
TUGUJOGJA– Hujan deras yang mengguyur wilayah Panggang pada Minggu (23/11/2025) kembali memperlihatkan rentannya infrastruktur di pesisir selatan Gunungkidul.
Kali ini, Jembatan Kedungdawa di Padukuhan Pacar II, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, tergenang air hingga permukaannya tak lagi terlihat.
Air bah dari sungai yang meluap menutup total jembatan yang menjadi jalur vital penghubung Panggang–Paliyan, sehingga akses masyarakat sempat terputus selama beberapa waktu.
Keadaan Jembatan Kedungdawa Pacar II
Derasnya aliran air yang berubah menjadi banjir dadakan terekam jelas dalam unggahan akun Instagram @mubeng-mubengjogja.
Video itu memperlihatkan air berwarna cokelat pekat menutup seluruh badan jembatan, sementara warga hanya bisa menyaksikan dari kejauhan tanpa mampu melintas.
Beberapa penduduk menyebut kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi. Setiap musim hujan tiba,
ini hampir selalu tenggelam, tapi penanganan permanen tak kunjung datang meski sudah berkali-kali mereka usulkan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, mengaku sudah menerima laporan banjir tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Jembatan Kedungdawa memang dibangun dengan konsep crossway, yakni model bangunan yang sengaja dirancang agar air dapat melintas di atasnya ketika sungai meluap.
“Kalau konsep crossway itu memang untuk aliran air ketika banjir meluap. Dulu daerah itu kondisi darurat, lalu kami buat crossway agar warga tetap bisa melintas,” ujar Rakhmadian.
Ia menegaskan bahwa meski jembatan tergenang, warga masih memiliki jalur alternatif. Jalur memutar ini memang membuat perjalanan lebih panjang.
Namun, jalur tersebut tetap memungkinkan mobilitas penduduk yang ingin menuju Paliyan atau kembali ke Panggang.
Di sisi lain, Rakhmadian membuka peluang pembangunan jembatan permanen apabila masuk dalam prioritas penganggaran daerah.
Ia menyatakan hal itu bisa dilakukan jika pemerintah desa maupun camat mengajukan usulan secara resmi dan sesuai dengan kemampuan anggaran.
“Kalau nanti diusulkan lewat pemerintah desa dan camat, kami akan mempertimbangkannya. Selama ada anggaran dan menjadi prioritas, bisa kami masukkan. Untuk saat ini belum menjadi prioritas,” jelasnya.
Struktur Jembatan
Dari lokasi kejadian, Dukuh Pacar II, Supatman, membenarkan bahwa genangan air memang menjadi masalah tahunan bagi warganya.
Dalam musim hujan, jembatan setinggi beberapa puluh sentimeter itu sering tak mampu menahan derasnya air sungai.
“Terkhusus musim hujan, itu sering tergenang. Jadi warga harus muter cukup jauh, kira-kira lewat empat padukuhan,” ujar Supatman, Senin (24/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa struktur jembatan sepanjang sekitar 40 meter dan lebar 4 meter itu sebenarnya masih cukup kuat.
Namun, bagian bawah sisi barat jembatan mulai terkikis karena debit air yang terus-menerus melampaui tinggi permukaan jembatan setiap kali hujan besar turun. Kondisi ini membuat warga semakin khawatir jika suatu saat terjadi kerusakan lebih besar.
Supatman menyebut pemerintah kalurahan telah menganggarkan biaya pemeliharaan rutin untuk mencegah kerusakan bertambah parah.
Namun, untuk usulan perbaikan besar atau pembangunan ulang dalam bentuk jembatan permanen, pihaknya belum mengajukan secara formal.
“Baru usulan lisan saja ke Pak Lurah, belum disetujui,” tambahnya.
Kondisi Jembatan Kedungdawa hari ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur darurat yang dibangun beberapa tahun lalu kini semakin tak mampu meladeni curah hujan ekstrem.
Warga berharap pemerintah segera bergerak agar akses mereka tidak terus terputus setiap musim hujan datang. (ef linangkung)