
TUGUJOGJA — Dalam semangat peringatan Hari Santri, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kota Yogyakarta dalam memperkuat pendidikan pesantren.
Ia menilai, keberadaan santri bukan hanya menjadi benteng moral bangsa, tetapi juga sumber energi perubahan sosial yang mampu membawa Yogyakarta menuju masa depan yang lebih bersih, hebat, dan bermartabat.
Sejak awal, Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat dukungan terhadap lembaga pendidikan pesantren melalui program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA).
Program ini menjadi bukti konkret keberpihakan pemerintah terhadap dunia pendidikan berbasis keagamaan. Dukungan juga datang dari pemerintah pusat, termasuk melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) serta program bantuan makanan bergizi gratis bagi santri yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
“Kebijakan ini sangat membantu, karena banyak santri yang mukim di pondok atau asrama dan membutuhkan dukungan logistik. Pemerintah hadir untuk memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi,” tegas Hasto.
Menurutnya, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan material, tetapi juga bentuk perhatian negara terhadap keberlangsungan pendidikan spiritual dan moral di tanah air. Santri, bagi Hasto, merupakan pilar yang menopang kekuatan budaya bangsa serta pondasi karakter masyarakat Yogyakarta.
Santri Jadi Agen Perubahan Sosial dan Lingkungan
Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, Hasto melihat pentingnya peran santri dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal serta kebersihan lingkungan.
Ia menyoroti peran pesantren dalam mendukung Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS), sebuah program besar Pemkot Yogyakarta untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kita sedang melakukan rekonstruksi sosial untuk mengubah perilaku masyarakat. Kalau yang bergerak itu para santri, saya yakin perubahan akan cepat terjadi. Karena santri bisa menjadi agen perubahan yang mengedukasi teman sebayanya,” ujarnya.
Bagi Hasto, pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga pusat peradaban yang membentuk karakter disiplin, peduli, dan tangguh.
Ia percaya, ketika santri ikut bergerak dalam gerakan sosial seperti Mas JOS, perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan akan semakin masif dan berdampak luas.
Santri Sebagai Penentu Indonesia Emas
Lebih jauh, Hasto menegaskan bahwa masa depan bangsa Indonesia berada di tangan generasi muda, terutama para santri yang memiliki semangat juang dan kekuatan moral tinggi.
Ia menolak keras anggapan bahwa generasi muda saat ini adalah “generasi strawberry” — lembek, mudah menyerah, dan manja oleh zaman.
“Santri-santri muda inilah yang akan menentukan apakah Indonesia Emas nanti benar-benar menjadi Indonesia Maju atau tidak. Maka saya berpesan, patahkan stigma bahwa generasi sekarang adalah generasi ‘strawberry’ atau ‘sandwich generation’ yang lemah. Santri harus menjadi generasi kuat, tangguh, dan siap memimpin masa depan,” tandasnya.
Dalam pandangan Hasto, santri bukan hanya penerus estafet bangsa, tetapi juga pembawa cahaya peradaban baru. Dengan ilmu, moral, dan semangat pengabdian, mereka dapat menjadi pemimpin yang membangun negeri dengan hati dan nurani.
Jogja Bersih, Bangsa Bermartabat
Menutup pesannya, Hasto menyerukan agar seluruh santri terus menempah diri menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Ia yakin, ketika santri bergerak, perubahan akan terjadi dengan cepat dan nyata.
“Kalau santri bergerak, selesai. Jogja akan lebih bersih, lebih hebat, dan lebih bermartabat. Santri adalah kekuatan moral bangsa,” pungkasnya.