Mengungkap Mitos “Masangin” dan Karnavalisasi Alun-Alun Kidul Jogja

Bagikan :
Ilustrasi | Makna mitos Masangin di era modern. (Tangkap layar Gmaps)

TUGU JOGJAย – Alun-Alun Kidul alias Alkid sebenarnya menghadirkan wajah yang jauh berbeda dibandingkan kesan sakral kawasan Keraton di masa lalu.

Kereta kayuh berhias lampu warna-warni berputar mengelilingi lapangan, pedagang makanan berjajar di pinggir kawasan.

Sementara pengunjung silih berganti mencoba berjalan dengan mata tertutup melewati dua pohon beringin kembar. Kegiatan ini dikenal sebagai Masangin, kependekan dari masuk di antara dua beringin.

Bagi wisatawan masa kini, Masangin sering diperlakukan sebagai permainan sederhana yakni mata ditutup, tubuh diarahkan lurus, kemudian peserta mencoba mencapai celah di antara dua pohon beringin tanpa melenceng.

Namun, jejak historis dan kajian akademik menunjukkan bahwa Masangin memiliki lapisan makna yang jauh lebih kompleks daripada sekadar permainan wisata.

Melansir dari laman resmi Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, diketahui bahwa tradisi Masangin dikaitkan dengan tradisi Topo Bisu yang dilakukan pada malam 1 Suro.

Dalam tradisi tersebut, prajurit dan abdi dalem berjalan mengelilingi benteng tanpa berbicara, mengenakan pakaian adat Jawa, kemudian melalui kawasan alun-alun dan beringin kembar. Aktivitas itu diyakini berkaitan dengan permohonan berkah dan perlindungan.

Laman yang sama juga mencatat bahwa kawasan Alun-Alun Kidul pada masa lalu digunakan untuk latihan prajurit Keraton.

Berjalan di antara dua beringin dikaitkan dengan latihan konsentrasi, kemudian berkembang bersama beragam cerita mengenai kemampuan menolak bala hingga terkabulnya keinginan bagi mereka yang berhasil melewatinya.

Dari titik tersebut, sebuah aktivitas yang awalnya berada dalam lingkungan simbolik Keraton perlahan memperoleh lapisan makna baru di tengah masyarakat.

Baca juga  Rahasia Jogja Selalu Dirindukan, dari Kenangan Masa Muda hingga Faktor Budaya

Sementara, berdasarkan penelitian berjudul โ€œPersepsi Masyarakat terhadap Masanginโ€ karya Umar Sahid dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Masangin dibaca sebagai sebuah lelaku yang berkaitan dengan hubungan antara mikrokosmos atau jagad cilik dan makrokosmos atau jagad gedhe.

Kajian tersebut menempatkan Alun-Alun Selatan sebagai salah satu ruang yang berkaitan dengan kosmologi Kesultanan Yogyakarta.

Dijelaskan pula makna Masangin tidak semata-mata terletak pada berhasil atau tidaknya seseorang berjalan lurus.

Ritual itu juga dimaknai sebagai bentuk evaluasi diri. Seseorang yang mampu mengendalikan dirinya diasosiasikan dengan kesiapan menerima anugerah, sedangkan kegagalan dapat dimaknai sebagai pengingat untuk melakukan introspeksi terhadap perilaku kehidupan.

Dan konsep tersebut menggambarkan keharmonisan antara makrokosmos dengan mikrokosmos, Sultan dengan rakyat, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.

Dalam konteks tersebut, Masangin bukan hanya tentang mencapai celah di antara dua pohon, tetapi juga dapat dibaca sebagai simbol pengendalian diri dan harmoni.

Namun, makna Masangin yang ditemui pengunjung masa kini telah mengalami perluasan.

Melansir dari laman Dinas Pariwisata DIY, Masangin sekarang menjadi salah satu aktivitas wisata yang membuat masyarakat dan pelancong datang ke Alkid.

Mitos yang berkembang menyebut orang yang dapat melewati dua beringin dengan mata tertutup akan memperoleh terkabulnya keinginan atau hajat. Narasi ini hidup berdampingan dengan fungsi kawasan sebagai tempat nongkrong, wisata malam, dan ruang hiburan.

Pergeseran tersebut dapat dibaca melalui konsep karnavalisasi ruang. Karnavalisasi dalam konteks ini bukan berarti Alun-Alun Kidul berubah menjadi sebuah karnaval pada umumnya.

Baca juga  Menelusuri Perkembangan Pasar Malam Jogja dari Era Kolonial hingga Masa Kini

Istilah tersebut perlu dipahami sebagai upaya untuk membaca perubahan suasana. Lebih tepatnya kala ruang yang sebelumnya lekat dengan simbol Keraton, latihan prajurit, ritual, dan mitos kemudian diisi aktivitas hiburan yang cair, ramai, penuh cahaya, suara, permainan, perdagangan, dan interaksi antarkelompok masyarakat.

Hanya saja, sakralitas tidak sepenuhnya hilang. Dua beringin tetap menjadi pusat cerita Masangin.

Hubungan kawasan dengan Keraton tetap dikenali. Namun, di sekeliling simbol lama tersebut tumbuh lapisan ekonomi dan hiburan baru.

Masangin kini dapat dilakukan wisatawan tanpa mengikuti rangkaian ritual Topo Bisu. Peserta cukup menggunakan penutup mata dan mencoba berjalan lurus.

Aktivitas ini kemudian memunculkan layanan pendukung, termasuk penyewaan penutup mata yang pernah tercatat dalam dokumentasi fasilitas wisata kawasan Alun-Alun Kidul.

Di sinilah komodifikasi mulai dapat dibaca. Mitos yang sebelumnya hidup dalam sistem kepercayaan memperoleh nilai ekonomi ketika rasa penasaran wisatawan melahirkan kebutuhan terhadap jasa, makanan, permainan, transportasi hiburan, dan berbagai transaksi lain.

Meski demikian, komodifikasi tersebut tidak berarti Masangin berubah menjadi produk berbayar sepenuhnya atau kehilangan seluruh makna budaya.

Yang terjadi lebih kompleks yakni narasi mitos menjadi salah satu magnet yang mengundang manusia datang, sementara keramaian pengunjung membuka ruang bagi kegiatan ekonomi lain.

Alkid sendiri kini dikenal sebagai kawasan yang kerap diramaikan odong-odong atau kendaraan kayuh berhiaskan lampu, bersamaan dengan keberadaan beragam kuliner seperti wedang ronde, jagung bakar, cilok, dan jajanan lainnya.

Kereta kayuh bercahaya bahkan telah menjadi salah satu citra paling mudah dikenali dari Alun-Alun Kidul modern.

Baca juga  Makna Ewuh Pakewuh, Filosofi Tata Krama yang Melekat pada Karakter Masyarakat Yogyakarta

Perubahan Alun-Alun Kidul juga tidak hanya dapat dilihat dari sisi wisatawan.

Namun, Alkid kini tak hanya sebagai tempat wisata. Ini adalah ruang sosial.

Dengan kata lain, wisatawan, warga lokal, pedagang, keluarga, anak muda, pekerja informal, hingga kelompok komunitas dapat berada pada ruang yang sama tanpa harus melalui pintu masuk formal seperti pusat perbelanjaan.

Kuliner kaki lima serta kendaraan hias yang ada di sana pun membantu membangun suasana yang menyerupai pesta rakyat terbuka.

Hanya saja, menyebut transformasi tersebut semata-mata sebagai keberhasilan ekonomi juga terlalu sederhana.

Ketika sebuah ruang budaya semakin padat aktivitas komersial, muncul pertanyaan tentang keseimbangan antara nilai sejarah, kenyamanan publik, kepentingan pelaku usaha, dan pengalaman wisata.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karnavalisasi tidak hanya menghasilkan hiburan dan pendapatan. Ini menghadirkan kebutuhan akan tata kelolanya.

Ruang yang dahulu berpusat pada fungsi Keraton sekarang harus menampung kepentingan budaya, wisata, ekonomi informal, mobilitas, kebersihan, keamanan, hingga kenyamanan masyarakat dalam waktu bersamaan.

Masangin berada tepat di tengah perubahan itu. Mitosnya tetap hidup, tetapi konteks sosialnya berubah.

Orang mungkin tidak lagi datang untuk menjalani lelaku spiritual. Sebagian datang untuk menguji rasa penasaran, membuat konten, bercanda bersama teman, atau sekadar mengikuti aktivitas yang dianggap khas ketika berkunjung ke Jogja.

Namun, justru dari proses itulah sebuah tradisi terus memperoleh kehidupan baru. Yang mana mitos ini terus dipraktikkan, ditafsirkan ulang, dipasarkan hingga dijadikan hiburan.***

Berita Terbaru

Penyebab Bau Pantai Cangkring Jogja Viral
DLH Bantul Cek Pantai Cangkring Usai Viral Keluhan Bau Menyengat
52
Dugaan Pungli Parkir Rp1 Juta di Alun-Alun Kidul, Polisi Polisi Periksa Saksi dan Pengelola Parkir
tngm
Kebakaran Hutan TNGM Meluas hingga 60 Hektare, Api Merambat ke Lereng Gunung Merapi
kunjungan-ditjen
Cegah TPPO dari Hulu, Imigrasi DIY Perkuat Desa Binaan dan Siapkan Kantor Imigrasi di Gunungkidul
Sejarah Prawirotaman Jadi Kampug Bule
Kenapa Prawirotaman Disebut Kampung Bule? Begini Sejarah Panjangnya

Pilihan Editor

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

images (15)

Rute Trans Jogja Terbaru 2026 Lengkap Semua Jalur, Tarif, Cara Bayar, dan Area Layanannya

micheile-henderson-ZVprbBmT8QA-unsplash

Aturan Baru Pencairan Dana Pensiun 2026: Peserta DPLK Kini Bisa Pilih Cair Sekaligus atau Berkala

Artikel Populer

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

muhammad-daudy-URI6ZQT0RME-unsplash

Daftar UMK DIY 2026 Terbaru, Kota Yogyakarta Tertinggi Rp2,82 Juta

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

images (15)

Rute Trans Jogja Terbaru 2026 Lengkap Semua Jalur, Tarif, Cara Bayar, dan Area Layanannya

micheile-henderson-ZVprbBmT8QA-unsplash

Aturan Baru Pencairan Dana Pensiun 2026: Peserta DPLK Kini Bisa Pilih Cair Sekaligus atau Berkala