TUGU JOGJAย – Di tengah perkembangan industri hiburan modern di Yogyakarta, Ketoprak Tobong menjadi salah satu kesenian tradisional yang berada dalam posisi unik.
Bentuk pertunjukannya semakin langka, pola hidup berpindah yang dahulu menjadi ciri khasnya mulai berubah, tetapi praktik keseniannya belum benar-benar hilang.
Ketoprak Tobong seolah berada dalam ruang liminal: tidak lagi hidup sepenuhnya seperti pada masa ketika rombongan berpindah dari desa ke desa, tetapi juga belum meninggalkan akar tradisional yang membentuk identitasnya.
Jejak tersebut kini salah satunya dijaga oleh Ketoprak Tobong Bhakti Budaya di Cangkringan, Sleman. Data kebudayaan Kalurahan Wukirsari menyebut Bhakti Budaya sebagai satu-satunya kelompok kesenian ketoprak di DIY yang masih memiliki tobong. Kelompok tersebut sekarang menetap di Dusun Brayut, Wukirsari, Cangkringan.
Keberadaannya menjadi menarik karena tobong bukan sekadar panggung.
Dan dalam tradisi ketoprak keliling, istilah tobong merujuk pada keseluruhan ekosistem pertunjukan.
Tobong dapat berupa panggung bingkai semi-permanen berbahan bambu atau kayu yang dapat dibongkar dan dipindahkan.
Namun, konsepnya melampaui panggung karena di dalam rombongan juga terdapat instrumen gamelan, perlengkapan pertunjukan, ruang persiapan hingga tempat singgah para pemain.
Ketika rombongan berpindah, yang bergerak bukan hanya para aktor. Panggung, dekorasi, kostum, perlengkapan hidup, hingga komunitas di sekitar pertunjukan ikut bergerak bersama.
Karena itulah Ketoprak Tobong pada masa lalu bukan sekadar kesenian yang melakukan tur, melainkan komunitas hidup yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Penelitian mengenai eksistensi Kelana Bhakti Budaya yang diterbitkan International Journal of Creative and Arts Studies juga menggambarkan ketoprak tobong sebagai teater tradisional Jawa yang hidup dengan pola berpindah.
Bagi anggota kelompok, ketoprak dan tobong bahkan menjadi bagian dari identitas mereka, bukan hanya pekerjaan pertunjukan.
Adapun kelangkaan Ketoprak Tobong ini pada dasarnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya perubahanย medium hiburan, biaya operasional, menyusutnya penonton, hingga semakin sulitnya mempertahankan model pertunjukan keliling menjadi tantangan yang berlangsung dalam waktu panjang.
Penelitian Institut Seni Indonesia Surakarta mencatat strategi bertahan Kelana Bhakti Budaya dilakukan melalui prinsip kekeluargaan, fleksibilitas dalam mengelola kelompok, mencari dukungan donor, hingga mempromosikan kesenian melalui berbagai kegiatan budaya. Sebagian anggota juga menjalankan pekerjaan lain di luar ketoprak untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kelangkaan Ketoprak Tobong bukan berarti praktik seninya berhenti.
Yang berubah justru cara kelompok tersebut bertahan. Pada masa ketika ketoprak keliling mampu menggantungkan hidup dari penonton, tobong dapat bergerak mengikuti keramaian.
Kini, model itu semakin sulit dipertahankan sehingga diperlukan bentuk baru untuk mempertemukan pertunjukan tradisional dengan masyarakat kontemporer.
Dan tantangan terbesar kesenian tradisional tidak berhenti pada persoalan jumlah penonton.
Regenerasi menjadi persoalan lain yang sama pentingnya. Ketoprak Tobong membutuhkan pemain yang mampu memahami karakter, bahasa Jawa, improvisasi, dialog, gerak, musik, hingga interaksi dengan penonton.
Ketika mata rantai pelaku seni terputus, bangunan tobong dapat tetap berdiri tetapi pengetahuan di dalamnya perlahan menghilang.
Dan upaya memperkenalkan Ketoprak Tobong kepada masyarakat kembali terlihat pada September 2026.
Melansir dari Instagram resmi Dinas Kebudayaan DIY, @dinaskebudayaandiy, diketahui bahwa Ketoprak Tobong menjadi bagian dari ruang apresiasi seni tradisi dalam pertunjukan yang digelar pada Selasa, 22 September 2026, di Pulau Risata, Yogyakarta.
Panggung tersebut menampilkan karya yang digarap Risang Yuwono dari Tobong Institute dengan lakon Ati Segara.
Nama Ati Segara sendiri bukan karya baru dalam perjalanan Tobong Institute. Karya tersebut sebelumnya pernah dikembangkan menjadi bentuk folklore cinema pada 2021.
Ceritanya merangkai tiga kisah perempuan dalam lintasan sejarah Jawa, termasuk Pramodhawardhani, Raden Ayu Matah Ati, dan Mangkarawati.
Kehadiran kembali karya tersebut pun memperlihatkan pola menarik dalam pelestarian Ketoprak Tobong.
Tradisi tidak diperlakukan sebagai benda mati yang hanya disimpan. Kisah dapat dibaca ulang, media dapat berubah, panggung dapat berpindah, dan pola promosi dapat mengikuti zaman selama karakter dasar keseniannya masih dipertahankan.
Ketoprak Tobong kemudian berada di antara dua ruang. Satu kaki masih berpijak pada sistem seni pertunjukan kerakyatan masa lalu, sementara kaki lainnya mencoba memasuki pola konsumsi budaya generasi sekarang.
Posisi semacam itulah yang membuat istilah ruang liminal relevan untuk membaca keberadaannya yakni sebuah fase peralihan ketika bentuk lama tidak sepenuhnya menghilang, sementara bentuk baru terus dinegosiasikan.
Pelestarian pada akhirnya tidak harus berarti mengembalikan Ketoprak Tobong persis seperti ketika kesenian itu berada pada masa kejayaan.
Tantangannya justru bagaimana membuat nilai, pengetahuan, karakter pertunjukan, dan ekosistem sosialnya tetap dapat diwariskan tanpa menutup diri terhadap perubahan zaman.
Selama panggung masih dibuka, pemain masih bersedia berproses, dan generasi baru masih diberi kesempatan mengenal ketoprak, tobong belum benar-benar kehilangan kehidupannya.***





