
TUGUJOGJA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberikan penghormatan terakhir sekaligus menyampaikan pernyataan tegas terkait gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon.
Dalam upacara penyambutan jenazah di Lanud Adisutjipto, Sabtu, 4 April 2026 malam, Sultan mendorong pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi menyeluruh atas insiden tersebut.
Dua prajurit yang tiba di Yogyakarta adalah Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon dan Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan.
Keduanya merupakan bagian dari pasukan perdamaian yang bertugas di wilayah konflik Lebanon Selatan sebelum menjadi korban ledakan dalam dua insiden berbeda.
Desakan Identifikasi Unsur Kesengajaan
Sri Sultan HB X menekankan bahwa kepastian mengenai penyebab kematian prajurit sangat krusial bagi kedaulatan dan perlindungan personel internasional.
Ia menuntut PBB untuk bersikap konsisten dalam menjalankan protokol keamanan serta mengidentifikasi faktor utama di balik serangan tersebut.
“Saya mengucapkan belasungkawa. Namun, saya berharap peristiwa ini tidak terulang kembali. Penugasan di bawah PBB harus berjalan konsisten. Perlu ada identifikasi, apakah ini kealpaan atau kesengajaan,” ujar Sultan kepada wartawan di lokasi upacara.
Menurut Sultan, kejelasan mengenai apakah peristiwa ini merupakan kelalaian prosedural atau serangan yang disengaja akan menjadi dasar bagi pemerintah Indonesia dalam menentukan sikap diplomatik di forum PBB.
Ia berharap tuntutan investigasi ini dapat dilaksanakan dengan transparan dan akuntabel.
Kronologi Insiden di Lebanon Selatan
Berdasarkan data yang dihimpun, rangkaian tragedi ini bermula pada Minggu (29/3/2026). Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon dilaporkan gugur setelah sebuah proyektil meledak di dekat posisi pasukan TNI di Desa Adchit al-Gusayr.
Insiden kedua terjadi pada Senin (30/3/2026), di mana konvoi logistik TNI dihantam ledakan di dekat kawasan Bani Hayyan.
Kejadian ini mengakibatkan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan meninggal dunia, sementara dua anggota lainnya dilaporkan mengalami luka serius.
Seluruh korban tercatat sebagai personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Kehadiran Gubernur DIY dalam prosesi penyambutan jenazah ini menjadi simbol dukungan moral serta desakan formal agar keselamatan prajurit di medan tugas internasional menjadi prioritas utama protokol keamanan dunia.
Setelah upacara penyambutan selesai, jenazah kedua prajurit langsung diberangkatkan menuju rumah duka masing-masing di Kulon Progo dan Magelang untuk menjalani prosesi pemakaman secara militer pada hari berikutnya.