Membaca Liminalitas dan Communitas dalam Ritual Mubeng Beteng Yogyakarta

Bagikan :
Ilustrasi | Tradisi Mubeng Beteng dan liminalitas di dalamnya /Kraton Jogja

TUGU JOGJAย – Di Yogyakarta, ada salah satu tradisi yang populer dan rutin dilakukan setiap tahunnya yaitu Mubeng Beteng.

Adapun bagi Keraton Yogyakarta dan masyarakat yang mengikutinya, Mubeng Beteng merupakan momentum refleksi diri, doa, serta ikhtiar menyambut tahun baru Jawa.

Namun jika dibaca melalui perspektif antropologi ritual, prosesi ini juga menawarkan lapisan pemaknaan lainnya yakni pengalaman bersama ketika peserta untuk sementara keluar dari ritme keseharian dan memasuki sebuah waktu transisi.

Di sinilah konsep liminalitas dapat digunakan sebagai perangkat analisis. Konsep tersebut mula-mula berkaitan dengan pemikiran antropolog Arnold van Gennep mengenai ritus peralihan yang terdiri atas fase pemisahan, transisi, dan penggabungan kembali.

Seorang ahli antropolog asal Skotlandia, Victor Turner kemudian mengembangkan pembacaan mengenai fase tengah atau liminal, yakni keadaan ketika seseorang berada di antara kondisi lama dan kondisi baru, betwixt and between.

Dan jika dikaitkan dengan tradisi Mubeng Beteng, maka istilah liminalitas waktu kolektif lebih tepat dipahami sebagai cara membaca pengalaman ritual tersebut, bukan sebagai makna resmi yang eksplisit diberikan oleh Keraton.

Adapun tradisi ini berlangsung persis pada titik pergantian hari. Berdasarkan publikasi resmi Keraton Yogyakarta mengenai pelaksanaan Mubeng Beteng 1 Sura Je 1958, peserta mulai berjalan dimulai pukul 24.00 WIB setelah lonceng di kompleks Keben dibunyikan sebanyak 12 kali.

Mereka kemudian berjalan sekitar lima kilometer mengitari Benteng Baluwarti dengan arah berlawanan jarum jam.

Kundha Kabudayan DIY juga mencatat pola serupa. Dalam penyelenggaraan 2024, ribuan peserta bergerak sekitar 4,5 kilometer melalui Keben, Ngabean, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, kemudian kembali menuju Keben.

Baca juga  Mengenal Misteri Pohon di Perempatan Jogja, Kenapa Selalu Ada? Ini Penjelasannya

Pemilihan malam pergantian tahun membuat prosesi tersebut menarik ketika ditempatkan dalam perspektif antropologi waktu. Peserta telah meninggalkan tahun sebelumnya, tetapi pada momen transisi itu baru saja memasuki tahun yang baru.

Penelitian dan kajian mengenai liminalitas menunjukkan bahwa pengalaman ritual semacam ini dapat menciptakan kondisi temporal ketika kehidupan biasa seolah ditangguhkan sejenak.

Kajian antropologi yang mengembangkan pemikirannya juga menekankan bahwa liminalitas dapat memiliki dimensi temporal yakni sebuah masa transisi antara satu struktur dan struktur berikutnya.

Dengan kerangka itu, tengah malam dalam Mubeng Beteng dapat dibaca bukan sekadar sebagai angka 00.00, melainkan sebagai batas simbolik antara waktu yang ditinggalkan dan waktu yang sedang dimulai.

Tentu, pembacaan tersebut perlu dibedakan dari kepercayaan bahwa terdapat โ€œgerbang dimensiโ€ yang secara literal terbuka pada malam 1 Suro. Klaim semacam itu berada dalam ranah keyakinan atau mitologi, bukan fakta yang dapat dipastikan secara empiris.

Berdasarkan publikasi Museum Sonobudoyo, malam 1 Suro memang memperoleh kedudukan khusus dalam tradisi Jawa sebagai momentum yang diisi dengan laku prihatin, perenungan, doa, dan permohonan keselamatan.

Di Yogyakarta, salah satu ekspresinya adalah Mubeng Beteng yang dilakukan dalam suasana tapa bisu.

Tapa Bisu, Liminalitas, dan Munculnya Communitas

Unsur paling menonjol dari Mubeng Beteng adalah keheningan. Mengacu pada dokumentasi resmi Dinas Kebudayaan DIY, peserta tidak berbicara dan berjalan tanpa alas kaki selama mengitari benteng.

Baca juga  Mengenal Asal Usul Jimpitan, Tradisi Gotong Royong yang Masih Lestari di Jogja

Keraton Yogyakarta menyebut laku tersebut sebagai bagian dari tirakat lampah ratri, perjalanan malam yang bersifat meditatif serta menjadi sarana refleksi diri dan doa kepada Sang Pencipta.

Museum Sonobudoyo bahkan menempatkan tapa bisu sebagai inti dari Mubeng Beteng. Keheningan dipahami sebagai kesempatan untuk menahan diri, menundukkan kegaduhan batin, serta melakukan introspeksi.

Di titik inilah pemikiran soal liminalitas kembali relevan. Dalam teorinya, individu pada fase liminal untuk sementara berada di luar struktur sosial normal.

Perbedaan status yang biasanya menentukan relasi keseharian dapat berkurang, lalu muncul pengalaman kebersamaan yang dalam teori disebut sebagai communitas.

Merujuk kajian mengenai pemikiran tersebut, communitas menggambarkan ikatan sementara yang relatif egaliter di antara orang-orang yang bersama-sama melewati pengalaman liminal.

Identitas berdasarkan jabatan, kelas, atau kedudukan sosial tidak selalu hilang secara faktual, tetapi dapat menjadi kurang dominan selama ritual berlangsung.

Karena itu, akan terlalu jauh jika dikatakan Mubeng Beteng benar-benar โ€œmenghapus seluruh hierarki sosialโ€. Kenyataannya, prosesi tetap mempunyai struktur yakni abdi dalem memimpin perjalanan dan masyarakat umum mengikuti di belakangnya.

Namun pada tingkat pengalaman ritual, ribuan peserta menjalani tindakan yang serupa yaitu berjalan, diam, dan melakukan refleksi dalam ruang serta waktu yang sama.

Kondisi itulah yang memungkinkan konsep communitas dipakai untuk membaca bentuk kebersamaan yang muncul selama prosesi.

Dimensi kolektif tersebut juga terlihat dari tujuan ritual.

Baca juga  Bikin Merinding! Ini 5 Urban Legend di Jogja yang Populer di Kalangan Mahasiswa

Melansir dari penjelasan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, diketahui bahwa Mubeng Beteng sebagai tradisi yang berkaitan dengan refleksi, penyucian diri, serta permohonan keselamatan dan keberkahan kepada Tuhan ketika memasuki pergantian tahun.

Upacara Mubeng Beteng sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015 dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan.

Sebuah penelitian mengenai akulturasi Islam dan tradisi Jawa dalam Mubeng Beteng di Yogyakarta juga menemukan bahwa masyarakat memaknainya sebagai bentuk refleksi atas perbuatan selama satu tahun sekaligus ekspresi pertemuan nilai spiritual dan budaya.

Dan dari sudut antropologi, perjalanan itu kemudian dapat dibaca sebagai sebuah siklus, dimana peserta meninggalkan rutinitas, memasuki ruang ritual dengan aturan khusus, lalu kembali pada kehidupan sehari-hari setelah prosesi berakhir.

Namun โ€œkelahiran spiritualโ€ setelah Mubeng Beteng sebaiknya tak ditempatkan sebagai fakta otomatis yang dialami setiap peserta.

Hal ini lebih tepat menjadi metafora antropologis untuk menggambarkan kemungkinan munculnya refleksi dan orientasi baru setelah seseorang melewati sebuah ritual transisi.

Dengan demikian, keistimewaan Mubeng Beteng tidak hanya terletak pada ribuan orang yang berjalan mengitari Keraton dalam diam.

Tradisi tersebut mempertemukan pergantian kalender, ruang sakral budaya, disiplin tubuh, keheningan, doa, serta pengalaman kolektif dalam satu prosesi.

Ketika dibaca dengan teori tertentu, maka malam 1 Suro menjadi semacam ruang ambang yakni waktu ketika rutinitas ditangguhkan dan peserta bersama-sama mengarahkan perhatian pada apa yang telah dilewati serta apa yang akan dijalani.***

Berita Terbaru

appshunter-io-KpuAFDLvj78-unsplash
Mau Bikin Gambar dari Jalur Lari? Ini Rute Strava Art Kucing dan Anjing di Jogja
unnamed (17)
10 Tempat Makan Sate Kronyos di Jogja, Ada yang Sekaligus Jual Sate Klathak
volodymyr-hryshchenko-87ev1NvhDsU-unsplash
Bidan Jogja yang Bisa USG, Ini Beberapa Tempat yang Bisa Dipertimbangkan
babak-eshaghian-Iak5s6fRgqs-unsplash
8 Toko Perlengkapan Bayi di Jogja, Ada Baby Shop hingga Toko Grosir
f2acd8e4-cd17-494e-83cb-1c987e53d34a
Membaca Liminalitas dan Communitas dalam Ritual Mubeng Beteng Yogyakarta

Pilihan Editor

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

6188312807523160326

10 Mahasiswa FT UGM Dinonaktifkan Sementara Terkait Dugaan Percakapan Pelecehan Seksual

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

swello-lpL3uC4N0mg-unsplash

Kalender Oktober 2026: Hanya Ada 4 Tanggal Merah, Ini Daftar Hari Besar Nasional dan Internasional

Artikel Populer

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

6188312807523160326

10 Mahasiswa FT UGM Dinonaktifkan Sementara Terkait Dugaan Percakapan Pelecehan Seksual

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

swello-lpL3uC4N0mg-unsplash

Kalender Oktober 2026: Hanya Ada 4 Tanggal Merah, Ini Daftar Hari Besar Nasional dan Internasional