Mengenal Basa Walikan Jogja, Bahasa Rahasia yang Kini Jadi Identitas Budaya

Bagikan :
Ilustrasi | Mengenal Basa Walikan di Jogja (AI // Tugu Jogja)

TUGU JOGJAย – Yogyakarta tidak hanya mempunyai warisan budaya dalam bentuk bangunan, kuliner, atau kesenian tradisional.

Kota ini juga menyimpan jejak sosial melalui bahasa, salah satunya Basa Walikan yang melahirkan kosakata populer seperti dab, dagadu, poya, hingga mothig.

Bagi sebagian generasi muda hari ini, kata-kata tersebut mungkin terdengar seperti bahasa gaul khas Jogja. Namun, perjalanan Basa Walikan jauh lebih panjang.

Bahasa ini pernah berfungsi sebagai sandi untuk menyembunyikan informasi, berkembang dalam komunitas jalanan, membentuk rasa keakraban antarkelompok, hingga kemudian masuk ke budaya populer.

Dalam konteks tersebut, Basa Walikan dapat dibaca sebagai semacam โ€œkriptografi jalananโ€. Istilah ini bukan berarti sistem enkripsi modern seperti yang digunakan dalam keamanan digital, melainkan merujuk pada fungsi praktisnya sebagai kode komunikasi yang hanya mudah dipahami oleh orang yang mengetahui rumusnya.

Menariknya, sistem ini tidak dibentuk dengan membalik kata secara sembarangan.

Basa Walikan Jogja menggunakan pola substitusi berdasarkan susunan aksara Jawa Hanacaraka. Baris pertama aksara Jawa dipertukarkan dengan baris ketiga, sedangkan baris kedua ditukar dengan baris keempat.

Melansir dari penjelasan Paniradya Kaistimewan DIY yang pernah dipublikasikan mengenai Basa Walikan, pasangan tersebut meliputi ha-pa, na-dha, ca-ja, ra-ya, ka-nya, da-ma, ta-ga, sa-ba, wa-tha, serta la-nga. Dengan pola tersebut, kata matamu dapat berubah menjadi dagadu.

Rumus itulah yang membuat Basa Walikan berbeda dengan bahasa โ€œdibalikโ€ biasa.

Huruf atau bunyi tidak sekadar dibaca dari belakang menuju depan. Konsonan diganti berdasarkan pasangannya dalam aksara Jawa, sementara vokalnya pada dasarnya dipertahankan.

Baca juga  Gunung Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Guguran 2 Km, Warga Diminta Jauhi Alur Sungai

Berdasarkan kajian linguistik mengenai kaidah Basa Walikan, perubahan apik misalnya secara sistem dapat menghasilkan pahiny, tetapi dalam penggunaan sehari-hari lebih lazim diucapkan menjadi pahin.

Penyesuaian bunyi semacam ini menunjukkan bahwa praktik berbahasa tetap mengikuti kemudahan pengucapan, bukan rumus secara kaku.

Jejak Basa Walikan juga tidak dapat dilepaskan dari fungsi kerahasiaannya.

Berdasarkan jurnal โ€œBahasa Walikan Jogja: Analisis Fungsi dan Eksistensiโ€ yang terbit dalam Caraka: Jurnal Ilmu Kebahasaan, Kesastraan, dan Pembelajarannya Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) pada 2023, bahasa ini disebut pernah digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengecoh mata-mata penjajah pada masa pra-kemerdekaan.

Dalam pembacaan tersebut, fungsi awalnya sangat dekat dengan prinsip sebuah sandi.

Ketika pihak lain memahami bahasa Jawa sehari-hari, pola kata diubah dengan sistem tertentu agar makna percakapan tidak langsung diketahui orang di luar kelompok.

Perjalanan sosialnya kemudian semakin menarik memasuki dekade 1980-an.

Berdasarkan kajian Caraka tersebut, Basa Walikan digunakan dalam komunikasi kelompok yang hidup dan banyak beraktivitas di jalanan, termasuk preman, pengamen, pedagang asongan, serta kelompok lain. Salah satu fungsinya adalah agar percakapan tertentu tidak mudah dipahami pihak berwajib ketika terjadi penertiban.

Pada fase inilah sebutan โ€œkriptografi jalananโ€ memperoleh konteks sosiologisnya.

Bahasa bukan hanya menjadi alat menyampaikan pesan, melainkan juga pagar simbolik. Orang yang memahami Basa Walikan berada โ€œdi dalamโ€ kelompok komunikasi, sementara mereka yang tidak menguasai rumusnya menjadi pihak luar.

Pagar linguistik seperti itu kemudian ikut membentuk identitas sosial.

Baca juga  9.000 Penerima Bansos di Gunungkidul Dicoret karena Terindikasi Judi Online, Sultan HB X: Bantuan untuk Makan, Bukan Berjudi

Berdasarkan jurnal โ€œMemahami Basa Walikan dalam Membentuk Identitas Komunitas Masyarakat Kampung Badran, Yogyakartaโ€ karya Gusti Purbo Darpitojati, Basa Walikan pernah dituturkan dalam lingkungan terbatas yang melibatkan komunitas preman dan anak muda Kampung Badran.

Menurut jurnal tersebut, penggunaan Basa Walikan kemudian menyebar karena para penuturnya berinteraksi dengan orang lain, baik di dalam maupun di luar Kampung Badran.

Orang yang penasaran meminta diajari. Dari proses interaksi itu, bahasa tersebut perlahan berkembang menjadi bahasa pergaulan yang lebih luas di kalangan anak muda Yogyakarta.

Yang menarik justru muncul pada persoalan identitas. Berdasarkan jurnal UNDIP tersebut, penutur Basa Walikan membangun identitas yang ingin ditampilkan sebagai sesuatu yang โ€œunikโ€ dan โ€œberbeda dari yang lainโ€.

Bahasa menciptakan keakraban antarpengguna sekaligus menjadi tanda bahwa seseorang merupakan bagian dari jaringan sosial tertentu.

Namun, identitas tidak hanya dibentuk oleh penutur sendiri. Orang di luar kelompok turut memberikan label berdasarkan pengalaman serta pengetahuan mereka.

Kajian tersebut mencatat munculnya penyematan seperti โ€œpremanโ€, โ€œbahasa premanโ€, dan โ€œunikโ€ terhadap Basa Walikan maupun orang yang menggunakannya.

Dari sinilah muncul apa yang dapat dibaca sebagai lapisan identitas sosial dalam Basa Walikan.

Akan tetapi, istilah โ€œkelas identitasโ€ perlu ditempatkan secara hati-hati. Yang terlihat lebih jelas adalah terbentuknya identitas kelompok dan batas sosial.

Pada suatu masa, penggunaan Basa Walikan dapat menandakan kedekatan dengan komunitas jalanan atau lingkungan pergaulan tertentu. Ketika kemudian menyebar ke kalangan anak muda yang lebih luas, simbol yang sama mengalami perluasan makna.

Baca juga  Asal Usul Nama Jalan Kaliurang, Berawal dari 'Sungai Udang' hingga Jadi Pusat Keramaian

Satu kata dapat berpindah dari sandi kelompok menjadi bahasa pergaulan.

Contoh paling mudah ditemukan pada kata dab. Dalam rumus Basa Walikan, mas berubah menjadi dab. Kata tersebut kemudian berkembang sebagai sapaan akrab antarteman, terutama laki-laki, dan masih cukup mudah ditemukan dalam percakapan informal warga Jogja.

Kemudian terdapat dagadu, hasil perubahan dari kata matamu. Kata ini menjadi salah satu contoh Basa Walikan yang paling dikenal publik.

Kata tersebu tkemudian menjadi menarik karena memperlihatkan perpindahan sebuah kode bahasa.

Kata yang berasal dari sistem komunikasi lokal kemudian dapat memasuki industri kreatif dan menjadi sesuatu yang dikenali wisatawan dari luar Yogyakarta.

Basa Walikan dengan demikian tidak lagi hanya berfungsi sebagai bahasa rahasia, tetapi juga menjadi bagian dari citra budaya populer Jogja.

Dengan demikian, Basa Walikan tidak dapat dilihat hanya sebagai permainan kata khas Jogja.

Di dalam perjalanannya tersimpan sejarah mengenai kerahasiaan, kelompok jalanan, stigma, pergaulan anak muda, pembentukan identitas komunitas hingga transformasi sebuah bahasa menjadi simbol budaya populer.

Kosa kata tersebut juga pernah bekerja sebagai sandi yang membatasi siapa yang memahami percakapan dan siapa yang tidak.

Kemudian berkembang menjadi penanda keakraban. Pada saat yang sama, Basa Walikan juga pernah membawa stigma sosial karena diasosiasikan dengan kelompok tertentu.

Kini, sebagian kosakatanya justru menjadi identitas kultural yang dianggap khas Yogyakarta.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah benar-benar diam. Kata-kata tersebut bergerak mengikuti masyarakat yang menggunakannya.***

Berita Terbaru

Penyebab Bau Pantai Cangkring Jogja Viral
DLH Bantul Cek Pantai Cangkring Usai Viral Keluhan Bau Menyengat
52
Dugaan Pungli Parkir Rp1 Juta di Alun-Alun Kidul, Polisi Polisi Periksa Saksi dan Pengelola Parkir
tngm
Kebakaran Hutan TNGM Meluas hingga 60 Hektare, Api Merambat ke Lereng Gunung Merapi
kunjungan-ditjen
Cegah TPPO dari Hulu, Imigrasi DIY Perkuat Desa Binaan dan Siapkan Kantor Imigrasi di Gunungkidul
Sejarah Prawirotaman Jadi Kampug Bule
Kenapa Prawirotaman Disebut Kampung Bule? Begini Sejarah Panjangnya

Pilihan Editor

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

micheile-henderson-ZVprbBmT8QA-unsplash

Aturan Baru Pencairan Dana Pensiun 2026: Peserta DPLK Kini Bisa Pilih Cair Sekaligus atau Berkala

images (15)

Rute Trans Jogja Terbaru 2026 Lengkap Semua Jalur, Tarif, Cara Bayar, dan Area Layanannya

Artikel Populer

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

micheile-henderson-ZVprbBmT8QA-unsplash

Aturan Baru Pencairan Dana Pensiun 2026: Peserta DPLK Kini Bisa Pilih Cair Sekaligus atau Berkala

images (15)

Rute Trans Jogja Terbaru 2026 Lengkap Semua Jalur, Tarif, Cara Bayar, dan Area Layanannya