
TUGUJOGJA – Kulon Progo bersiap menorehkan sejarah baru. Kabupaten di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ini segera melangkah ke panggung besar sebagai salah satu wilayah pengembangan produksi garam rakyat.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo tidak sekadar menaruh harapan, tetapi juga menggerakkan riset serius agar langkah menuju kemandirian garam nasional berjalan nyata.
Kepala Bidang Riset Inovasi Daerah dan Pengendalian Kulon Progo, Khamdan Syakiri, menegaskan bahwa wilayah pesisir Kulon Progo akan menjadi laboratorium hidup untuk membangkitkan industri garam. Dalam waktu dekat, pihaknya akan memulai pemetaan potensi produksi garam di sepanjang pesisir.
“Hasil riset ini akan menjadi pijakan kebijakan pengembangan industri garam rakyat yang berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah Kulon Progo berharap, pemetaan tersebut tidak hanya menjadi catatan teknis, tetapi juga pemicu lahirnya kebijakan strategis. Tujuannya jelas: membuka peluang usaha baru, menggerakkan UMKM lokal, serta menempatkan DIY dalam daftar lima besar daerah penghasil garam nasional.
Dia menegaskan langkah Kulon Progo bukan sekadar proyek jangka pendek, tetapi mimpi besar untuk menjadikan DIY sebagai salah satu sentra garam nasional.
Jika program ini berhasil, masyarakat pesisir tidak hanya memperoleh penghasilan tambahan, tetapi juga mendapatkan kebanggaan sebagai pionir kemandirian garam nusantara.
“Dengan dukungan akademisi, riset mendalam, dan komitmen pemerintah daerah, Kulon Progo kini berdiri di garis depan,” tuturnya.
Langkah besar ini mendapat dukungan penuh dari tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tim akademisi ini tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga koordinasi intensif demi pemenuhan data yang akurat. Program ini diberi tajuk “Pemetaan Potensi Produksi Garam Rakyat di Pesisir Kulon Progo.”
Ketua tim PkM, Prof. Leni Sophia Heliani, menjelaskan bahwa kegiatan penelitian akan berfokus pada tiga hal: identifikasi parameter fisik pendukung produksi garam, analisis indikator potensi, serta penentuan lokasi dengan peluang terbesar untuk dikembangkan.
โKebutuhan garam nasional sebagian besar masih dipenuhi dari impor dengan harga murah. Padahal, air laut selatan Kulon Progo memiliki kandungan mineral lebih kaya dan kejernihan tinggi. Potensi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja,โ tegasnya.
Fokus Pengembangan di Empat Kapanewon Pesisir
Rencana pemetaan akan difokuskan pada empat kapanewon pesisir, yakni Temon, Wates, Panjatan, dan Galur.
Keempat wilayah ini memiliki karakteristik geografis yang mendukung produksi garam, berupa dataran rendah, lereng landai, serta panjang pantai mencapai sekitar 24,9 kilometer. Kondisi tersebut diyakini menjadi modal berharga untuk membuka jalan produksi garam rakyat skala besar.
Pemerintah Daerah DIY sebelumnya juga telah menetapkan garam sebagai salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan. Hal ini membuat Kulon Progo bergerak dalam bingkai kebijakan regional, sehingga tidak berjalan sendiri.
Meski prospek terlihat cerah, pengembangan garam di Kulon Progo tetap menghadapi berbagai tantangan.
Curah hujan tinggi, ombak besar, keterbatasan lahan, teknologi, hingga pemasaran menjadi hambatan yang harus ditaklukkan. Namun, tim riset UGM bersama Pemkab Kulon Progo berkomitmen untuk mencari solusi berkelanjutan.
Sebagai langkah terobosan, tim juga menyiapkan inovasi produk turunan berbasis garam, mulai dari garam kecantikan hingga bath bomb bernilai ekonomi tinggi.
Produk-produk ini diyakini mampu membuka pasar baru dan memberi daya saing kuat bagi Kulon Progo dalam industri garam nasional.
Program ini diharapkan tidak hanya mendorong kemandirian daerah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor garam.