TUGU JOGJA – Gunung Merapi belum benar-benar tenang. Sepanjang periode 25 September hingga 1 Oktober 2026, gunung api yang berdiri di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu masih menunjukkan aktivitas erupsi efusif yang cukup tinggi.
Dalam sepekan terakhir, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat lima kali awan panas guguran (APG). Material panas tersebut meluncur dengan jarak maksimum 2.000 meter menuju hulu Kali Boyong dan Kali Sat/Putih.
Aktivitas itu berjalan bersamaan dengan puluhan guguran lava yang terus bergerak dari tubuh Merapi menuju sejumlah sungai yang berhulu di gunung tersebut.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa mengatakan hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi. Karena itu, BPPTKG mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi pada tingkat SIAGA.
Situasi tersebut membuat kawasan di sekitar Merapi tetap berada dalam bayang-bayang potensi bahaya. Suplai magma yang masih berlangsung dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran di wilayah yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.
Aktivitas Merapi terlihat dari berbagai instrumen pemantauan yang bekerja sepanjang waktu. Secara visual, cuaca di sekitar puncak Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari. Namun, kabut kerap menyelimuti kawasan tersebut pada siang hingga sore hari.
“Di tengah perubahan cuaca itu, kamera pemantauan tetap menangkap asap putih yang keluar dari puncak Merapi,” tuturnya.
Asap tersebut memiliki ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah. Tingginya bervariasi, mulai 25 meter hingga mencapai 150 meter dari puncak.
BPPTKG juga mencatat lima kejadian awan panas guguran selama periode pengamatan. Awan panas tersebut meluncur maksimal sejauh 2.000 meter menuju hulu Kali Boyong dan Kali Sat/Putih.
Pergerakan material dari tubuh gunung juga terlihat melalui guguran lava. Sepanjang periode pengamatan, petugas mencatat 10 kali guguran lava menuju hulu Kali Boyong dengan jarak maksimum 2.500 meter.
Sebanyak enam guguran lava bergerak menuju hulu Kali Krasak dengan jarak maksimum 1.700 meter. Satu guguran lava lainnya mengarah ke hulu Kali Bebeng sejauh 1.700 meter.
Sementara itu, Kali Sat/Putih menerima guguran lava paling banyak. BPPTKG mencatat 19 kali guguran menuju hulu sungai tersebut dengan jarak maksimum 2.500 meter. Deretan aktivitas tersebut menggambarkan Merapi yang masih terus bergerak dan melepaskan material dari tubuhnya.
Kubah Lava Barat Daya Terus Berubah
Perubahan juga terjadi pada morfologi kubah lava Merapi. Berdasarkan analisis morfologi dari kamera pemantauan di Stasiun Ngepos dan Babadan2, BPPTKG menemukan sedikit perubahan pada Kubah Barat Daya.
Perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava. Kondisi berbeda terlihat pada Kubah Tengah. BPPTKG tidak menemukan perubahan morfologi pada kubah tersebut selama periode pengamatan.
Analisis foto udara pada 19 September 2026 mencatat volume Kubah Barat Daya mencapai sekitar 4.182.700 meter kubik. Pada waktu yang sama, volume Kubah Tengah mencapai sekitar 2.369.600 meter kubik.
Data tersebut menjadi bagian penting dalam pemantauan aktivitas Merapi karena pertumbuhan dan perubahan kubah lava dapat berkaitan dengan dinamika erupsi efusif serta potensi terjadinya guguran material.
Ribuan Aktivitas Gempa Terekam
Instrumen seismik juga merekam aktivitas Gunung Merapi sepanjang sepekan. BPPTKG mencatat lima gempa awan panas guguran, 17 gempa vulkanik dangkal, 554 gempa fase banyak, 492 gempa guguran, dan 10 gempa tektonik.
Secara keseluruhan, intensitas kegempaan pada periode tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Meski mengalami penurunan, aktivitas kegempaan tetap menjadi indikator penting dalam membaca kondisi bawah permukaan Merapi.
Data tersebut menunjukkan bahwa dinamika vulkanik masih berlangsung. BPPTKG juga terus memantau pola kegempaan Merapi dalam rentang tiga bulan terakhir untuk melihat perkembangan aktivitas secara lebih menyeluruh, bukan hanya berdasarkan perubahan dalam satu pekan.
Pemantauan tidak hanya mengandalkan kamera dan seismograf. BPPTKG juga menggunakan instrumen deformasi untuk melihat perubahan bentuk tubuh Gunung Merapi.
Pengukuran jarak tunjam EDM di sektor barat laut dari titik tetap BABO menuju reflektor RB2 berada pada kisaran 3.839,760 meter hingga 3.839,767 meter. Sementara itu, data baseline GPS Labuhan-Jrakah berada pada kisaran 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter.
Dari pengukuran tersebut, BPPTKG tidak menemukan perubahan deformasi yang signifikan selama periode 25 September hingga 1 Oktober 2026. Kondisi itu menjadi salah satu parameter yang terus diperiksa untuk mengetahui dinamika Gunung Merapi.
Hujan Deras Mengintai Ancaman Lahar
Ancaman Merapi tidak hanya muncul dari puncak. Hujan yang turun di sekitar gunung juga dapat meningkatkan potensi bahaya lahar, terutama ketika material vulkanik yang berada di lereng dan alur sungai terbawa air hujan.
Pada pekan pengamatan tersebut, hujan turun di sekitar Merapi dengan intensitas tertinggi tercatat pada 30 September 2026. Pos Babadan mencatat curah hujan mencapai 46,96 milimeter per jam selama 92 menit.
Namun, hingga akhir periode pengamatan, BPPTKG tidak menerima laporan mengenai penambahan aliran maupun lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Kondisi itu tidak membuat potensi bahaya lahar hilang. Masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan turun di sekitar Merapi.
Empat Kabupaten Diminta Memperkuat Mitigasi
BPPTKG menyatakan potensi bahaya Gunung Merapi saat ini terutama berupa guguran lava dan awan panas. Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya mengarah ke Sungai Boyong hingga sejauh maksimal 5 kilometer.
Ancaman juga mencakup Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng. Untuk Sungai Krasak dan Bebeng, potensi bahaya dapat mencapai sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya mengarah ke Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer.
Ancaman lain dapat muncul jika Merapi mengalami letusan eksplosif. Dalam skenario tersebut, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak. Karena itu, BPPTKG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di daerah yang telah masuk dalam potensi bahaya.
Status SIAGA membuat pemerintah daerah di sekitar Merapi harus terus menyiapkan langkah mitigasi. BPPTKG merekomendasikan Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman erupsi.
Langkah tersebut mencakup peningkatan kapasitas masyarakat serta penyiapan sarana dan prasarana evakuasi. Kesiapan tersebut menjadi penting karena aktivitas Merapi dapat berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah yang masuk wilayah potensi bahaya. Selain ancaman guguran lava dan awan panas, masyarakat perlu mewaspadai lahar ketika hujan turun di sekitar Merapi.
Abu vulkanik juga dapat mengganggu aktivitas warga ketika erupsi menghasilkan material abu yang terbawa angin. BPPTKG meminta masyarakat mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.
Rangkaian data tersebut membuat BPPTKG tetap mempertahankan status aktivitas Gunung Merapi pada tingkat SIAGA. Merapi memang tidak selalu menunjukkan aktivitas melalui letusan besar atau kepulan material yang menjulang tinggi. Dalam fase erupsi efusif, perubahan tubuh gunung, guguran lava, awan panas, kegempaan, dan suplai magma menjadi bagian dari dinamika yang terus dipantau.
“Karena itu, masyarakat di sekitar Merapi perlu mengikuti informasi resmi dan mematuhi rekomendasi kebencanaan,” himbaunya.
Jika aktivitas Gunung Merapi mengalami perubahan signifikan, BPPTKG akan segera meninjau kembali tingkat aktivitasnya. Untuk sementara, Merapi masih berdiri dalam status SIAGA. Dan di lereng-lerengnya, aktivitas vulkanik masih terus berlangsung. (ef linangkung)





