
TUGUJOGJA – Kumpulan contoh kata-kata pamitan Lebaran bahasa Jawa mulai dari krama inggil hingga ngoko. Cocok digunakan saat berpamitan setelah silaturahmi Idulfitri.
Perayaan Idulfitri identik dengan tradisi silaturahmi yang dilakukan dari rumah ke rumah untuk mempererat hubungan keluarga maupun pertemanan. Setelah berbincang, menikmati hidangan, dan saling memaafkan, ada satu momen kecil yang tak kalah penting dalam budaya Jawa, yakni berpamitan sebelum pulang.
Dalam budaya Jawa, cara menyampaikan pamitan memiliki nilai kesopanan tersendiri. Pilihan kata biasanya disesuaikan dengan lawan bicara. Ketika berbicara kepada orang yang lebih tua atau dihormati, masyarakat umumnya menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil yang lebih halus. Sementara itu, kepada teman sebaya atau kerabat dekat, bahasa yang digunakan bisa lebih santai seperti ngoko atau krama biasa.
Agar tetap sopan dan berkesan, banyak orang menyiapkan kalimat pamitan yang tepat sebelum meninggalkan rumah tuan rumah saat Lebaran. Berikut beberapa contoh kata-kata pamitan dalam bahasa Jawa yang bisa digunakan setelah bersilaturahmi.
Pamitan Halus Menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil
Bahasa Jawa Krama Inggil biasanya digunakan ketika berpamitan kepada orang tua, tokoh yang dihormati, atau tuan rumah yang lebih tua. Pilihan kata yang halus mencerminkan sikap hormat sekaligus menjaga etika dalam budaya Jawa.
Berikut beberapa contoh kalimat pamitan yang bisa digunakan:
1.
“Bapak/Ibu, kepareng matur. Kula badhe nyuwun pamit lan nyuwun donga pangestunipun, mugi-mugi lampah kula wangsul pinaringan keslametan.”
Kalimat ini menunjukkan permohonan izin untuk berpamitan sekaligus meminta doa agar perjalanan pulang diberikan keselamatan.
2.
“Matur nuwun sanget awit sedaya suguhanipun. Kula sakulawarga nyuwun pamit, mugi sedaya amal ibadah kita ditampi Allah SWT.”
Ucapan ini biasanya disampaikan setelah menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah. Selain berpamitan, kalimat tersebut juga berisi doa agar amal ibadah diterima oleh Allah SWT.
3.
“Kula nyuwun pamit riyin, matur nuwun sampun dipun-temoni lan dipun-paringi rejeki. Sugeng riyadi, sedaya kaluputan nyuwun pangapura.”
Ungkapan ini menekankan rasa terima kasih atas sambutan yang diberikan sekaligus memohon maaf jika selama berkunjung terdapat kekeliruan.
4.
“Kepareng matur, kula badhe pamit wangsul. Mugi-mugi lebaran taun niki kito tansah pinaringan hidayah lan keberkahan.”
Kalimat tersebut mengandung harapan agar perayaan Lebaran membawa hidayah serta keberkahan bagi semua pihak.
Pamitan Santai Menggunakan Bahasa Jawa Ngoko
Ketika berpamitan kepada teman sebaya, sepupu, atau kerabat dekat, bahasa yang digunakan biasanya lebih santai. Bahasa Jawa ngoko terasa lebih akrab dan tidak terlalu formal, namun tetap sopan dalam konteks pertemanan.
Berikut beberapa contoh ucapan pamitan yang sering digunakan:
1.
“Yo wis yo, aku pamit dhisik. Sugeng riyadi, ojo lali laporane dosane diampuni ya!”
Kalimat ini sering digunakan dalam suasana santai dengan nada bercanda saat berpamitan dengan teman.
2.
“Wis bengi, pamit bali sik ya. Suwun tumpengane, enak banget!”
Ungkapan ini cocok disampaikan ketika berpamitan setelah menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah.
3.
“Dulur-dulur, aku pamit disik. Moga-moga iso ketemu meneh ing lebaran taun ngarep.”
Ucapan ini mengandung harapan agar dapat kembali bertemu pada perayaan Idulfitri di tahun berikutnya.
4.
“Maturnuwun yoo, wes kerso mampir. Aku pamit dhisik, salam nggo keluargane.”
Kalimat ini juga sering dipakai untuk menyampaikan terima kasih sekaligus berpamitan kepada kerabat atau teman.
Contoh Pamitan Singkat Saat Sungkem
Dalam beberapa keluarga Jawa, pamitan juga dilakukan setelah prosesi sungkeman. Biasanya kalimat yang diucapkan lebih singkat namun tetap penuh sopan santun.
Berikut contoh kalimat pamitan yang sering digunakan:
1.
“Mbah/Pak/Bu, kulo nyuwun pamit lan nyuwun pangapunten lahir batin.”
Kalimat ini menunjukkan permohonan izin untuk pulang sekaligus kembali menyampaikan permintaan maaf.
2.
“Kulo pamit nggih, dongakne lancar lan slamet sampek tujuan.”
Ucapan ini menambahkan permohonan doa agar perjalanan pulang berjalan lancar dan selamat.
Etika Berpamitan dalam Budaya Jawa
Dalam tradisi Jawa, berpamitan bukan sekadar mengucapkan selamat tinggal. Ada nilai sopan santun yang dijunjung tinggi saat seseorang hendak meninggalkan rumah tuan rumah setelah bersilaturahmi.
Biasanya, sebelum mengucapkan pamitan, seseorang akan mendahuluinya dengan ungkapan “nuwun sewu” atau “nyuwun pangapunten” yang berarti memohon maaf. Ungkapan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada tuan rumah sekaligus menandakan bahwa tamu akan segera berpamitan.
Selain itu, ucapan terima kasih atas jamuan yang diberikan juga sering disampaikan sebelum pulang. Hal ini dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap tuan rumah yang telah menerima kedatangan tamu dengan baik.
Tradisi ini menunjukkan bahwa dalam budaya Jawa, kesopanan tidak hanya terlihat saat datang berkunjung, tetapi juga saat meninggalkan tempat. Oleh karena itu, memilih kata-kata pamitan yang tepat menjadi bagian dari menjaga etika dan mempererat hubungan kekeluargaan, terutama dalam suasana hangat perayaan Idulfitri.
***