
TUGUJOGJA – Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa pekan terakhir merasakan fenomena perubahan suhu udara yang cukup kontras dalam satu hari.
Pada siang hari matahari bersinar terik, namun ketika malam hingga dini hari, hawa dingin terasa menusuk kulit.
Kondisi perbedaan suhu yang cukup tajam ini memunculkan kembali istilah bediding. Istilah Jawa ini merujuk pada kondisi udara yang terasa dingin pada malam hingga pagi hari, tetapi berubah menjadi panas ketika siang hari.
Fenomena tersebut salah satunya dirasakan oleh Eko Susanto, warga asal Solo yang sedang berada di kawasan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo. Ia melihat indikator suhu di telepon genggamnya menyentuh angka 16 derajat Celsius pada dini hari.
“Kalau orang dulu bilang waktunya pohon mangga berkembang. Itu makanya rasanya dingin kalau sore sampai dini hari, tapi pas siangnya panas. Kayak bediding gitu,” kata Eko.
Guna mengantisipasi dampak perubahan cuaca ini terhadap kesehatan, Eko memilih menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih, rutin berolahraga, dan menjaga pola makan.
“Ya, antisipasi biar enggak tumbang paling ya lari-lari, badan gerak lah biar enggak lemes, sama makan yang penting, sih,” ujarnya.
Pengalaman serupa diungkapkan oleh Erlin, warga Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Berada di kawasan perbukitan, suhu udara di wilayahnya mengalami penurunan yang signifikan, terutama selepas pukul 02.00 WIB hingga menjelang fajar.
“Saya lihat tadi 19 derajat. Dingin banget,” katanya.
Penjelasan Ilmiah BMKG Yogyakarta
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengonfirmasi bahwa perbedaan suhu yang mencolok ini merupakan karakteristik umum dari musim kemarau.
Beberapa faktor meteorologis bekerja bersamaan sehingga menghasilkan perbedaan suhu harian yang cukup besar.
“Saat ini kelembaban terendah berkisar 50 hingga 55 persen,” katanya.
Reni menjelaskan bahwa pada musim kemarau, kondisi langit cenderung cerah dan minim tutupan awan. Hal ini menyebabkan radiasi matahari pada siang hari langsung mencapai permukaan bumi tanpa hambatan, sehingga suhu udara meningkat dengan cepat.
Sebaliknya, pada malam hari, ketiadaan awan membuat energi panas yang diserap bumi sepanjang siang hari terlepas kembali ke atmosfer dan angkasa tanpa ada yang menahan.
Proses pelepasan panas yang cepat inilah yang memicu penurunan suhu udara secara drastis pada malam dan dini hari.
Pengaruh Angin Muson Timur
Selain radiasi matahari, angin muson timur yang bertiup dari benua Australia turut memperkuat fenomena bediding ini. Angin tersebut membawa massa udara yang kering serta relatif sejuk menuju wilayah Indonesia, termasuk DIY.
Kelembapan udara yang rendah membuat udara malam terasa lebih dingin, sementara penyinaran matahari yang maksimal pada siang hari membuat suhu kembali melonjak.
Reni menambahkan bahwa wilayah dataran tinggi atau daerah yang terletak jauh dari garis pantai akan merasakan dampak penurunan suhu ini secara lebih signifikan.
“Terutama terjadi di wilayah yang agak jauh dari pantai atau berada di dataran lebih tinggi seperti Sleman bagian utara, memang cenderung memiliki selisih suhu siang dan malam yang cukup besar,” pungkas Reni.
Kondisi cuaca harian yang fluktuatif ini diperkirakan masih akan berlangsung selama periode musim kemarau. Perubahan suhu yang kontras ini menuntut masyarakat untuk lebih memperhatikan daya tahan tubuh agar tetap bugar. (ef linangkung)