Jamaah Bintaran Kulon Ciptakan Minuman Herbal Rempah Sangaji demi Memakmurkan Masjid

Bagikan :
Minuman Herbal Rempah Sangaji/Foto: Istimewa

TUGUJOGJA-Semangat tak biasa lahir dari halaman Masjid Al-Kautsar, Dusun Bintaran Kulon, Srimulyo, Piyungan. Jamaah di masjid ini tidak hanya beribadah, tetapi juga membangun mimpi besar: memakmurkan masjid dengan jalan wirausaha.

Dari cita-cita sederhana itu, lahirlah minuman herbal bernama Rempah Sangaji, yang kini mulai dikenal luas hingga luar daerah.

Pengurus Masjid Al-Kautsar menolak menjadikan rumah ibadah ini sekadar bergantung pada kotak infak. Mereka menyalakan tekad agar masjid berdiri dengan martabat, memberi manfaat, dan tidak hanya menerima.

“Kami ingin masjid tidak tangan di bawah, tidak bergantung pada infak. Yang ada, kami ingin masjid itu ya memberi,” tegas Iki Tabah, marketing Rempah Sangaji, ketika ditemui di sela produksi.

Produksi Minuman Herbal Rempah Sangaji

Program wirausaha Masjid Al-Kautsar awalnya mengajak jamaah laki-laki yang belum memiliki keterampilan bisnis. Para bapak terdorong turun langsung memproduksi minuman tradisional. Kebetulan, salah seorang jamaah berpengalaman lama dalam dunia jamu. Ia pun diminta menyusun formula sekaligus melatih jamaah mengolah rempah.

Baca juga  Rekayasa Lalu Lintas Reuni 212 Jakarta Sore Ini, Hindari Jalan-jalan Berikut Agar Tidak Terjebak Macet

“Jamu sejatinya warisan budaya luar biasa. Problemnya, anak muda sekarang kurang akrab dengan jamu. Mereka menganggap jamu tidak populer, bahkan kadang tidak enak,” ujar Iki.

Masalah klasik itu akhirnya menjadi inspirasi lahirnya Rempah Sangaji. Produk ini menawarkan jamu dengan cita rasa modern, tetap berkhasiat, dan bisa diterima lidah lintas generasi.

April 2025 menjadi tonggak sejarah berdirinya Rempah Sangaji. Produk pertama yang lahir adalah jahe rempah premium. Tak butuh waktu lama, hanya lima bulan kemudian, lini produknya meledak hingga tujuh varian.

Kini mereka menghasilkan jahe premium gula tebu, jahe premium gula aren, kunir asem, beras kencur, wedang bajigur, kopi rempah, dan minuman herbal khusus wanita.

Proses produksi masih berlangsung di dapur sederhana. Setiap pekan, empat hingga lima orang jamaah mengerahkan tenaga. Sekali produksi, mereka mengolah hingga 100 kilogram rempah. Aroma jahe, kunyit, kencur, serai, kapulaga, jintan hitam, cengkeh, dan kayu manis menyeruak, seolah menegaskan kekayaan warisan nusantara.

Kunci Pemasaran

Tidak hanya fokus produksi, Rempah Sangaji juga piawai mengembangkan jaringan pemasaran. Takmir-takmir masjid di Piyungan dan sekitarnya ikut membantu distribusi. Dengan cara ini, setiap botol jamu yang terjual bukan sekadar produk, tetapi juga wujud solidaritas antarjamaah.

Baca juga  Ketika Display Kebudayaan Menambah Meriah Upacara Penurunan Bendera di Istana Negara Yogyakarta

Kini, reseller dan distributor Rempah Sangaji merambah hingga luar daerah. Lampung menjadi salah satu pasar yang mulai akrab dengan racikan minuman herbal khas Bintaran Kulon.

Minuman herbal ini lahir bukan semata bisnis, tetapi gerakan sosial-ekonomi berbasis masjid. Sejak awal, pengurus berkomitmen menyumbangkan 30 persen keuntungan langsung ke kas Masjid Al-Kautsar.

Dana itu tercatat rapi dan dilaporkan setiap bulan, sehingga jamaah merasa percaya dan bangga mendukung usaha ini.

“Laporan keuangan kami buka setiap bulan. Transparansi itu wajib, supaya jamaah yakin bahwa setiap rupiah yang mereka dukung benar-benar kembali untuk kemakmuran masjid,” jelas Iki.

Cerita Rempah Sangaji membuktikan, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan.

Jamaah Bintaran Kulon telah mematahkan stigma bahwa rumah ibadah hanya bisa bergantung pada donasi. Mereka menunjukkan bahwa kreativitas, kerja keras, dan persatuan mampu melahirkan usaha produktif. (ef linangkung)

Berita Terbaru

fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus
Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret di Jogja
Fakta Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret, Simbol Perlawanan Indonesia yang Mendunia
Fenomena Kekeringan Gunungkidul
Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

film pendek mijil

Film Pendek “Mijil” Angkat Kisah Tiga Pemuda Candirejo Ubah Lahan Kering Jadi Sentra Bawang Merah