
TUGUJOGJA – Pemerintah Kota Yogyakarta mencatat capaian positif dalam upaya menekan angka anemia di masyarakat. Pada 2023, kasus anemia tercatat sebanyak 2.844 kasus, kemudian turun menjadi 2.495 kasus pada 2024.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber Jambore Puskesmas Nasional ke-2 (JAMPUSNAS) yang diselenggarakan Asosiasi Puskesmas Seluruh Indonesia (APKESMI) di Hotel Alana Yogyakarta.
Hasto mengatakan anemia bukan sekadar persoalan medis, tetapi indikator penting kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Penurunan kasus ini disebutnya sebagai bukti kolaborasi berbagai pihak, mulai dari puskesmas hingga satuan pendidikan.
“Situasi anemia di Kota Yogyakarta menunjukkan tren penurunan dan ini hasil kerja nyata seluruh pihak, terutama puskesmas dan sekolah,” ujarnya.
Pemkot Intensifkan Gerakan Aksi Bergizi
Pemkot Yogyakarta terus mendorong Gerakan Aksi Bergizi di seluruh sekolah untuk menjaga penurunan kasus tetap berkelanjutan. Program ini melibatkan lintas perangkat daerah dan bertujuan membentuk pola hidup sehat bagi peserta didik.
“Upaya kami bukan hanya melakukan pemeriksaan, tetapi menciptakan kebiasaan sehat yang berkelanjutan di sekolah. Ini kolaboratif, melibatkan sekolah, tenaga kesehatan, hingga orang tua,” lanjut Hasto.
Kegiatan dalam Gerakan Aksi Bergizi meliputi senam atau aktivitas fisik minimal sekali seminggu, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri SMP dan SMA setiap minggu, serta edukasi konsumsi makanan bergizi melalui sarapan atau makan bersama minimal sekali seminggu.
Pemerintah juga melaksanakan skrining kadar Hemoglobin (Hb) secara rutin untuk mendeteksi dini potensi anemia. Siswa yang mengalami anemia akan mendapat tablet tambah darah serta pemantauan kondisi secara berkala.
“Dalam kondisi tertentu, pasien dapat dirujuk ke puskesmas untuk penanganan lebih lanjut. Pemantauan dilakukan selama dua hingga empat minggu. Jika kondisi tidak membaik, pasien akan dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.
Peran UKS Jadi Garda Terdepan Pencegahan Anemia
Hasto menambahkan bahwa optimalisasi peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi bagian penting dalam menekan angka anemia. UKS diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas administratif, tetapi pusat edukasi dan layanan kesehatan preventif di sekolah.
“Kami mendorong seluruh sekolah untuk memaksimalkan UKS, bukan hanya sebagai fasilitas administratif, tapi benar-benar menjadi pusat edukasi dan pelayanan kesehatan preventif di sekolah,” tegasnya.
Ia berharap UKS mampu terhubung dengan kegiatan belajar-mengajar sehingga budaya hidup sehat dapat terbentuk secara konsisten di lingkungan sekolah.
Melalui berbagai inovasi tersebut, Hasto berharap Kota Yogyakarta dapat melahirkan generasi muda yang sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Ia juga menyampaikan pentingnya sinergi layanan puskesmas, sekolah, dan masyarakat.
“Transformasi layanan puskesmas harus berjalan seiring dengan lingkungan sekolah dan masyarakat agar pembangunan kesehatan dapat tercapai secara menyeluruh,” katanya.
JAMPUSNAS II APKESMI diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah. Forum ini menjadi ruang berbagi praktik baik dan strategi memperkuat peran puskesmas sebagai garda depan layanan kesehatan masyarakat di era transformasi sistem kesehatan nasional.
Melalui forum tersebut, Pemkot Yogyakarta menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi lintas sektor serta menjaga kesehatan generasi muda.