
TUGUJOGJA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DIY mencatat pertumbuhan ekspor sebesar 11,27 persen sepanjang Januari hingga April 2025. Kepala BPS DIY, Ir. Herum Fajarwati, M.M., menyampaikan bahwa ekspor DIY mencapai nilai US$175,97 juta, naik dari US$158,15 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Amerika Serikat mempertahankan posisinya sebagai negara tujuan ekspor utama dengan nilai mencapai US$72,93 juta atau setara 41,44 persen dari total ekspor.
Jerman dan Jepang masing-masing mencatatkan nilai ekspor US$22,25 juta dan US$15,48 juta. Jadi, secara kumulatif, ketiga negara ini menyerap 64,95 persen total ekspor pada April 2025.
Kepala BPS DIY mengungkapkan bahwa ekspor ke Uni Eropa tumbuh sebesar 22,76 persen secara tahunan (c-to-c). Kontribusi kawasan ini mencapai 27 persen, menjadikannya kawasan tujuan ekspor strategis setelah Amerika Serikat.
Vietnam menjadi negara dengan lonjakan ekspor tertinggi, yaitu sebesar 327,27 persen. Herum menyebut bahwa ekspor ke kawasan ASEAN secara keseluruhan juga mengalami kenaikan sebesar 41,19 persen, meskipun porsinya terhadap total ekspor masih tergolong kecil, yakni 2,96 persen.
Kontributor Terbesar Ekspor DIY
BPS DIY mencatat pakaian dan aksesori (bukan rajutan) menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekspor DIY, dengan nilai US$66,28 juta atau setara 37,66 persen dari total ekspor.
Pakaian rajutan menyusul di urutan kedua sebesar US$24,18 juta (13,74 persen), diikuti perabotan rumah tangga, lampu, dan alat penerangan sebesar US$18,71 juta (10,63 persen).
Komoditas seperti barang dari kulit, anyaman, kayu, dan kosmetik juga menunjukkan kontribusi signifikan. BPS DIY mencatat bahwa 10 golongan barang utama menyumbang 93,22 persen dari total ekspor.
Ir. Herum Fajarwati menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan masih mendominasi dengan kontribusi 99,31 persen. Sektor ini meninggalkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang hanya berkontribusi 0,69 persen.
Secara tahunan, ekspor industri pengolahan tumbuh sebesar 11,24 persen, sedangkan sektor pertanian tumbuh 15,09 persen.
BPS DIY melaporkan bahwa sebanyak 70,95 persen komoditas ekspor DIY dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Emas di Jawa Tengah. DKI Jakarta menempati urutan kedua dengan kontribusi pengiriman 28,20 persen, lalu Jawa Timur dan Bali dengan persentase masing-masing di bawah 1 persen.
Ekspor April 2025 Mengalami Penurunan Bulanan
Walaupun terjadi peningkatan ekspor secara tahunan, Herum mencatat bahwa ekspor pada April 2025 mengalami penurunan dibanding Maret 2025. Nilainya turun dari US$46,33 juta menjadi US$38,83 juta atau merosot 16,19 persen.
Penurunan ini disebabkan turunnya nilai ekspor dari beberapa komoditas utama seperti kertas, karton, dan barang sejenis. Nilai anjlok sebesar US$1,48 juta atau turun 63,52 persen daripada bulan sebelumnya.
Namun demikian, komoditas seperti barang dari batu, semen, asbes, atau mika justru mengalami kenaikan tertinggi secara bulanan, yaitu sebesar US$0,22 juta atau 19,64 persen.
Secara keseluruhan, neraca perdagangan DIY pada April 2025 mencatat surplus sebesar US$21,28 juta. Meski nilai ini lebih kecil dari surplus April 2024 (US$21,12 juta), tren surplus tetap menunjukkan bahwa ekspor masih lebih tinggi daripada impor.
Sepanjang Januari hingga April 2025, neraca perdagangan DIY mencatatkan total surplus sebesar US$110,45 juta. Herum menekankan bahwa kondisi ini menunjukkan daya saing ekspor DIY masih sangat kuat di pasar internasional. (ef linangkung)