
TUGUJOGJA – Yogyakarta memiliki sejumlah kelenteng bersejarah yang menjadi pusat ibadah umat Konghucu sekaligus tempat perayaan hari besar seperti Imlek.
Dari Gondomanan hingga Poncowinatan, setiap kelenteng di Jogja menghadirkan keindahan arsitektur khas Tionghoa, sejarah panjang, dan nuansa spiritual yang tak lekang oleh waktu.
Jogja selama ini identik dengan keraton, batik, dan destinasi budaya Jawa. Namun, di balik itu semua, kota ini juga menyimpan jejak komunitas Tionghoa yang telah berabad-abad menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat. Salah satu buktinya adalah keberadaan kelenteng yang masih aktif digunakan hingga sekarang.
Bukan hanya sebagai tempat ibadah umat Konghucu, kelenteng juga kerap menjadi pusat perayaan tahun baru Imlek, Cap Go Meh, dan ritual keagamaan lainnya. Setiap bangunan kelenteng memiliki keunikan tersendiri, baik dari sisi sejarah, arsitektur, maupun kegiatan rohani yang dijalankan.
Berikut adalah daftar kelenteng di Yogyakarta yang paling terkenal dan tetap lestari hingga kini.
1. Kelenteng Gondomanan (Fuk Ling Miau atau Hok Tik Bio)
Salah satu kelenteng yang paling dikenal di Yogyakarta adalah Kelenteng Gondomanan, yang memiliki nama asli Fuk Ling Miau atau Hok Tik Bio. Nama “Fuk” bermakna berkah, “Ling” berarti tiada tara, dan “Miau” mengacu pada kelenteng itu sendiri.
Kelenteng ini berada di Jalan Brigjen Katamso No. 3, Prawirodirjan, Gondomanan, dan menurut catatan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah digunakan sejak tahun 1900.
Menariknya, bangunan kelenteng ini dulunya merupakan rumah yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk permaisurinya yang berasal dari Tiongkok.
Perpaduan budaya Jawa dan Tiongkok begitu terasa dalam desainnya. Nuansa Tionghoa tampak jelas pada ukiran, ornamen, serta patung-patung dewa, sementara sentuhan Jawa terlihat pada bentuk atap sumur langit. Walaupun usianya sudah sangat tua, kelenteng ini tetap aktif sebagai pusat ibadah umat Konghucu.
Setiap perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek, kelenteng ini selalu ramai. Pada tahun 2024, misalnya, digelar acara khusus dengan rangkaian ibadah bersama, penyalaan lilin, hingga pemukulan tambur dan lonceng tepat tengah malam sebagai tanda pergantian tahun baru Imlek.
2. Vihara Karangdjati
Tempat ibadah lain yang juga penting bagi umat Buddha dan Konghucu di Jogja adalah Vihara Karangdjati. Lokasinya berada di Jalan Monjali No. 78, Gemawang, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Tempat ini dikenal sebagai vihara tertua kedua di Yogyakarta.
Vihara ini resmi menggunakan nama Vihara Buddha Karangdjati pada tahun 1962. Awalnya, tempat ini tidak terikat dengan aliran tertentu, namun kemudian lebih dekat dengan ajaran Theravada.
Suasana di sekitar vihara yang dikelilingi area persawahan membuatnya terasa tenang dan cocok sebagai tempat peribadatan maupun meditasi.
Setiap tahun, vihara ini juga menggelar perayaan Imlek dengan beragam kegiatan. Tidak hanya ibadah bersama, tetapi juga ada pentas seni, penampilan barongsai, hingga acara berbagi kado dan pohon angpao. Hal ini membuat suasana Imlek semakin semarak dan menjadi ruang kebersamaan lintas umat.
3. Kelenteng Poncowinatan (Kwan Tee Kiong)
Kelenteng tertua sekaligus paling legendaris di Yogyakarta adalah Kelenteng Kwan Tee Kiong, atau lebih populer dengan sebutan Kelenteng Poncowinatan.
Bangunan ini berdiri sejak tahun 1879 atas prakarsa masyarakat Tionghoa dengan lahan hibah dari Sultan Hamengku Buwono VII.
Kelenteng yang beralamat di Jalan Poncowinatan No. 12–18, Gowongan, Kecamatan Jetis, memiliki orientasi menghadap ke selatan, sebagai simbol penghormatan terhadap Keraton Yogyakarta. Kompleks kelenteng ini cukup luas dan terdiri dari beberapa bagian.
Bangunan utama digunakan untuk pemujaan dan terdiri dari ruang suci serta tempat tinggal penjaga. Di sisi timur terdapat ruang khusus dengan patung Fuk Tek Cen Sen, sementara di bagian utara terdapat patung Dewi Kwan Im, Sidharta Buddha Gautama, hingga Manjusri Bodhisatwa.
Selain itu, di area barat terdapat bangunan untuk kegiatan pendidikan, sedangkan bagian timur berupa halaman terbuka yang biasa digunakan untuk latihan fisik.
Kelenteng ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga saksi sejarah panjang keberadaan komunitas Tionghoa di Yogyakarta. Sampai sekarang, Kelenteng Poncowinatan tetap hidup dengan berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya.
Menjaga Keharmonisan di Tanah Budaya
Keberadaan kelenteng di Yogyakarta menunjukkan bahwa kota ini tidak hanya kaya dengan tradisi Jawa, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai budaya dan keyakinan.
Dari Kelenteng Gondomanan yang sarat sejarah, Vihara Karangdjati dengan suasananya yang damai, hingga Kelenteng Poncowinatan yang melegenda, semuanya menjadi bukti nyata keberagaman yang terjalin harmonis.
Bagi umat Konghucu, kelenteng adalah tempat suci untuk memperkuat iman dan melakukan ritual. Namun, bagi masyarakat luas, keberadaan kelenteng juga membuka kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi Tionghoa serta nilai-nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi.
Jadi, jika Anda sedang berada di Yogyakarta, jangan ragu untuk menyempatkan diri mengunjungi kelenteng-kelenteng ini. Selain berwisata, Anda juga akan mendapat pengalaman spiritual sekaligus pelajaran berharga tentang harmoni dalam keberagaman.
***