
TUGUJOGJA – Di sudut tersembunyi kompleks Taman Sari Yogyakarta, berdiri sebuah bangunan bawah tanah yang menyimpan pesona sekaligus penuh misteri.
Tempat itu bernama Sumur Gumuling, sebuah peninggalan bersejarah yang memikat hati para pencinta sejarah, arsitektur, maupun wisatawan yang gemar berburu spot unik.
Bukan hanya bentuknya yang tidak biasa, Sumur Gumuling juga dikenal memiliki kemampuan yang unik yakni suara yang dihasilkan di dalamnya diyakini mampu terdengar jelas dari segala penjuru.
Jejak Sejarah Masjid Bawah Tanah
Sumur Gumuling dulunya merupakan sebuah masjid yang digunakan oleh masyarakat dan keluarga Keraton Yogyakarta.
Letaknya berada di bawah tanah, tersembunyi di balik lorong-lorong panjang yang membentuk jalur berliku menyerupai labirin.
Melansir dari berbagai sumber, di masa penjajahan, lorong ini berfungsi strategis sebagai jalur rahasia yang dapat mengelabui tentara Belanda.
Bangunan ini memiliki dua lantai untuk beribadah. Lantai bawah diperuntukkan bagi jamaah perempuan, sedangkan lantai atas digunakan oleh jamaah laki-laki.
Desainnya menonjolkan struktur melingkar bertingkat dua dengan lima tangga yang bertemu di satu titik di tengah.
Desain Arsitektur Sumur Gumuling
Ketebalan dinding Sumur Gumuling mencapai sekitar 1,25 meter.
Konon, ketebalan ini disebabkan oleh fungsi awalnya yang juga berperan sebagai penampungan air.
Material yang digunakan berasal dari batu bata yang direkatkan dengan bahan-bahan alami.
Yang mana ini merupakan teknik yang umum pada masanya, namun kini menjadi bukti ketangguhan arsitektur tradisional.
Begitu pengunjung menuruni tangga menuju ruang utama, suasana akan langsung terasa berbeda.
Bentuk melingkar, tangga yang datang dari berbagai arah, dan kubah di atasnya menciptakan efek suara yang khas.
Inilah yang menjadikan Sumur Gumuling istimewa yaitu adanya keyakinan bahwa suara azan yang dikumandangkan di titik pusat akan memantul dan terdengar jelas ke seluruh arah ruangan.
Masjid dengan Sentuhan Jawa dan Portugis
Arsitektur Sumur Gumuling memadukan gaya lokal Jawa dengan pengaruh Portugis, menghasilkan bentuk bangunan yang unik dan sulit ditemui di tempat lain.
Kombinasi ini mencerminkan perpaduan budaya yang pernah terjadi di Yogyakarta pada masa lampau.
Meskipun berada di dalam kompleks Taman Sari yang terkenal, Sumur Gumuling kerap luput dari daftar kunjungan wisatawan.
Letaknya yang tersembunyi dan harus ditempuh dengan berjalan melalui lorong-lorong panjang membuat sebagian orang melewatinya.
Padahal, bagi yang berhasil menemukannya, bangunan ini menawarkan pengalaman berwisata sejarah yang berbeda.
Tidak sedikit wisatawan yang terkesan oleh keindahan dan kecanggihan desainnya, apalagi ketika mengetahui fungsinya.
Mitos yang Beredar
Di balik kemegahan arsitektur dan nilai sejarahnya, Sumur Gumuling juga menyimpan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu mitos yang populer di kalangan masyarakat sekitar adalah keberadaan lorong bawah tanah yang menghubungkan Taman Sari dengan pantai selatan.
Konon, jalur ini menjadi tempat pertemuan rahasia antara Sultan Yogyakarta dengan Nyi Roro Kidul, sang penguasa laut selatan.
Meski kisah ini begitu melekat di ingatan warga, hingga kini belum ada bukti sejarah yang membenarkannya.
Mitos tersebut tetap menjadi bagian dari daya tarik Sumur Gumuling, melengkapi citra bangunan ini sebagai tempat yang sarat misteri dan cerita sejarah.***