TUGU JOGJAย – Krisis air bersih melanda Kalurahan Sumbergiri, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul, setelah debit aliran air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang bersumber dari Gua Gilap menurun. Kondisi itu membuat pasokan air ke rumah warga mengecil dan pada waktu tertentu berhenti mengalir.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bersama Kodim 0730/Gunungkidul dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul kemudian menyalurkan bantuan air bersih kepada warga pada Selasa (29/9/2026).
Penyaluran menyasar tiga padukuhan yang mengalami krisis air bersih. Bendogede dan Jarak menjadi sejumlah titik yang menerima bantuan karena warga di wilayah tersebut kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga.
Persoalan semakin berat karena permukiman warga tidak memiliki sumber mata air alami yang dapat digunakan sebagai alternatif ketika pasokan jaringan PDAM berkurang.
Di sisi lain, jaringan pipa yang belum merata membuat sebagian warga hanya menerima air dalam jumlah terbatas.
Kondisi itu membuat warga harus mencari sumber air lain yang lokasinya cukup jauh dari permukiman. Air kemudian dibawa secara manual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Suwarno, warga Bendogede, mengatakan kondisi tersebut menyulitkan masyarakat, terutama ketika harus mengambil air dari lokasi yang jauh. Kesulitan juga dirasakan warga yang memiliki keterbatasan fisik.
“Kelangkaan air bersih sempat menyulitkan warga saat penyelenggaraan acara hajatan juga. Terima kasih juga kepada Pemkab atas perhatiannya untuk warga,” ujar Suwarno.
Keterbatasan air bersih tidak hanya berdampak pada kebutuhan minum dan memasak. Warga juga harus mengatur penggunaan air untuk kebutuhan sanitasi dan berbagai aktivitas sehari-hari.
Krisis air turut memengaruhi pemeliharaan ternak. Warga membutuhkan air untuk menyediakan pakan dan komboran bagi sapi yang dipelihara.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak tersebut, Pemkab Gunungkidul bersama Kodim 0730/Gunungkidul dan BPBD Gunungkidul mengirimkan 16 tangki air bersih dalam kegiatan bakti sosial pada Selasa (29/9/2026).
Bantuan itu melengkapi delapan tangki yang sebelumnya telah disalurkan kepada masyarakat. Dengan demikian, total bantuan yang telah dikirim mencapai 24 tangki air bersih.
Bupati Gunungkidul, Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, dan Kepala BPBD Gunungkidul turut mendampingi proses penyaluran bantuan.
Selain distribusi menggunakan tangki, Pemkab Gunungkidul menyiapkan tempat penampungan air umum di sejumlah lokasi strategis. Bupati Gunungkidul menginstruksikan agar penampungan ditempatkan di titik seperti balai dusun, masjid, dan perempatan jalan.
Penempatan tersebut ditujukan agar warga tidak perlu menempuh jarak terlalu jauh untuk mendapatkan air.
Tempat penampungan juga menjadi bagian dari penanganan darurat selama pasokan air dari jaringan utama belum kembali normal.
Penanganan krisis air di Sumbergiri tidak hanya dilakukan melalui distribusi tangki. Kodim 0730/Gunungkidul juga mengupayakan pembuatan sumur bor dan pencarian sumber air bawah tanah.
Komandan Kodim 0730/Gunungkidul Letkol Inf Alfian Yudha Praniawan mengatakan pencarian sumber air tersebut telah menemukan sumber air di wilayah Panggang pada kedalaman sembilan meter. Tim juga mengkaji potensi sungai bawah tanah, termasuk Gua Bribin dan titik potensial baru di wilayah Girisubo.
“Program tersebut telah berhasil menemukan sumber air di wilayah Panggang pada kedalaman sembilan meter, serta mengkaji potensi sungai bawah tanah seperti Gua Bribin dan titik potensial baru di wilayah Girisubo,” kata Alfian.
Upaya tersebut menjadi bagian dari pencarian alternatif sumber air untuk mengurangi ketergantungan terhadap distribusi air menggunakan tangki ketika musim kemarau berlangsung.
Penanganan krisis air di Sumbergiri juga berlangsung dalam kegiatan bakti sosial menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI pada 5 Oktober. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul.
Selain persoalan ketersediaan air, pemerintah daerah dan TNI mengingatkan warga agar mewaspadai potensi kebakaran lahan dan sampah. Kondisi lahan yang kering meningkatkan risiko kebakaran, sementara prakiraan BMKG menunjukkan musim kemarau masih berlangsung.
Masyarakat diminta menghindari tindakan yang dapat memicu api, termasuk membakar sampah secara sembarangan. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.
Krisis air di Sumbergiri terjadi ketika debit sumber air menurun, sementara sebagian permukiman tidak memiliki mata air alami dan belum seluruhnya mendapatkan jaringan pipa secara merata.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menempuh penanganan darurat melalui distribusi air bersih sekaligus mengupayakan pencarian sumber air untuk kebutuhan jangka panjang.ย (ef linangkung)





