
TUGUJOGJA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika yang tinggi sepanjang periode pemantauan 3–9 Juli 2026.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat kemunculan awan panas guguran, ratusan guguran lava, serta aktivitas kegempaan yang menandakan suplai magma ke tubuh gunung masih terus berlangsung.
Berdasarkan laporan mingguan BPPTKG, status Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga).
Hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan aktivitas erupsi efusif masih berlangsung dan berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas di kawasan potensi bahaya.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengatakan data pemantauan mengindikasikan pasokan magma dari bawah permukaan belum berhenti.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” ujarnya.
Asap Kawah Mencapai 100 Meter
Selama periode pengamatan, cuaca di kawasan Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sementara kabut kerap muncul pada siang hingga sore hari.
Secara visual, teramati asap kawah berwarna putih hingga cokelat dengan intensitas tipis hingga sedang.
Tinggi kolom asap berkisar antara 15 hingga 100 meter di atas puncak dengan tekanan lemah.
Kondisi tersebut menunjukkan proses pelepasan gas vulkanik (degassing) masih berlangsung sebagai bagian dari aktivitas erupsi yang saat ini mendominasi Gunung Merapi.
Sembilan Kali Awan Panas Guguran
BPPTKG mencatat sembilan kali awan panas guguran selama sepekan terakhir.
Awan panas tersebut meluncur dengan jarak maksimum sekitar 2 kilometer ke arah hulu Kali Boyong, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih.
Selain itu, aktivitas guguran lava masih berlangsung intensif di beberapa sektor lereng gunung.
Rinciannya meliputi:
- 7 kali guguran lava ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak maksimum 2 kilometer.
- 79 kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak maksimum 2 kilometer.
- 15 kali guguran lava ke arah Kali Bebeng dengan jarak maksimum 2 kilometer.
- 103 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2,5 kilometer.
Dominasi guguran lava di sektor Kali Sat/Putih menunjukkan material pada kubah lava masih mengalami peluruhan akibat dorongan magma dari bawah permukaan.
Morfologi Kubah Barat Daya Berubah
Hasil pemantauan menggunakan kamera di Pos Ngepos dan Babadan menunjukkan adanya perubahan morfologi pada Kubah Barat Daya akibat aktivitas guguran lava yang terus berlangsung.
Sementara itu, Kubah Tengah belum menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan analisis foto udara per 29 Juni 2026, volume Kubah Barat Daya diperkirakan mencapai sekitar 4.013.500 meter kubik, sedangkan volume Kubah Tengah sekitar 2.368.800 meter kubik.
Volume kubah lava menjadi salah satu parameter penting yang terus dipantau karena runtuhan material dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran.
Lebih dari 1.400 Gempa Vulkanik dan Guguran
Aktivitas di dalam tubuh Gunung Merapi juga masih tercermin dari data kegempaan.
Selama periode 3–9 Juli 2026, BPPTKG merekam:
- 9 gempa awan panas guguran,
- 15 gempa vulkanik dangkal,
- 559 gempa fase banyak,
- 817 gempa guguran,
- 6 gempa tektonik.
Meski jumlah kegempaan tercatat lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, data tersebut masih menunjukkan aktivitas vulkanik di bawah permukaan belum mereda.
Deformasi Relatif Stabil
Pemantauan deformasi menggunakan jaringan GPS menunjukkan kondisi tubuh Gunung Merapi relatif stabil.
Baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat berada pada kisaran 7.108,13 meter. Sementara pengukuran menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) di sektor barat laut belum dapat dilakukan selama periode pengamatan.
BPPTKG menegaskan stabilnya deformasi tidak serta-merta menandakan aktivitas Merapi menurun karena suplai magma masih terus berlangsung.
Belum Ada Hujan, Ancaman Lahar Tetap Diwaspadai
Selama satu minggu terakhir tidak tercatat hujan di pos pengamatan Gunung Merapi dan tidak ada laporan penambahan aliran maupun lahar di sungai-sungai yang berhulu di gunung tersebut.
Meski demikian, BPPTKG mengingatkan ancaman banjir lahar tetap perlu diantisipasi ketika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi di kawasan puncak.
Material vulkanik yang masih menumpuk di lereng berpotensi terbawa aliran air dan mengalir ke wilayah hilir.
Status Siaga Masih Dipertahankan
Berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap data visual dan instrumental, BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga).
Potensi bahaya guguran lava dan awan panas saat ini masih mengancam:
Sektor selatan–barat daya:
- Sungai Boyong hingga 5 kilometer.
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Sektor tenggara:
- Sungai Woro hingga 3 kilometer.
- Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Sementara jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Warga Diminta Tetap Waspada
BPPTKG meminta pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten terus memperkuat langkah mitigasi bencana, termasuk kesiapan jalur evakuasi, sarana penanggulangan, serta edukasi masyarakat.
Warga juga diminta tidak beraktivitas di kawasan potensi bahaya yang telah ditetapkan dan tetap mewaspadai kemungkinan awan panas guguran maupun banjir lahar, terutama saat hujan mulai turun di kawasan puncak.
Selain itu, masyarakat di sekitar Merapi diminta mengantisipasi potensi hujan abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti arah angin.
BPPTKG menegaskan evaluasi akan segera dilakukan apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas Gunung Merapi. (ef linangkung)