
TUGUJOGJA – Ketika menyusuri jantung Kota Yogyakarta, mata akan langsung tertuju pada sebuah bangunan ikonik berwarna putih yang berdiri tegak di tengah persimpangan jalan besar. Bangunan itu adalah Tugu Golong Gilig, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Tugu Pal Putih.
Tidak sekadar penanda lokasi, tugu ini adalah saksi bisu perjalanan panjang sejarah Jogja, menjadi simbol persatuan antara raja dan rakyat, serta bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada Sidang ke-45 Komite Warisan Dunia (World Heritage Committee).
Letak Strategis di Pusat Kota
Posisi Tugu Golong Gilig berada di titik pertemuan empat jalan besar: Jalan Margo Utomo (dahulu Jalan Pangeran Mangkubumi), Jalan A.M. Sangaji, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan P. Diponegoro.
Lokasinya yang strategis membuatnya mudah ditemukan dan menjadi salah satu penanda utama pusat Kota Jogja. Keberadaan tugu ini juga menjadi pintu gerbang visual yang mengarahkan pandangan lurus ke arah Keraton Yogyakarta, seolah menghubungkan raja dengan rakyat melalui satu garis imajiner.
Asal-usul dan Filosofi Awal
Tugu Golong Gilig dibangun pada tahun 1756, hanya setahun setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Bentuk awalnya sangat berbeda dari yang kita lihat sekarang: tubuh tugu berbentuk silinder (golong) dengan puncak bulat (gilig). Inilah yang menginspirasi sebutannya, “Golong Gilig”.
Desain tersebut tidak hanya artistik, tetapi juga sarat makna. Filosofi Jawa “Manunggaling Kawula Gusti” penyatuan kehendak rakyat dengan kehendak pemimpin sekaligus menyatu dengan Sang Pencipta menjadi jiwa dari tugu ini.
Pada masa itu, puncak bulat tugu digunakan Sri Sultan sebagai titik pandang ketika melakukan meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil di kawasan Sitihinggil Lor, Keraton Yogyakarta.
Tragedi Gempa dan Perubahan Bentuk
Pada 10 Juni 1867, Yogyakarta dilanda gempa bumi tektonik dahsyat yang meruntuhkan banyak bangunan, termasuk Tugu Golong Gilig. Pilar megah itu patah hingga sepertiga bagiannya, menyisakan reruntuhan yang dibiarkan terbengkalai selama beberapa tahun.
Baru pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877–1921), tugu tersebut dibangun kembali, namun bentuknya diubah. Pemerintah Kolonial Belanda kala itu diduga sengaja mengubah desain asli agar menghilangkan simbol persatuan raja dan rakyat.
Tugu yang semula berbentuk silinder dengan puncak bulat diubah menjadi berbentuk persegi dengan ujung runcing, dan tinggi tugu dipangkas dari 25 meter menjadi hanya 15 meter.
Peresmian tugu baru dilakukan pada 3 Oktober 1889, sekaligus menandai dimulainya babak baru ikon kota ini.
Prasasti yang Menyimpan Cerita
Tugu Golong Gilig tidak hanya menyimpan cerita melalui bentuknya, tetapi juga lewat prasasti yang terpasang di setiap sisinya.
Sisi Barat
Bertuliskan “YASAN DALEM INGKANG SINUHUN KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING VII”, yang berarti pembangunan dilakukan atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Sisi Timur
Terdapat tulisan “INGKANG MANGAYUBAGYA KARSA DALEM KANJENG TUWAN RESIDHEN Y. MULLEMESTER”. Ini menunjukkan bahwa Residen Yogyakarta saat itu, Y. Mullemester, mendukung pembangunannya, namun tanpa pendanaan dari Pemerintah Belanda.
Sisi Selatan
Memuat sengkalan “WIWARA HARJA MANGGALA PRAJA, KAPING VII SAPAR ALIP 1819”. Kata Wiwara berarti gerbang (angka 9), Harja berarti kemakmuran (angka 1), Manggala berarti pemimpin (angka 8), dan Praja berarti negara (angka 1). Sengkalan ini melambangkan harapan akan gerbang kemakmuran yang dimulai dari pemimpin negara.
Sisi Utara
Berisi tulisan “PAKARYANIPUN SINEMBADAN PATIH DALEM KANJENG RADEN ADIPATI DANUREJA INGKANG KAPING V. KAUNDHAGEN DENING TUWAN YPF VAN BRUSSEL. OPSIHTER WATERSTAAT”. Prasasti ini mengabadikan nama Patih Danureja V sebagai pemimpin proyek pembangunan, serta YPF Van Brussel sebagai arsitek dari Dinas Pengairan Belanda.
Tugu Golong Gilig di Era Modern
Sejak dibangun kembali pada abad ke-19, bentuk Tugu Golong Gilig tidak pernah mengalami perubahan besar, hanya perawatan rutin dan penataan area sekitarnya. Pada tahun 2015, pemerintah membangun miniatur Tugu Golong Gilig di sisi tenggara tugu utama.
Di sudut perempatan sebelah tenggara Tugu Golong Gilig berdirilah sebuah miniatur yang merepresentasikan bentuk asli tugu saat pertama kali dibangun pada abad ke-18.
Replika ini dirancang menyerupai desain awal karya pendiri Kesultanan Yogyakarta, lengkap dengan papan informasi yang memuat kisah perjalanan tugu dari masa ke masa.
Kehadiran miniatur tersebut menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal makna filosofis di balik tugu asli sekaligus menghargai kelestariannya dalam bentuk yang kini didesain oleh arsitek Belanda dan telah diakui sebagai cagar budaya serta ikon penting Kota Yogyakarta.
Miniatur ini dibuat menyerupai desain asli tahun 1756, lengkap dengan penjelasan sejarahnya, sehingga masyarakat dapat memahami makna filosofis di balik bangunan tersebut.
Kini, kawasan tugu dipercantik dengan penataan lanskap dan pencahayaan yang membuatnya semakin menarik sebagai destinasi wisata.
Melansir dari laman warta.jogja.go.id, masyarakat dan pengunjung bebas mengekspresikan diri saat berkunjung di Kawasan Tugu. Namun, tetap harus menjaga estetika dan kebersihan di lingkungan sekitar.
Tugu Pal Putih menjadi pusat dan ikon khas Yogyakarta yang selalu ramai pengunjung. Tugu Golong Gilig bukan hanya monumen, tetapi juga cerminan perjalanan panjang Yogyakarta yang mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu garis filosofi yang tak lekang oleh waktu.
***