
TUGUJOGJA – Ekskavasi Gedong Pusaka Bantul tahap pertama selesai. Arkeolog menduga bangunan berasal dari era HB II, tetapi fungsi aslinya masih belum terungkap.
Ekskavasi tahap pertama Situs Gedong Pusaka di Padukuhan Pringgolayan, Kalurahan Banguntapan, Kabupaten Bantul, resmi ditutup setelah tim arkeolog menyelesaikan penggalian selama sembilan hari pada 2–12 Juni 2026. Penelitian terhadap 22 kotak galian memperkuat dugaan bahwa bangunan bata kuno tersebut berasal dari masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Namun hingga tahap awal penelitian berakhir, fungsi asli bangunan masih belum dapat dipastikan.
Temuan itu menjadi perhatian karena nama “Gedong Pusaka” yang selama ini dikenal masyarakat ternyata belum didukung bukti arkeologis. Tim peneliti belum menemukan pusaka, artefak, maupun benda lain yang dapat mengonfirmasi bahwa bangunan tersebut pernah difungsikan sebagai tempat penyimpanan pusaka Keraton.
Selama proses ekskavasi, kawasan yang berada di Jalan Karangsari Wetan Gang Mijil Nomor 1 itu ramai didatangi warga. Aktivitas penggalian yang membuka bagian fondasi dan dinding bata kuno di tengah permukiman padat menarik perhatian masyarakat yang ingin menyaksikan langsung proses penelitian.
Dugaan Berasal dari Masa Sri Sultan Hamengku Buwono II Makin Kuat
Tenaga Ahli Ekskavasi sekaligus Dosen Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Aditya Revianur, mengatakan karakter bangunan menunjukkan kemiripan dengan sejumlah situs yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Kesamaan tersebut terlihat dari ukuran bata, pola penyusunan dinding, hingga karakter arsitektur yang ditemukan selama proses penggalian.
“Karakter bangunan yang kami temukan memiliki kemiripan dengan situs-situs yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II, termasuk Warungboto,” ujar Aditya.
Sri Sultan Hamengku Buwono II dikenal sebagai salah satu penguasa Kesultanan Yogyakarta yang aktif membangun berbagai pesanggrahan serta fasilitas penunjang kerajaan pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Kemiripan konstruksi dengan Situs Warungboto menjadi salah satu indikator yang memperkuat dugaan periode pembangunan Gedong Pusaka.
Ringkasan Hasil Ekskavasi Tahap Pertama
| Temuan | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi | Pringgolayan, Banguntapan, Bantul |
| Waktu Ekskavasi | 2–12 Juni 2026 |
| Kotak Galian | 22 titik |
| Dugaan Periode | Masa Sri Sultan Hamengku Buwono II |
| Kemiripan Struktur | Situs Warungboto |
| Artefak Pusaka | Belum ditemukan |
Nama Gedong Pusaka Belum Terbukti Secara Arkeologis
Salah satu fokus penelitian adalah menelusuri apakah nama Gedong Pusaka yang diwariskan secara turun-temurun benar-benar menggambarkan fungsi bangunan pada masa lampau.
Menurut Aditya, bangunan penyimpanan pusaka Keraton secara historis umumnya berada di dalam kawasan benteng Keraton Yogyakarta, bukan di luar kompleks kerajaan seperti wilayah Banguntapan.
Kondisi tersebut membuat tim belum dapat menyimpulkan fungsi bangunan hanya berdasarkan penamaan yang berkembang di masyarakat.
“Masyarakat memang menyebut lokasi ini Gedong Pusaka. Namun sampai sekarang kami belum menemukan pusaka ataupun bukti yang menunjukkan fungsi tersebut. Karena itu kami masih membuka kemungkinan fungsi lain,” katanya.
Penelusuran terhadap arsip dan peta kolonial Belanda juga belum memberikan jawaban pasti. Dalam sejumlah dokumen lama, bangunan tersebut hanya digambarkan sebagai struktur berbentuk persegi tanpa disertai keterangan mengenai nama maupun fungsinya.
Diduga Pernah Menjadi Pesanggrahan atau Bangunan Strategis
Selain kemungkinan sebagai pesanggrahan kerajaan, tim peneliti juga membuka peluang bahwa bangunan memiliki fungsi lain yang berkaitan dengan kepentingan strategis Kesultanan Yogyakarta.
Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono II, sejumlah pesanggrahan diketahui tidak hanya digunakan sebagai tempat beristirahat keluarga kerajaan, tetapi juga berfungsi sebagai lokasi perlindungan maupun titik pertahanan ketika terjadi konflik politik atau ancaman militer.
Letak Gedong Pusaka yang berada di luar benteng utama Keraton memunculkan dugaan bahwa bangunan tersebut mungkin memiliki fungsi serupa. Dugaan itu diperkuat oleh konstruksi dinding bata yang relatif tebal dan tampak kokoh.
Meski demikian, hipotesis tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Hingga ekskavasi tahap pertama selesai, belum ditemukan artefak militer maupun benda lain yang dapat menguatkan dugaan tersebut.
Penelitian Berlanjut pada Tahap Berikutnya
Berakhirnya ekskavasi tahap pertama bukan menjadi akhir penelitian Situs Gedong Pusaka. Tim arkeolog kini memasuki tahapan dokumentasi, pemetaan struktur, serta analisis terhadap seluruh temuan lapangan sebelum menyusun rekomendasi penelitian lanjutan.
Area ekskavasi juga telah dipasangi pengaman untuk menjaga susunan bata kuno dari potensi kerusakan akibat aktivitas warga maupun pengaruh cuaca.
Ekskavasi tahap berikutnya diproyeksikan menjadi langkah penting untuk membuka denah bangunan secara lebih utuh sekaligus menjawab pertanyaan yang hingga kini masih menggantung, yakni apakah Gedong Pusaka benar-benar difungsikan sebagai tempat penyimpanan pusaka Keraton, pesanggrahan kerajaan, atau memiliki fungsi strategis lain yang selama ratusan tahun terkubur di tengah permukiman warga Bantul.***