Budaya Nglaju dan Resiliensi Pengendara Motor Lawas di Yogyakarta

Bagikan :
Ilustrasi | Fenomena penglaju motor lawas di Jogja (AI // Tugu Jogja)

TUGU JOGJAย – Rutinitas nglaju menggunakan sepeda motor lawas melintasi kerasnya aspal antarkota bukan sekadar kompromi atas keterbatasan ekonomi.

Hal ini pada dasarnya dapat dikatakan sebagai manifestasi nyata dari resiliensi dan solidaritas kelas pekerja di Indonesia, tak terkecuali di Yogyakarta.

Di antara deretan skuter matik keluaran terbaru, masih mudah ditemukan kendaraan yang usianya sudah lebih dari satu dekade.

Honda Astrea, Supra, Revo, Suzuki Shogun, Yamaha Vega, maupun Vespa generasi lama masih menjadi alat mobilitas bagi sebagian masyarakat.

Bagi pemiliknya, motor tersebut tidak selalu dipertahankan karena nostalgia. Ada pertimbangan ekonomi yang jauh lebih konkret.

Berdasarkan penelitian Nindyo Cahyo Kresnanto, Wika Harisa Putri, dan Rini Raharti yang diterbitkan dalam Case Studies on Transport Policy pada 2025, masyarakat berpenghasilan rendah di Yogyakarta menunjukkan tingkat ketergantungan tinggi terhadap sepeda motor untuk perjalanan harian.

Penelitian terhadap 430 responden tersebut menemukan bahwa penghematan biaya, efisiensi waktu, dan faktor sosial mempunyai pengaruh signifikan terhadap ketergantungan penggunaan sepeda motor.

Kajian tersebut juga menyoroti terbatasnya alternatif transportasi publik yang dianggap layak bagi sejumlah komuter berpenghasilan rendah di Yogyakarta.

Temuan ini membuat penggunaan sepeda motor dapat dibaca bukan semata sebagai pilihan gaya hidup.

Bagi sebagian pekerja, kendaraan roda dua merupakan infrastruktur pribadi yang memungkinkan mereka menghubungkan rumah dengan tempat kerja ketika pilihan mobilitas lain dianggap terlalu mahal, lebih lama, atau tidak menjangkau rute perjalanan mereka.

Motor lawas kemudian mempunyai posisi tersendiri. Seseorang yang telah memiliki kendaraan selama bertahun-tahun tidak perlu menanggung cicilan kendaraan baru.

Selama kendaraan masih dapat digunakan dengan aman dan biaya perawatannya terkendali, mempertahankan motor lama dapat menjadi pilihan finansial yang masuk akal.

Namun anggapan bahwa motor tua selalu lebih murah perlu diberi batas. Motor berumur panjang dapat membutuhkan penggantian ban, rantai, sproket, kampas rem, kabel, suspensi, bearing, aki, sistem kelistrikan, hingga komponen mesin.

Biaya perawatan dapat meningkat seiring umur dan intensitas pemakaian.

Karena itu, nilai ekonominya tidak ditentukan hanya oleh usia kendaraan, tetapi oleh kondisi aktual, ketersediaan suku cadang, konsumsi bahan bakar, biaya perbaikan, dan seberapa jauh kendaraan digunakan setiap hari.

Hal yang sama berlaku untuk pajak kendaraan. Motor lawas memang dapat mempunyai nilai jual kendaraan bermotor yang lebih rendah dibandingkan model baru tertentu, tetapi besaran pajak tidak semata-mata ditentukan usia.

Baca juga  Rumah Kanthil Jogja, Kisah Mistis Sosok 'Barowo' dan Fakta Asli Bangunannya

Karena itu, menyebut seluruh motor tua mempunyai pajak jauh lebih murah juga terlalu sederhana.

Beberapa sepeda motor lama memang sejak awal dipasarkan sebagai kendaraan fungsional.

Honda Revo Fit misalnya mulai diperkenalkan di Indonesia pada 2011 sebagai varian sepeda motor bebek berharga terjangkau yang membidik konsumen dengan kebutuhan kendaraan utilitarian.

Pada masa peluncurannya, Astra Honda Motor menekankan aspek fungsional dan efisiensi sebagai karakter produk tersebut.

Lima belas tahun kemudian, keberadaan model seperti itu di jalan memperlihatkan satu hal penting. Umur ekonomis kendaraan sangat bergantung pada perawatan.

Motor tua yang dirawat dengan baik dapat terus berfungsi. Sebaliknya, kendaraan yang mengabaikan rem, ban, rantai, oli, lampu, dan komponen keselamatan dapat menjadi risiko meskipun mesinnya masih mampu menyala.

Berdasarkan publikasi Universitas Janabadra pada 2026 mengenai pelayanan servis sepeda motor bagi masyarakat Warungboto, perawatan preventif seperti pemeriksaan kendaraan, penggantian oli, pembersihan filter, dan pemahaman terhadap gejala awal kerusakan dinilai penting untuk menjaga keandalan serta keselamatan kendaraan harian.

Program tersebut sekaligus memberikan edukasi mengenai sejumlah perawatan dasar yang dapat dipahami pemilik kendaraan.

Di sinilah pengetahuan mekanis mempunyai nilai ekonomi. Pemilik motor yang memahami cara mengecek tekanan ban, kondisi rantai, oli, busi, lampu, atau kampas rem mempunyai kemampuan mendeteksi masalah lebih dini.

Sebagian pekerjaan sederhana memang dapat dilakukan sendiri.

Namun kemampuan tersebut tidak berarti semua kerusakan sebaiknya dikerjakan tanpa mekanik. Sistem rem, mesin, kelistrikan, suspensi, dan komponen keselamatan tetap membutuhkan penanganan yang benar.

Sementara itu, keterikatan pengendara dengan motor lawas juga mempunyai dimensi sosial.

Namun solidaritas jalanan perlu dibedakan antara pengalaman individual pengendara sehari-hari dengan budaya komunitas motor yang memang sudah terorganisasi.

Belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa pengendara motor lawas secara umum akan otomatis berhenti setiap kali melihat motor tua lain mogok.

Kebiasaan memberikan bantuan memang mudah ditemui sebagai cerita pengalaman berkendara, tetapi menjadikannya sebagai kode etik universal akan terlalu jauh.

Bukti yang lebih kuat ditemukan pada komunitas kendaraan.

Mengacu pada penelitian Sosiologi UGM mengenai komunitas Motor CB Yogyakarta atau MOBTA, sepeda motor tidak hanya dimaknai sebagai alat transportasi.

Baca juga  Menelisik Makna Pepatah "Menang Tanpo Ngasorake": Seni Kemenangan Sejati Tanpa Merendahkan

Motor menjadi medium yang membentuk hubungan sosial antarpengendara. Penelitian tersebut menemukan nilai solidaritas dipelihara sebagai bagian dari kekuatan jejaring sosial komunitas dan membuka hubungan baru antaranggota maupun sesama pengendara CB.

Kajian lain dari Universitas Negeri Yogyakarta mengenai modal sosial komunitas motor juga menunjukkan bahwa interaksi antarkomunitas dapat membentuk jaringan sosial.

Saling mengenal, interaksi rutin, dan kepentingan bersama menjadi modal yang mempertahankan hubungan antarpengendara.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk solidaritas semacam itu dapat mempunyai nilai praktis. Adapun informasi mengenai bengkel yang murah dan dapat dipercaya menjadi berguna.

Begitu pula informasi keberadaan suku cadang lama yang semakin sulit ditemukan.

Pengetahuan tentang masalah kelistrikan, karburator, rantai, busi, ban, hingga lokasi tambal ban dapat dipertukarkan antarorang yang mempunyai pengalaman kendaraan serupa.

Bagi pemilik kendaraan lama, informasi tersebut merupakan bentuk modal sosial.

Nilainya tidak selalu berupa uang. Dengan kata lain, seseorang dapat menghemat waktu dan menghindari salah membeli komponen karena mendapatkan rekomendasi orang lain.

Komunitas juga dapat menghadirkan mekanisme bantuan ketika anggota mengalami masalah.

Namun fungsi jaringan tersebut tidak boleh langsung diperluas menjadi klaim bahwa komunitas motor selalu menyediakan lowongan pekerjaan, tempat tinggal, atau pinjaman darurat.

Setiap kelompok mempunyai karakter dan kapasitas berbeda.

Penelitian tentang komunitas motor di sejumlah daerah memang menunjukkan solidaritas dapat diwujudkan melalui komunikasi, kerja sama, bantuan, dan kegiatan sosial, tetapi temuan dari satu komunitas tidak otomatis menggambarkan seluruh pengendara di Indonesia.

Konsep resiliensi kelas pekerja juga perlu dibaca dengan cara serupa. Mengendarai motor tua puluhan kilometer setiap hari memang membutuhkan adaptasi.

Namun tak semua orang memaknainya sebagai perjuangan kelas. Dan bagi sebagian orang, kendaraan lama hanya merupakan alat yang masih berfungsi dan belum perlu diganti.

Justru di situlah letak menariknya. Resiliensi tidak selalu muncul melalui keputusan yang dramatis.

Ia dapat hadir sebagai serangkaian keputusan kecil yang dilakukan berulang kali untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari.

Menambal ban daripada membeli baru ketika masih aman digunakan. Mengganti satu komponen daripada mengganti seluruh kendaraan.

Merawat mesin agar dapat digunakan satu tahun lagi. Mengatur uang bensin agar perjalanan kerja tetap berjalan sampai gajian berikutnya.

Dan dalam kerangka ekonomi rumah tangga, keputusan mempertahankan kendaraan juga berkaitan dengan biaya kesempatan.

Baca juga  Mengupas Makna Filosofi Bleketepe dalam Pernikahan Adat Jawa, Simbol Penyucian dan Tolak Bala

Membeli motor baru menggunakan kredit berarti sebagian penghasilan bulanan harus dialokasikan untuk cicilan.

Mempertahankan motor lama menghindarkan kewajiban tersebut, tetapi sebagai gantinya pemilik menerima risiko biaya perbaikan yang lebih sulit diprediksi.

Tiada pilihan yang selalu lebih baik. Motor lama lebih rasional apabila kondisi teknisnya masih layak dan biaya perawatannya tidak berlebihan.

Motor baru dapat lebih masuk akal apabila kendaraan lama terlalu sering rusak, konsumsi bahan bakarnya memburuk, atau biaya perawatannya mulai mengganggu kemampuan pemilik bekerja.

Karena itu, mempertahankan motor lawas juga tidak otomatis dapat disebut sebagai resistensi terhadap konsumerisme.

Resistensi mengandaikan adanya sikap sadar untuk menolak pola konsumsi tertentu. Sebagian pemilik memang mungkin mempunyai pandangan seperti itu.

Mereka memilih tidak mengambil kredit hanya demi mengikuti tren. Namun sebagian lainnya bertahan dengan kendaraan lama karena belum mempunyai kemampuan finansial untuk mengganti kendaraan.

Dua situasi tersebut tidak sama. Dan menyebut keduanya sebagai perlawanan terhadap konsumerisme justru berisiko meromantisasi keterbatasan ekonomi.

Penelitian tahun 2025 mengenai ketergantungan sepeda motor di kalangan masyarakat berpendapatan rendah Yogyakarta memberi konteks yang lebih kuat.

Ketergantungan tersebut tidak semata muncul dari kecintaan terhadap kendaraan. Hal ini juga berkaitan dengan kondisi sistem transportasi dan kemampuan masyarakat memperoleh mobilitas yang terjangkau.

Dengan kata lain, motor bukan hanya benda milik seseorang. Hal tersebut sejatinya mengisi kekosongan yang muncul ketika jarak rumah dan tempat kerja tidak mudah dihubungkan oleh pilihan transportasi lain.

Dan pada kondisi seperti itu, kerusakan sepeda motor dapat mempunyai konsekuensi ekonomi yang jauh lebih besar daripada ongkos bengkel.

Dengan demikian, budaya nglaju dengan motor lawas di Yogyakarta tak perlu dibingkai sebagai kisah heroik seluruh kelas pekerja.

Realitasnya lebih kompleks. Ada tekanan biaya transportasi, ada pulaketerbatasan alternatif mobilitas.

Selain itu, ada pengetahuan perawatan, jaringan sosial pengendara, keterikatan terhadap kendaraan hingga keputusan ekonomi rumah tangga yang terus dihitung per bulannya.

Di antara semua faktor tersebut, motor lawas menjadi alat untuk mempertahankan akses terhadap pekerjaan.

Solidaritas yang muncul di sekelilingnya pun bukan semata lahir karena usia kendaraan, melainkan karena pengalaman dan kebutuhan yang dibagi oleh pengendaranya.

Itulah sebabnya kendaraan berusia belasan tahun masih memiliki tempat di jalan-jalan Yogyakarta.***

Berita Terbaru

30 lurah terpilih hasil Pilur Serentak Bantul 2026. Bupati Halim mengajak warga menerima hasil dan menjaga persaudaraan.
Ini Nama 30 Lurah Terpilih di Pilur Bantul 2026, Bupati Abdul Halim Titip Pesan: Jangan Terpecah karena Beda Pilihan
unnamed (20)
6 Toko Camilan Murah di Jogja, Pilihan Snack Lengkap untuk Jajan atau Oleh-oleh
zoshua-colah-W_H1sClALf0-unsplash
6 Toko Buah Segar di Jogja, Ada yang Buka 24 Jam dan Jual Buah Impor
rob-lambert-9Q_pLLP_jmA-unsplash
5 Bengkel Las di Jogja, Ada yang Buka 24 Jam dan Bisa Dipanggil
Budaya Nglaju Motor Lawas Jogja
Budaya Nglaju dan Resiliensi Pengendara Motor Lawas di Yogyakarta

Pilihan Editor

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

Penyebab Lisman Puja Kesuma Meninggal

M. Lisman Puja Kesuma Meninggal Dunia, Apa Penyebab Kepergiannya?

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

maxime-bhm-icyZmdkCGZ0-unsplash

40 Event Jogja Oktober 2026, Ada Konser, Festival, Running Event hingga Seni Budaya

Kapan Kelok 23 Terakhir Dibuka

Kelok 23 Buka Sampai Kapan? Ini Jadwal Terakhir dan Aturan Melintasnya

Artikel Populer

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

Penyebab Lisman Puja Kesuma Meninggal

M. Lisman Puja Kesuma Meninggal Dunia, Apa Penyebab Kepergiannya?

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

maxime-bhm-icyZmdkCGZ0-unsplash

40 Event Jogja Oktober 2026, Ada Konser, Festival, Running Event hingga Seni Budaya

Kapan Kelok 23 Terakhir Dibuka

Kelok 23 Buka Sampai Kapan? Ini Jadwal Terakhir dan Aturan Melintasnya