
TUGUJOGJA – Puasa Tasua dan Asyura sama-sama dianjurkan pada bulan Muharram. Namun, mana yang lebih utama? Simak penjelasan lengkap tentang keutamaan, sejarah, dan anjuran pelaksanaannya.
Bulan Muharram menjadi salah satu momen istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah sunnah. Di antara amalan yang paling dikenal pada bulan pertama dalam kalender Hijriah ini adalah Puasa Tasua yang dilaksanakan pada 9 Muharram dan Puasa Asyura pada 10 Muharram.
Kedua puasa tersebut kerap dilakukan secara berurutan dan sering dianggap memiliki kedudukan yang sama. Namun dalam kajian para ulama, terdapat perbedaan dari sisi sejarah, tujuan pelaksanaan, hingga tingkat keutamaannya.
Lantas, jika harus memilih salah satu, manakah yang lebih utama antara Puasa Tasua dan Puasa Asyura?
Perbedaan Puasa Tasua dan Puasa Asyura
Secara waktu pelaksanaan, kedua puasa ini hanya terpaut satu hari. Puasa Tasua dikerjakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Meski berdekatan, keduanya memiliki latar belakang yang berbeda.
Puasa Asyura telah dikenal sejak sebelum datangnya Islam. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Mereka melakukannya sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Sementara itu, Puasa Tasua baru dianjurkan Rasulullah SAW pada masa berikutnya sebagai bentuk pembeda dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Karena itulah, Puasa Tasua sering dipahami sebagai pelengkap sekaligus penyempurna ibadah Puasa Asyura.
Puasa Asyura Memiliki Keutamaan Lebih Besar
Dari sisi ganjaran dan dalil yang menjelaskan keutamaannya, Puasa Asyura memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan Puasa Tasua.
Keutamaan tersebut disebutkan secara langsung dalam hadis Rasulullah SAW:
โPuasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.โ (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan besarnya pahala yang dijanjikan bagi umat Islam yang melaksanakan Puasa Asyura. Para ulama menjelaskan bahwa puasa ini dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.
Selain itu, Puasa Asyura tetap sah dan bernilai ibadah meskipun dilakukan tanpa disertai puasa pada hari sebelumnya.
Karena memiliki keutamaan yang secara khusus disebutkan dalam hadis, banyak ulama menempatkan Puasa Asyura sebagai puasa sunnah yang lebih utama dibandingkan Puasa Tasua.
Kedudukan Penting Puasa Tasua
Walaupun tidak memiliki keutamaan penghapusan dosa sebagaimana Puasa Asyura, Puasa Tasua tetap mempunyai nilai penting dalam syariat Islam.
Anjuran melaksanakan Puasa Tasua berasal dari keinginan Rasulullah SAW untuk membedakan praktik ibadah umat Islam dari tradisi kaum Yahudi.
Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW bersabda:
โSungguh, jika aku masih hidup tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasua).โ (HR. Muslim)
Hadis tersebut menjadi dasar para ulama dalam menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram sebagai pendamping Puasa Asyura.
Dengan melaksanakan Tasua, seorang Muslim dianggap lebih sempurna dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Bolehkah Hanya Berpuasa Asyura?
Pertanyaan ini cukup sering muncul menjelang bulan Muharram.
Para ulama menjelaskan bahwa seseorang tetap diperbolehkan berpuasa Asyura tanpa melaksanakan Puasa Tasua. Dalam kondisi hanya mampu menjalankan satu hari puasa, maka Puasa Asyura lebih dianjurkan karena memiliki keutamaan yang lebih besar dan dalil yang lebih kuat.
Namun demikian, melaksanakan Puasa Tasua dan Asyura secara berurutan tetap menjadi pilihan yang lebih utama karena sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW.
Bahkan sebagian ulama menganjurkan agar puasa Muharram dilakukan selama tiga hari, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Tujuannya untuk semakin menyempurnakan ibadah sekaligus mempertegas perbedaan dengan kebiasaan umat terdahulu.
Tingkatan Paling Sempurna dalam Puasa Muharram
Secara umum, para ulama membagi tingkatan pelaksanaan puasa Muharram menjadi beberapa kategori.
Tingkatan pertama dan paling utama adalah berpuasa selama tiga hari, yakni tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
Tingkatan berikutnya adalah melaksanakan Puasa Tasua dan Puasa Asyura secara berurutan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.
Sementara itu, berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram tetap diperbolehkan dan tetap mendapatkan keutamaan besar sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Karena itu, meskipun Puasa Asyura memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari sisi keutamaan, pelaksanaan Puasa Tasua dan Asyura secara bersamaan tetap menjadi amalan yang paling dianjurkan. Selain memperoleh pahala puasa sunnah, umat Islam juga dapat mengikuti sunnah Rasulullah SAW secara lebih sempurna pada bulan Muharram yang penuh keberkahan.***