
TUGUJOGJA – Kulon Progo kian percaya diri melangkah ke panggung dunia lewat komoditas kopi. Dari perbukitan Menoreh yang hijau dan berhawa sejuk, para petani berhasil mencatatkan produksi kopi hingga 1,2 ton per hektar.
Angka ini bukan sekadar capaian produksi, melainkan simbol kebangkitan kopi Kulon Progo menuju pasar ekspor.
Suara mesin pengolah kopi bergema di desa-desa, berpadu dengan aroma biji kopi yang baru dipanggang. Di balik itu, semangat para petani terus menyala.
Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga mengolah, memasarkan, hingga membangun ekosistem kopi yang solid. Kelompok tani dan pelaku usaha kopi binaan bahu membahu memperkuat rantai produksi, menjadikan Kopi Menoreh sebagai primadona baru.
Dukungan Pemerintah dan Lembaga Keuangan
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dipertapa) Kabupaten Kulon Progo, Drajat Purbadi, menegaskan pemerintah tidak akan berhenti mendorong pengembangan kopi. Ia menyampaikan bahwa penguatan potensi kopi dilakukan secara berlapis, mulai dari budidaya hingga branding.
“Dengan semangat yang luar biasa kami melaksanakan budidaya kopi, khususnya di perbukitan Menoreh dengan varietas Robusta dan Arabica. Kami berharap Kopi Menoreh menjadi komoditas unggulan dan mampu menembus pangsa pasar luar negeri,” ucap Drajat.
Langkah pengembangan ini tidak hanya mengandalkan dana keistimewaan. Pemkab juga memanfaatkan alokasi dari APBN.
Tahun ini, Kulon Progo bahkan mendapatkan program dari Direktorat Jenderal Perkebunan senilai Rp 4,4 miliar untuk revitalisasi kopi dan kelapa. Dukungan juga datang dari Bank BPD DIY yang memberikan bantuan 30 ribu bibit kopi.
Bantuan tersebut menjadi bahan bakar baru untuk mempercepat laju pengembangan Kopi Menoreh. Ribuan bibit akan menambah luasan tanam sekaligus memperkuat kualitas produksi.
Pemerintah daerah yakin, dengan dukungan penuh dari pusat dan lembaga keuangan, kopi Kulon Progo akan melaju lebih jauh.
Branding Kopi Menoreh Menuju Pasar Ekspor
Dinas Pertanian dan Pangan juga telah melaunching Kopi Menoreh secara resmi. Logo dan identitas brand diperkenalkan ke publik. Momen ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga pernyataan bahwa Kulon Progo siap bersaing dengan brand kopi nasional lain.
“Tujuan utama kami mengenalkan Kopi Menoreh agar semakin luas dikenal masyarakat. Festival ini menjadi langkah penting untuk membangun identitas dan branding bersama,” jelas Drajat.
Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan pelaku usaha kopi. Menurutnya, branding kolektif akan memperkuat posisi ketika Kopi Menoreh menembus pasar ekspor.
“Kalau untuk pasar domestik, silakan pakai brand masing-masing. Tetapi ketika kita masuk ke pasar luar negeri, harapannya kita membawa satu nama besar: Kopi Menoreh,” tegasnya.
Semangat itu kini bergema di setiap sudut kebun kopi Menoreh. Para petani percaya kerja keras mereka akan terbayar ketika kopi Kulon Progo tersaji di cangkir para penikmat kopi dunia.
Dari tanah subur Menoreh, aroma kopi perlahan merambat melewati batas kabupaten, menembus pasar nasional, hingga kelak berlayar menuju mancanegara.
Kopi Menoreh bukan lagi sekadar hasil bumi. Ia telah menjelma simbol perjuangan, kebanggaan, dan cita-cita besar Kulon Progo.
Dengan produksi mencapai 1,2 ton per hektar, kabupaten ini berdiri tegak di hadapan peluang besar ekspor. Dunia kini menunggu, dan Kulon Progo menjawab dengan satu nama: Kopi Menoreh.