemimpin daerah. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, siang itu datang langsung ke Balai Kota Jogja untuk mengadakan rapat dengan Pemkot. Salah satu agenda utamanya adalah membahas kondisi Jembatan Kewek beserta isu kawasan Malioboro.

Daftar Jembatan Cagar Budaya Resmi di Jogja

Lalu, jika Jembatan Kewek bukan bagian dari daftar jembatan cagar budaya, mana saja jembatan yang telah diakui secara resmi? Berikut beberapa jembatan bersejarah di DIY yang telah memperoleh penetapan atau memiliki nilai historis kuat:

Baca juga  Jogja Run'nShine 2025 Ajak Pelari Nikmati Kearifan Lokal dan Beri Energi Positif

1. Jembatan Rel Kereta Api Pangukan, Sleman

Jembatan ini terkenal karena sistem konstruksinya yang unik. Struktur roll dan engsel dirancang untuk meredam getaran akibat kereta api yang melintas. Jembatan ini menjadi bukti penting jalur KA Yogya–Magelang pada masa lalu.

2. Jembatan Duwet, Kulon Progo

Telah berstatus Cagar Budaya Peringkat Provinsi, jembatan ikonik ini menghubungkan Kulon Progo dan Magelang. Bentuknya yang khas dan lokasi yang fotogenik membuatnya banyak dikunjungi wisatawan.

3. Jembatan Kreteg Abang Madukismo, Bantul

Dibangun sekitar 1955-1956, jembatan baja ini menggunakan paku keling, mengikuti teknologi konstruksi era Pabrik Gula Madukismo. Nilai sejarahnya sangat erat dengan perkembangan industri gula di Bantul.

4. Jembatan Kereta Api Winongo, Bantul

Struktur baja dengan bantalan kayu yang berada di atas Sungai Winongo ini merupakan bagian dari jalur kereta api masa kolonial. Meski tidak seterkenal lainnya, jembatan ini menyimpan kekhasan teknik konstruksi yang menarik.

Apakah Jembatan Kewek Termasuk Cagar Budaya?

Jawabannya adalah belum. Hingga kini, Jembatan Kewek tidak masuk daftar resmi cagar budaya di Yogyakarta karena belum pernah didaftarkan dan belum melalui kajian ADWB/HIA.

Walau bukan cagar budaya resmi, Jembatan Kewek tetap dianggap sebagai ikon kota dengan nilai historis yang tinggi. Statusnya yang kompleks inilah yang memicu perhatian publik, terutama ketika kondisinya menurun dan perbaikan besar harus dilakukan tanpa menghilangkan unsur visual lamanya.

Baca juga  Tata Cara Daftar Ulang SPMB/PPDB SMP Kota Jogja 2025

Namun, posisinya di kawasan cagar budaya serta perannya dalam perkembangan kota membuat jembatan ini tetap diperlakukan secara khusus. Proses rehabilitasinya wajib mempertimbangkan nilai historis yang melekat agar keberadaannya tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Jogja.

Dengan perhatian besar pemerintah dan masyarakat, keberlangsungan Jembatan Kewek sebagai ikon visual Jogja diharapkan terus terjaga, sambil memastikan keselamatan pengguna jalan melalui peningkatan struktur jembatan.

***

situs togel

link slot

link slot

slot resmi

toto togel

situs toto

situs gacor

situs toto

link slot

situs toto

situs togel

toto togel

situs togel

situs toto

situs slot

situs toto

situs toto

situs toto

situs togel

situs gacor

situs toto

situs toto

situs slot

situs toto

jacktoto

link slot

situs toto

situs toto

link slot

situs toto

link slot

situs toto

situs toto

situs toto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

situs togel

jacktoto

situs toto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

situs toto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

situs togel

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

situs toto

situs toto

jacktoto

situs togel

situs togel

jacktoto

jacktoto

jacktoto

link slot

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

link slot

jacktoto

link slot

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

situs gacor

jacktoto

jacktoto

jacktoto

jacktoto

situs toto

jacktoto

link slot

link slot

jacktoto

Berita Terbaru

fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus
Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret di Jogja
Fakta Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret, Simbol Perlawanan Indonesia yang Mendunia
Fenomena Kekeringan Gunungkidul
Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

rut-miit-mPaKMvE3sHg-unsplash

Tidak Lolos KIP Kuliah Apakah Bisa Daftar Lagi? Simak Ketentuannya Berikut Ini