TUGU JOGJA –ย Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) terus meluas. Hingga Kamis (24/9/2026) sore, api telah membakar area sekitar 60 hektare di Blok Gentong, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Petugas pertama kali menemukan kebakaran pada Selasa (22/9/2026). Saat itu, api membakar sekitar 4 hingga 5 hektare kawasan hutan di Blok Gentong, Dusun Jengglik, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung.
Dalam waktu dua hari, luas area terdampak meningkat tajam. Api terus bergerak menuju kawasan yang lebih tinggi di lereng Gunung Merapi. Pergerakan tersebut membuat petugas menghadapi medan yang semakin sulit untuk mengendalikan kobaran api.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), T. Heri Wibowo, menyebut kebakaran berkembang cukup cepat sejak pertama kali terdeteksi. Pada Rabu (23/9/2026) malam, petugas memperkirakan luas kawasan yang terbakar telah mencapai 25 hingga 30 hektare.
“Semula hanya sekitar 4 sampai 5 hektare,” kata Heri.
Pemantauan pada Kamis sore kembali menunjukkan peningkatan luas area terdampak hingga sekitar 60 hektare. Perkembangan tersebut menunjukkan api masih bergerak dan belum sepenuhnya dapat dikendalikan.
Kobaran api tidak hanya menyebar di sekitar lokasi awal kebakaran. Api juga bergerak menuju kawasan yang lebih tinggi di lereng Gunung Merapi.
Berdasarkan pemantauan petugas di lapangan, titik api yang sebelumnya berada sekitar 7 hingga 8 kilometer dari puncak Gunung Merapi kini mendekati radius sekitar 5 kilometer.
Pergerakan api menuju kawasan atas menjadi perhatian karena kondisi medan semakin berat. Lereng yang curam membatasi akses petugas dan kendaraan pendukung menuju sejumlah titik kebakaran.
Petugas harus menyesuaikan pola penanganan dengan kondisi medan. Mereka tidak hanya mengejar kobaran api yang terlihat dari permukaan, tetapi juga mencari bara yang masih bertahan di antara tumpukan material kering.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu. Api dapat kembali muncul ketika bara yang tertinggal mendapat suplai oksigen dan tertiup angin.
Personel Gabungan Dikerahkan
Balai TNGM bersama berbagai unsur terus mengerahkan personel untuk menangani kebakaran. Sekitar 300 personel gabungan terlibat dalam operasi pemadaman di kawasan Blok Gentong.
Personel tersebut berasal dari Balai TNGM, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, relawan, serta masyarakat sekitar. Mereka membagi tugas untuk menghadapi kebakaran dari berbagai sisi. Sebagian personel memadamkan api, sementara tim lain melakukan pendinginan, penyekatan, dan penyisiran kawasan.
“Hari ini upaya pemadaman terus dilakukan. Ada sekitar 300 relawan dari berbagai unsur yang terlibat,” ujar Heri.
Keterlibatan banyak unsur memungkinkan petugas memperluas pemantauan di sekitar lokasi kebakaran. Mereka juga berupaya mencegah api bergerak lebih jauh ke kawasan hutan yang belum terdampak.
Tim gabungan terus memantau perkembangan titik api dari waktu ke waktu. Mereka juga menyisir area yang sudah terbakar untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Petugas tidak berhenti setelah berhasil memadamkan kobaran api yang terlihat. Mereka juga melakukan pendinginan pada area yang telah terbakar.
Pendinginan menjadi langkah penting dalam penanganan kebakaran hutan. Material vegetasi kering dapat menyimpan bara dalam waktu tertentu meskipun permukaan area tersebut terlihat sudah tidak mengeluarkan api.
Bara yang tertinggal di bawah serasah dapat kembali menyala ketika angin berembus. Kondisi itu kemudian dapat memunculkan titik api baru di sekitar lokasi sebelumnya.
Karena itu, petugas melakukan penyisiran secara berkala. Mereka memeriksa kawasan yang telah terbakar dan mencari tanda-tanda bara yang masih aktif.
Petugas juga melakukan penyekatan pada area tertentu untuk menghambat pergerakan api. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pengendalian ketika kondisi medan menyulitkan pemadaman secara langsung.
Kondisi vegetasi di kawasan TNGM turut memengaruhi perkembangan kebakaran. Tumpukan serasah atau daun kering yang berada di lantai hutan menyediakan material yang mudah terbakar.
Heri menjelaskan Vegetasi pinus juga mendominasi sejumlah kawasan yang terdampak. Ketika material kering bertemu dengan angin kencang, api dapat bergerak lebih cepat dari satu area ke area lainnya. Kombinasi kondisi tersebut mempercepat penyebaran api.
“Anginnya besar, serasahnya banyak, pinus. Itu menjadi satu kesatuan yang mempercepat,” ujarnya.
Angin juga membuat arah pergerakan api lebih sulit dipastikan. Tiupan angin dapat membawa panas dan memengaruhi bara yang masih berada di antara material kering.
Kondisi itu membuat petugas harus terus menyesuaikan strategi di lapangan. Mereka perlu mengantisipasi kemunculan titik api baru sekaligus menjaga agar kobaran tidak bergerak menuju kawasan yang lebih luas.
Semakin dekat api bergerak menuju kawasan atas Gunung Merapi, semakin berat tantangan yang dihadapi petugas. Medan yang curam menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Kondisi tersebut membatasi pergerakan personel dan menyulitkan kendaraan pendukung untuk mencapai seluruh titik kebakaran.
Petugas harus melakukan penanganan secara hati-hati dengan mempertimbangkan akses menuju lokasi. Mereka juga perlu memantau perubahan arah api yang dapat terjadi akibat kondisi angin.
Jarak titik api dari jalur yang mudah dijangkau membuat proses pengendalian tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat. Tim di lapangan harus menyesuaikan metode pemadaman dengan kondisi masing-masing lokasi.
Di tengah tantangan tersebut, personel gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan. Mereka juga menyisir kawasan untuk menemukan titik api yang belum terlihat dari lokasi pemantauan utama.
Perubahan luas area terdampak menunjukkan cepatnya perkembangan kebakaran di Blok Gentong. Pada Rabu malam, petugas memperkirakan luas kawasan yang terbakar mencapai 25 hingga 30 hektare.
Sehari kemudian, pemantauan terbaru menunjukkan luas area terdampak telah mencapai sekitar 60 hektare. Dengan perkembangan tersebut, petugas menghadapi kawasan kebakaran yang jauh lebih luas dibandingkan saat api pertama kali ditemukan.
Kondisi itu juga memperbesar kebutuhan koordinasi di lapangan. Tim gabungan harus membagi personel untuk menangani sejumlah titik sekaligus, melakukan pendinginan, serta memantau kemungkinan munculnya api baru.
Petugas juga harus menjaga agar kebakaran tidak terus bergerak menuju kawasan lain di lereng Gunung Merapi.
Operasi penanganan kebakaran tidak hanya berfokus pada pemadaman api yang terlihat. Petugas juga melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api dan kondisi vegetasi di sekitarnya.
Penyisiran menjadi salah satu kegiatan penting untuk menemukan bara yang berpotensi menimbulkan kebakaran baru. Tim juga memantau area yang sudah terbakar agar tidak kembali memunculkan kobaran.
Kondisi angin dan banyaknya material kering membuat potensi munculnya titik api baru tetap menjadi perhatian. Karena itu, petugas terus melakukan pendinginan dan pengawasan meskipun sejumlah titik api telah berhasil ditangani.
Kebakaran yang bermula dari area sekitar 4 hingga 5 hektare pada Selasa kini telah berkembang menjadi sekitar 60 hektare pada Kamis sore. Api juga telah bergerak mendekati kawasan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Perkembangan tersebut membuat upaya pengendalian kebakaran di kawasan TNGM terus berlangsung. Ratusan personel gabungan masih bekerja di lapangan untuk memadamkan api, mendinginkan area terdampak, menyekat jalur perambatan, dan memastikan bara tidak kembali menimbulkan kebakaran.
Di tengah lereng yang curam, vegetasi kering, serta hembusan angin yang dapat berubah, petugas terus berupaya membatasi pergerakan api agar kebakaran tidak meluas lebih jauh di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. (ef linangkung)





