Daftar Kelenteng dan Vihara di Jogja untuk Ibadah Umat Konghucu dan Buddha, Mana Saja?

Bagikan :
Ilustrasi Daftar Kelenteng dan Vihara di Jogja untuk Ibadah Umat Konghucu dan Buddha, Mana Saja?/Unsplash

TUGUJOGJA – Yogyakarta memiliki sejumlah kelenteng bersejarah yang menjadi pusat ibadah umat Konghucu sekaligus tempat perayaan hari besar seperti Imlek.

Dari Gondomanan hingga Poncowinatan, setiap kelenteng di Jogja menghadirkan keindahan arsitektur khas Tionghoa, sejarah panjang, dan nuansa spiritual yang tak lekang oleh waktu.

 

Jogja selama ini identik dengan keraton, batik, dan destinasi budaya Jawa. Namun, di balik itu semua, kota ini juga menyimpan jejak komunitas Tionghoa yang telah berabad-abad menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat. Salah satu buktinya adalah keberadaan kelenteng yang masih aktif digunakan hingga sekarang.

Bukan hanya sebagai tempat ibadah umat Konghucu, kelenteng juga kerap menjadi pusat perayaan tahun baru Imlek, Cap Go Meh, dan ritual keagamaan lainnya. Setiap bangunan kelenteng memiliki keunikan tersendiri, baik dari sisi sejarah, arsitektur, maupun kegiatan rohani yang dijalankan.

Berikut adalah daftar kelenteng di Yogyakarta yang paling terkenal dan tetap lestari hingga kini.

1. Kelenteng Gondomanan (Fuk Ling Miau atau Hok Tik Bio)

Salah satu kelenteng yang paling dikenal di Yogyakarta adalah Kelenteng Gondomanan, yang memiliki nama asli Fuk Ling Miau atau Hok Tik Bio. Nama “Fuk” bermakna berkah, “Ling” berarti tiada tara, dan “Miau” mengacu pada kelenteng itu sendiri.

Kelenteng ini berada di Jalan Brigjen Katamso No. 3, Prawirodirjan, Gondomanan, dan menurut catatan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah digunakan sejak tahun 1900.

Baca juga  Link Twibbon Hari Pers Nasional 2026 Lengkap, Sejarah HPN, dan Cara Downloadnya

Menariknya, bangunan kelenteng ini dulunya merupakan rumah yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II untuk permaisurinya yang berasal dari Tiongkok.

Perpaduan budaya Jawa dan Tiongkok begitu terasa dalam desainnya. Nuansa Tionghoa tampak jelas pada ukiran, ornamen, serta patung-patung dewa, sementara sentuhan Jawa terlihat pada bentuk atap sumur langit. Walaupun usianya sudah sangat tua, kelenteng ini tetap aktif sebagai pusat ibadah umat Konghucu.

Setiap perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek, kelenteng ini selalu ramai. Pada tahun 2024, misalnya, digelar acara khusus dengan rangkaian ibadah bersama, penyalaan lilin, hingga pemukulan tambur dan lonceng tepat tengah malam sebagai tanda pergantian tahun baru Imlek.

2. Vihara Karangdjati

Tempat ibadah lain yang juga penting bagi umat Buddha dan Konghucu di Jogja adalah Vihara Karangdjati. Lokasinya berada di Jalan Monjali No. 78, Gemawang, Sinduadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Tempat ini dikenal sebagai vihara tertua kedua di Yogyakarta.

Vihara ini resmi menggunakan nama Vihara Buddha Karangdjati pada tahun 1962. Awalnya, tempat ini tidak terikat dengan aliran tertentu, namun kemudian lebih dekat dengan ajaran Theravada.

Suasana di sekitar vihara yang dikelilingi area persawahan membuatnya terasa tenang dan cocok sebagai tempat peribadatan maupun meditasi.

Setiap tahun, vihara ini juga menggelar perayaan Imlek dengan beragam kegiatan. Tidak hanya ibadah bersama, tetapi juga ada pentas seni, penampilan barongsai, hingga acara berbagi kado dan pohon angpao. Hal ini membuat suasana Imlek semakin semarak dan menjadi ruang kebersamaan lintas umat.

Baca juga  Kasus Mafia Tanah Mbah Tupon Memasuki Tahap II, Polda DIY Serahkan Enam Tersangka ke Kejati DIY, Satu Lagi Menyusul

3. Kelenteng Poncowinatan (Kwan Tee Kiong)

Kelenteng tertua sekaligus paling legendaris di Yogyakarta adalah Kelenteng Kwan Tee Kiong, atau lebih populer dengan sebutan Kelenteng Poncowinatan.

Bangunan ini berdiri sejak tahun 1879 atas prakarsa masyarakat Tionghoa dengan lahan hibah dari Sultan Hamengku Buwono VII.

Kelenteng yang beralamat di Jalan Poncowinatan No. 12–18, Gowongan, Kecamatan Jetis, memiliki orientasi menghadap ke selatan, sebagai simbol penghormatan terhadap Keraton Yogyakarta. Kompleks kelenteng ini cukup luas dan terdiri dari beberapa bagian.

Bangunan utama digunakan untuk pemujaan dan terdiri dari ruang suci serta tempat tinggal penjaga. Di sisi timur terdapat ruang khusus dengan patung Fuk Tek Cen Sen, sementara di bagian utara terdapat patung Dewi Kwan Im, Sidharta Buddha Gautama, hingga Manjusri Bodhisatwa.

Selain itu, di area barat terdapat bangunan untuk kegiatan pendidikan, sedangkan bagian timur berupa halaman terbuka yang biasa digunakan untuk latihan fisik.

Kelenteng ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga saksi sejarah panjang keberadaan komunitas Tionghoa di Yogyakarta. Sampai sekarang, Kelenteng Poncowinatan tetap hidup dengan berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya.

Menjaga Keharmonisan di Tanah Budaya

Keberadaan kelenteng di Yogyakarta menunjukkan bahwa kota ini tidak hanya kaya dengan tradisi Jawa, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai budaya dan keyakinan.

Dari Kelenteng Gondomanan yang sarat sejarah, Vihara Karangdjati dengan suasananya yang damai, hingga Kelenteng Poncowinatan yang melegenda, semuanya menjadi bukti nyata keberagaman yang terjalin harmonis.

Baca juga  6 Tantangan Pengendalian Penduduk dalam Grand Design Pembangunan Kependudukan Kota Yogyakarta

Bagi umat Konghucu, kelenteng adalah tempat suci untuk memperkuat iman dan melakukan ritual. Namun, bagi masyarakat luas, keberadaan kelenteng juga membuka kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi Tionghoa serta nilai-nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi.

Jadi, jika Anda sedang berada di Yogyakarta, jangan ragu untuk menyempatkan diri mengunjungi kelenteng-kelenteng ini. Selain berwisata, Anda juga akan mendapat pengalaman spiritual sekaligus pelajaran berharga tentang harmoni dalam keberagaman.

***

penidabet

situs togel

situs togel

slot gacor

situs togel

situs togel

toto togel

situs gacor

toto togel

situs togel

situs togel

toto togel

toto togel

situs togel

toto slot

slot gacor

situs hk pools

situs hk pools

situs togel

situs togel

situs togel

situs togel

situs togel

toto togel

toto togel

situs togel

situs togel

toto togel

slot gacor

toto togel

toto togel

toto togel

toto togel

toto togel

toto togel

toto togel

toto togel

toto togel

toto togel

situs hk pools

situs slot gacor

link slot

situs slot gacor

slot gacor

toto togel

toto togel

situs slot

situs slot

situs slot

toto togel

link slot

situs togel

situs hk pools

link slot

situs slot gacor

slot gacor

toto togel

toto togel

link slot

link slot

Berita Terbaru

kulinarea-1
Kulinarea 2026 Hadir di GIK UGM, Festival Kuliner yang Satukan Pelaku Industri hingga Pecinta Kuliner
images (14)
Panduan Rute ke KVille Kaliurang dari Pusat Kota Yogyakarta, Lewat Mana yang Paling Mudah?
fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

film pendek mijil

Film Pendek “Mijil” Angkat Kisah Tiga Pemuda Candirejo Ubah Lahan Kering Jadi Sentra Bawang Merah