Antisipasi Dampak Inflasi dari MBG, Bupati Gunungkidul Siapkan Program Ketahanan Pangan Keluarga

Bagikan :
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih/Foto: Istimewa

KabarJawa.com— Pemerintah daerah mencium tanda-tanda kenaikan harga bahan pokok seiring dengan beroperasinya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat.

Di tengah situasi yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi masyarakat bawah, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengambil langkah cepat dan berani: menyiapkan program ketahanan pangan keluarga.

Bupati Endah menyadari bahwa ketika seluruh 59 dapur MBG di Gunungkidul beroperasi setiap hari, kebutuhan akan bahan pangan seperti telur, sayur, dan bumbu dapur akan melonjak tajam. Jika semua dapur operasi setiap hari, pasti ada permintaan besar.

“Warga bisa punya uang, tapi barangnya bisa hilang dari pasar. Uang ada, telur mahal, sayur habis,” tegasnya.

Antisipasi Dampak Inflasi dari MBG

Ia menilai, inflasi bukan sekadar angka di kertas statistik, tapi ancaman nyata bagi dapur masyarakat kecil. Oleh karena itu, Pemkab Gunungkidul tak mau berpangku tangan.

Salah satu program konkret yang segera meluncur adalah Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga, setiap rumah tangga akan memelihara ayam petelur dan menanam sayuran di pekarangan.

Baca juga  Tarif Listrik PLN Triwulan IV 2025: Pemerintah Pastikan Harga Tetap Stabil hingga Akhir Tahun

Antisipasi dampak inflasi dari MBG itu bukan tanpa dasar. Bupati Endah mengungkapkan bahwa tim protokol Pemkab Gunungkidul telah melakukan uji coba pemeliharaan ayam di rumah tangga.

“Dari delapan ekor ayam saja, setiap hari bisa menghasilkan 6 butir telur. Padahal hanya dipelihara oleh keluarga kecil. Artinya, kalau ini dilakukan massal, kebutuhan telur bisa tercukupi tanpa tergantung pasar,” paparnya.

Tak hanya berhenti di situ, Pemkab Gunungkidul juga menyiapkan skema distribusi melalui Koperasi Merah Putih. Masyarakat yang memiliki hasil ternak atau panen sayuran dapat menitipkan atau menjualnya ke koperasi tersebut.

“Kalau masyarakat melakukan ini dan menitipkan hasilnya ke Koperasi Merah Putih, tidak akan ada dapur MBG yang kekurangan bahan. Gizi warga terpenuhi, bahan tersedia, dan harga stabil,” kata Endah.

Bupati Endah memperingatkan bahwa lonjakan kebutuhan bahan pokok bisa membuat pasar tradisional sepi dan harga melambung tinggi.

Ia memprediksi, permintaan besar dari 59 dapur MBG yang harus memasak untuk 174.900 penerima manfaat akan menyerap pasokan dari petani dan peternak lokal secara masif.

Baca juga  Longsor Tanjakan Clongop Gunungkidul, Bupati Endah Minta Perbaikan Selesai sebelum Lebaran

“Kalau kita tidak siapkan sejak sekarang, bisa-bisa lombok, tomat, dan telur diserbu tengkulak dari luar daerah. Petani lokal malah kehabisan stok,” ujarnya lantang.

Ia menyebut, daerah lain seperti Wonosobo, Wonogiri, dan Magelang juga tengah membatasi pengiriman sayur ke luar wilayah demi menjaga ketersediaan pangan lokal.

Oleh karena itu, Gunungkidul perlu bertindak cepat agar dapur MBG tetap beroperasi tanpa menekan pasar.

KWT dan Lumbung Mataraman jadi Garda Terdepan

Dalam skema ketahanan pangan keluarga ini, Kelompok Wanita Tani (KWT) mendapat peran sentral. Sebanyak 20 persen anggaran kelurahan akan mendukung kegiatan ketahanan pangan.

“KWT kami minta menanam sayur dan cabai di pekarangan. Kemudian hasilnya bisa dijual ke koperasi atau dipakai sendiri. Begitu juga dengan Lumbung Mataraman yang sudah kami bentuk, itu akan menjadi sumber bahan pangan lokal,” jelas Bupati Endah.

Ia percaya, dengan gerakan kolektif dari tingkat keluarga hingga kelurahan, Gunungkidul bisa menjadi contoh daerah yang tangguh menghadapi gejolak harga.

“Kalau semua bergerak, insyaallah tidak ada dapur yang kekurangan bahan. Semua akan terpenuhi sesuai edaran Menteri Dalam Negeri,” tegasnya.

Baca juga  Bupati Gunungkidul Tegaskan Kopdes Merah Putih Bukan Lembaga Sosial, Tapi Mesin Ekonomi Desa

Ketika daerah lain masih menunggu arah kebijakan pusat, Gunungkidul justru melangkah lebih dulu. Bupati Endah memimpin dengan strategi yang berpijak pada kemandirian lokal.

Ia ingin memastikan bahwa setiap keluarga memiliki cadangan pangan, setiap dapur tetap berasap, dan setiap anak tetap mendapat gizi seimbang.

“Kalau sekarang belum terasa, tunggu saja nanti saat harga mulai naik. Dari sekarang kita siapkan semuanya,” katanya. (ef linangkung)

slot gacor

toto togel

situs togel

link slot

toto togel

situs slot

toto togel

toto togel

situs hk pools

situs slot gacor

toto togel

situs slot gacor

situs togel

situs togel

slot gacor

toto togel

situs slot

situs hk pools

situs hk pools

situs togel

situs togel

toto togel

situs togel

situs slot

situs slot

jakartahoki

toto togel

situs slot

toto togel

slot gacor

toto togel

toto togel

toto togel

Berita Terbaru

fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus
Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret di Jogja
Fakta Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret, Simbol Perlawanan Indonesia yang Mendunia
Fenomena Kekeringan Gunungkidul
Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

rut-miit-mPaKMvE3sHg-unsplash

Tidak Lolos KIP Kuliah Apakah Bisa Daftar Lagi? Simak Ketentuannya Berikut Ini