TUGU JOGJAย – Mitos tentang tumbal proyek dahulu bekerja terutama sebagai cerita ketakutan. Mitos seperti ini pun cukup populer di tanah Jawa, tak terkecuali di Yogyakarta.
Jadi, anak-anak sering kali diperingatkan agar tidak mendekati lokasi pembangunan. Jembatan, bendungan, gedung besar, atau fondasi baru dibayangkan membutuhkan korban agar bangunannya kokoh.
Kecelakaan pekerja bahkan dapat dengan cepat memperoleh penjelasan mistis: seseorang dianggap telah โdiambilโ sebagai tumbal.
Kini cerita tersebut memasuki ruang yang berbeda. Hal ini menjadi film, lagu bahkan podcast di berbagai platform media sosial.
Bangunan tua dan terbengkalai yang sebelumnya dihindari justru dicari sebagai lokasi foto, eksplorasi, sampai uji nyali.
Dengan kata lain, rasa takut tidak benar-benar menghilang. Tempat mengalami perubahan nilai guna.
Ketika kisah mistis dapat menarik penonton, menghasilkan tiket, mendatangkan kunjungan, atau memperoleh jutaan tayangan, mitos masuk ke dalam mekanisme ekonomi budaya.
Fenomena tersebut dapat disebut sebagai komodifikasi mitos, diana ketika cerita yang sebelumnya hidup melalui tradisi lisan kemudian dikemas menjadi produk yang memiliki nilai pasar.
Namun, sejarah tumbal proyek jauh lebih rumit dibandingkan cerita populer yang kerap beredar.
Kajian antropolog Gregory Forth yang diterbitkan jurnal Oceania pada 1991 mencatat rumor penculikan dan kepala manusia sebagai pengorbanan untuk fondasi jembatan atau bangunan modern telah muncul berulang kali di Indonesia.
Forth membahas bagaimana rumor tersebut berkembang di Flores Tengah dan membandingkannya dengan penelitian terdahulu di Kalimantan.
Cerita yang beredar menyebut agen negara membutuhkan kepala manusia untuk ditempatkan di bawah fondasi agar sebuah bangunan kuat.
Penelitian Stefan Danerek yang diterbitkan dalam Indonesia and the Malay World pada 2017 juga menunjukkan cerita tentang penculikan dan pengorbanan konstruksi tersebar luas sepanjang abad ke-20 di Indonesia.
Kajian itu bahkan menemukan konteks lokal tertentu di Indonesia timur yang lebih kompleks daripada sekadar rumor.
Namun, temuan tersebut tidak dapat digeneralisasi menjadi bukti bahwa setiap cerita โtumbal proyekโ di Jawa benar-benar berasal dari praktik pengorbanan manusia.
Artinya, mitos tersebut mempunyai banyak lapisan. Ada tradisi mengenai pengorbanan bangunan.
Ada memori mengenai perubahan sosial, ada pula ketakutan terhadap proyek besar.
Selain itu, terdapat hubungan dengan negara atau pihak luar yang dianggap mempunyai kekuasaan lebih besar.
Kemudian semua unsur tersebut bercampur menjadi cerita rakyat. Beragam versi cerita yang berkembang di Jawa juga sering dikaitkan dengan masa kolonial.
Sejumlah tulisan populer yang mengutip sejarawan Ong Hok Ham menyebut pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 pernah beredar rumor di perdesaan bahwa pemerintah kolonial membutuhkan tengkorak manusia untuk fondasi jembatan maupun bangunan pemerintah.
Rumor itu disebut membuat masyarakat mencurigai orang asing dan menyembunyikan anak-anak ketika isu penculikan merebak.
Tetapi ada satu cerita lain yang perlu diluruskan. Di internet kerap beredar klaim bahwa mitos tersebut bermula dari pekerja yang salah memahami perkataan orang Belanda agar mereka โmenggunakan otakโ atau โuse your headโ ketika bekerja.
Versi itu kemudian mengatakan kata โheadโ diterjemahkan secara harfiah menjadi kebutuhan kepala manusia.
Masalahnya, sejauh penelusuran sumber akademik yang tersedia, belum ditemukan bukti kuat yang mendukung cerita tersebut sebagai asal-usul historis tumbal proyek.
Bahkan sumber populer yang membahas klaim itu juga mengakui penjelasannya jauh lebih kompleks karena rumor tentang pengorbanan konstruksi telah muncul dalam berbagai tradisi Asia Tenggara.
Karena itu, cerita โsalah terjemahโ lebih aman ditempatkan sebagai urban legend mengenai urban legend, bukan fakta sejarah.
Mitos tumbal proyek justru menarik karena mampu bertahan ketika masyarakat semakin akrab dengan teknologi konstruksi modern.
Orang sekarang mengetahui jembatan dibangun melalui perhitungan struktur. Mereka mengenal beton bertulang.
Ada standar keselamatan kerja, ada rekayasa tanah, dan ada inspeksi.
Tetapi ketika muncul kecelakaan, proyek mangkrak, pekerja meninggal, atau konstruksi menghadapi masalah berulang, narasi tumbal dapat kembali muncul sebagai penjelasan alternatif.
Dan dari perspektif sosial, cerita seperti ini menawarkan jawaban sederhana terhadap sesuatu yang kompleks.
Kecelakaan konstruksi sebenarnya dapat berkaitan dengan prosedur keselamatan, kesalahan manusia, kegagalan teknis, kondisi alam, manajemen proyek, atau berbagai faktor lain.
Mitos menggantikan seluruh kompleksitas tersebut dengan satu jawaban dramatik yakni โProyeknya minta tumbal.โ
Di masa lalu, jawaban itu menghasilkan ketakutan. Kini ketakutan tersebut juga dapat menghasilkan konten.
Sementara itu, bicara soal bangunan tua, tempat ini sebenarnya tak cukup disebut tua. Tempat ini disebut angker.
Hotel mangkrak tidak cukup disebut proyek gagal. Tempa tersebut pun disebut proyek yang โmeminta korbanโ.
Kecelakaan tidak cukup disebut kecelakaan. Hal itu dimasukkan dalam narasi tumbal.
Proses tersebut menciptakan apa yang dapat disebut sebagai ekonomi rasa takut.
Tetapi ketika pembahasan beralih ke istilah dark tourism, batas konseptual perlu diperjelas.
Dalam kajian pariwisata, dark tourism secara umum didefinisikan sebagai perjalanan menuju tempat yang diasosiasikan dengan kematian, tragedi, penderitaan, bencana, kekerasan, atau pengalaman makab.
Contoh klasiknya adalah lokasi perang, kamp konsentrasi, penjara, monumen tragedi hingga tempat bencana.
Karena itu, sebuah gedung kosong tidak otomatis menjadi objek dark tourism hanya karena terlihat menyeramkan.
Begitu pula rumah tua yang disebut berhantu. Jika daya tarik utamanya berupa cerita makhluk gaib, aktivitas tersebut lebih dekat dengan paranormal tourism, ghost tourism, haunted tourism, atau urban exploration.
Namun, batas antarkategori tersebut memang tidak selalu tegas. Kajian akademik menyebut dark tourism sendiri merupakan istilah payung dengan spektrum luas dan pengalaman โgelapโ dapat berbeda tergantung sejarah lokasi maupun persepsi pengunjung.
Yogyakarta pun mempunyai contoh menarik mengenai persinggungan tersebut.
Pesanggrahan Sarjanawiyata Tamansiswa di Kaliurang, misalnya, merupakan bangunan tua yang kini tidak terurus.
Detik mencatat bangunan tersebut dibangun sebelum 1930, pernah berpindah fungsi dan kepemilikan, serta mengalami kerusakan akibat erupsi Merapi 1994. Kondisinya kemudian membuat tempat tersebut memperoleh reputasi angker.
Meski demikian, pengunjung masih datang untuk melihat bangunan, mengambil foto, hingga melakukan uji nyali.
Bahkan, temapt tersebut kini dikenal sebagai salah satu wisata horor yang populer di Yogyakarta. Fenomena ini menunjukkan transformasi penting.
Bangunan terbengkalai tidak lagi hanya dianggap ruang gagal. Tempat ini memperoleh nilai estetika dan naratif baru.
Dan kisah-kisah soal penampakan membuatnya semakin menarik bagi pengunjung tertentu. Adapun dalam istilah ekonomi budaya, sesuatu yang sebelumnya tidak produktif dapat memperoleh nilai baru karena storytelling.
Namun, ada persoalan lain ketika bangunan terbengkalai berubah menjadi tujuan eksplorasi yakni keselamatan dan legalitas akses.
Gedung kosong dapat mempunyai lantai rapuh, beton rusak, instalasi listrik terbuka, lubang, kaca pecah, atau struktur yang tidak lagi layak.
Tanah dan bangunan juga tetap mempunyai pemilik. Karena itu, popularitas konten uji nyali seharusnya tidak diterjemahkan sebagai izin memasuki bangunan secara sembarangan.
Klaim bahwa pengunjung di Jogja secara umum membayar โretribusi informalโ kepada penjaga untuk memasuki bangunan terbengkalai juga belum mempunyai bukti yang cukup kuat.
Praktik semacam itu mungkin muncul di lokasi tertentu, tetapi tidak dapat digeneralisasi menjadi model ekonomi dark tourism Yogyakarta.
Yang lebih jelas terlihat adalah ekonomi tidak langsungnya. Narasi horor menghasilkan tayangan.
Tayangan membangun reputasi lokasi, lalu reputasi mendatangkan pengunjung.
Pengunjung kemudian menciptakan konsumsi transportasi, kuliner, jasa pemandu, konten foto, atau kebutuhan lain.
Dalam situasi tertentu, pemilik atau pengelola bahkan dapat mengembangkan tur resmi.
Di sinilah komodifikasi dapat berubah dari aktivitas liar menjadi produk wisata yang lebih terkelola.
Namun, dark tourism juga mempunyai dilema etika. Hal ini dapat menjadi ruang memori, ruang duka, dan ruang pendidikan.
Akan tetapi, ketika tragedi dikemas hanya sebagai sensasi menyeramkan, pengalaman manusia yang sebenarnya dapat terhapus.
Karena itu, tak semua hal layak dijual dengan cara yang sama. Bangunan fiktif dalam film bebas dijadikan arena horor.
Tetapi lokasi bencana, kecelakaan besar, atau penderitaan nyata membutuhkan sensitivitas berbeda. Batas tersebut yang kemudian semakin penting dicermati, apalagi di era media sosial seperti saat ini.***





