Mengungkap Realitas di Balik Praktik Susuk Kecantikan

Bagikan :
Ilustrasi | Realitas di balik mitos susuk kecantikan (AI // Tugu Jogja)

TUGU JOGJAย – Susuk telah lama hidup di antara kepercayaan tradisional masyarakat. Adapun benda berukuran kecil yang biasanya berbentuk seperti jarum logam itu ditanam di bawah kulit dan dalam berbagai tradisi dipercaya dapat meningkatkan kecantikan, kewibawaan, keberuntungan, kesehatan, hingga daya tarik seseorang.

Praktik tersebut juga dikenal di Indonesia. Namun saat susuk masuk ke ruang pemeriksaan medis, benda yang sebelumnya tersembunyi berubah menjadi sesuatu yang sangat konkret.

Benda tersebut dapat muncul sebagai benda radiopak pada pemeriksaan radiografi.

Berdasarkan scoping review yang diterbitkan International Journal of the Malay World and Civilisation pada 2024, penelitian mengenai susuk telah terdokumentasi dalam literatur kedokteran selama puluhan tahun.

Kajian yang menelaah 31 publikasi tersebut mencatat bahwa susuk sering ditemukan secara tidak sengaja ketika pasien menjalani pemeriksaan X-ray maupun CT scan untuk kebutuhan medis lain.

Literatur radiologi umumnya menggambarkan susuk sebagai jarum logam kecil yang ditanam secara subkutan pada wajah maupun bagian tubuh lain.

Materialnya dapat berupa emas, perak, tembaga, atau campuran logam. Karena mempunyai densitas lebih tinggi daripada jaringan lunak, benda tersebut dapat tampak terang pada radiografi.

Kasus yang diterbitkan dalam Medical Science and Law menunjukkan dua benda logam berbentuk jarum di wilayah maksilofasial terlihat jelas melalui radiografi panoramik.

Pasien dalam kasus tersebut bahkan tidak mengalami tanda penyakit atau keluhan akibat keberadaan susuknya. Temuan serupa telah berulang kali dilaporkan dalam jurnal kedokteran gigi dan radiologi.

Penelitian Universiti Kebangsaan Malaysia menemukan 13 kasus susuk secara tidak sengaja dalam pemeriksaan radiografi pasien. Studi lain dari University of Malaya mendokumentasikan puluhan susuk pada wilayah kraniofasial sejumlah pasien.

Dengan demikian, klaim bahwa susuk secara fisik tidak dapat dideteksi dunia medis tidak mempunyai dasar.

Benda tersebut mungkin tersembunyi dari pandangan mata biasa karena berada di bawah kulit, tetapi bukan berarti tidak dapat terlihat melalui pencitraan medis.

Dan salah satu kepercayaan yang paling melekat pada susuk adalah kemampuannya meningkatkan kecantikan, pesona, atau karisma.

Berdasarkan catatan medis, diketahui bahwa tujuan itulah yang sering dijadikan alasan pemasangan susuk.

Baca juga  Kenapa Disebut Gereja Gothic Sayidan? Ternyata Ini Misteri dan Sejarah Bangunan Sebenarnya

Namun belum terdapat bukti klinis bahwa jarum logam yang ditanam di bawah kulit dapat menghasilkan aura, meningkatkan daya tarik secara biologis, atau mengubah seseorang menjadi lebih menarik bagi orang lain.

Penjelasan melalui efek plasebo juga perlu digunakan secara hati-hati. Secara teori, keyakinan terhadap sebuah ritual dapat memengaruhi persepsi dan kondisi psikologis seseorang.

Seseorang yang merasa lebih percaya diri mungkin berbicara, bergerak, dan berinteraksi secara berbeda.

Dan sampai sekarang, tidak cukup bukti penelitian untuk mengatakan bahwa perubahan kepercayaan diri pada pengguna susuk pasti merupakan efek plasebo.

Karena itu, penjelasan yang lebih aman adalah bahwa klaim tentang daya tarik magis belum dapat dibuktikan secara medis, sedangkan perubahan psikologis pada individu mungkin dipengaruhi oleh keyakinan pribadi, sugesti, maupun konteks sosial.

Hal serupa berlaku pada pantangan makanan. Dalam berbagai cerita mengenai susuk, pemakainya dapat diminta menghindari pisang tertentu, daun kelor, sate yang dimakan langsung dari tusuknya, atau makanan lain.

Pantangan tersebut merupakan bagian dari sistem kepercayaan tradisional.

Belum terdapat mekanisme biomedis yang menunjukkan bahwa mengonsumsi pisang, kelor, atau sate dapat menghilangkan sifat fisik jarum logam yang tertanam di jaringan tubuh.

Namun pantangan tidak tepat pula disederhanakan hanya sebagai alat manipulasi psikologis.

Kajian antropologi menunjukkan pantangan makanan dalam berbagai masyarakat dapat mempunyai fungsi simbolik, spiritual, sosial, dan identitas yang jauh lebih luas daripada efek biologis makanan itu sendiri.

Mitos lain menyebut pemakai susuk akan sulit meninggal apabila benda tersebut belum dikeluarkan. Tiada bukti medis yang mendukung bahwa keberadaan susuk dapat menghambat proses kematian.

Proses menjelang akhir kehidupan dipengaruhi kondisi penyakit, fungsi organ, sistem saraf, sirkulasi, pernapasan, obat-obatan, dan berbagai faktor medis lainnya.

Rasa takut terhadap sebuah kepercayaan memang dapat menimbulkan kecemasan psikologis.

Namun tidak tepat menyimpulkan bahwa kesulitan menjelang ajal pada seseorang disebabkan oleh susuk ataupun rasa bersalah tanpa penilaian medis.

Aspek yang justru lebih konkret adalah risiko dari proses memasukkan benda asing ke dalam tubuh.

Setiap tindakan yang menembus kulit dapat menciptakan jalur masuk bagi mikroorganisme apabila alat, tangan, permukaan, maupun area pemasangan tidak ditangani menggunakan prosedur kebersihan dan sterilisasi yang memadai.

Baca juga  Kisah Mistis Ring Road Barat Jogja: Dikenal Jalur Angker hingga Ada Penumpang Gaib

Secara umum, benda asing juga dapat memicu respons jaringan. Salah satu laporan kasus mengenai penggunaan susuk untuk keluhan nyeri punggung menyebut benda logam tersebut berpotensi berhubungan dengan peradangan kronis dan pembentukan granuloma benda asing.

Peneliti dalam kasus itu menekankan perlunya kewaspadaan terhadap keselamatan pasien ketika susuk digunakan sebagai bagian dari pengobatan tradisional.

Namun risiko tersebut tidak berarti semua pengguna susuk pasti mengalami infeksi atau komplikasi.

Literatur justru mencatat banyak susuk ditemukan secara kebetulan pada pasien yang tidak mengalami keluhan apa pun.

Dalam satu laporan medis, jarum susuk tetap berada di jaringan orofasial tanpa menimbulkan tanda patologis. Kajian lain bahkan menyebut sejumlah susuk dapat bertahan bertahun-tahun dalam jaringan.

Karena itu, menyebut susuk sebagai “bom waktu” medis juga terlalu berlebihan. Risikonya bergantung pada material, lokasi pemasangan, teknik pemasangan, sterilitas, jumlah benda, reaksi jaringan, serta kondisi kesehatan individu.

Klaim mengenai migrasi susuk juga perlu ditempatkan secara proporsional.

Benda asing berukuran kecil secara teoritis dapat berubah posisi di dalam jaringan. Beberapa literatur mengenai susuk bahkan menyebut kemungkinan migrasi.

Namun bukti yang tersedia belum cukup untuk menyatakan jarum susuk di wajah lazim bergerak menuju mata, pembuluh darah besar, atau saraf kemudian menyebabkan cedera berat.

Begitu pula dengan klaim kerusakan saraf wajah. Memasukkan benda tajam tanpa pengetahuan anatomi memang mempunyai potensi melukai jaringan di sekitarnya.

Namun tidak tepat menyatakan prosedur pemasangan susuk secara umum akan menyebabkan kerusakan saraf fasialis atau wajah menjadi miring tanpa bukti kasus yang mendukung.

Persoalan yang lebih penting muncul ketika pasien menjalani pemeriksaan kesehatan. Susuk dapat membingungkan dokter atau dokter gigi apabila keberadaannya tidak diketahui.

Pada radiografi, benda tersebut dapat terlihat seperti jarum, artefak, fragmen logam, atau benda asing lainnya sehingga riwayat pasien menjadi penting untuk menghindari salah interpretasi.

Berdasarkan laporan dalam Journal of Clinical and Diagnostic Research, kesadaran tenaga medis terhadap praktik susuk membantu mencegah kesalahan diagnosis ketika benda radiopak ditemukan di wilayah wajah.

Baca juga  Rahasia Jogja Selalu Dirindukan, dari Kenangan Masa Muda hingga Faktor Budaya

MRI menjadi persoalan lain yang sering dibicarakan. Mesin Magnetic Resonance Imaging menggunakan medan magnet sangat kuat sehingga benda logam tertentu memang dapat menimbulkan risiko.

Namun tidak semua logam mempunyai sifat feromagnetik. Penelitian yang diterbitkan Oral Radiology pada 2008 menguji salah satu susuk dalam MRI berkekuatan 1,5 Tesla.

Penelitian tersebut menemukan sampel yang diuji tidak menunjukkan karakteristik feromagnetik. Analisis komposisi yang dibahas dalam kajian tersebut menunjukkan susuk terutama terdiri dari emas dengan campuran seperti tembaga dan perak.

Para peneliti pun menyimpulkan bahwa susuk yang mereka evaluasi tidak menunjukkan bahaya akibat tarikan magnet pada MRI.

Temuan itu secara langsung membantah anggapan bahwa setiap susuk pasti akan tertarik medan magnet, memanas hebat, atau merobek jaringan ketika pasien masuk mesin MRI.

Namun bukan berarti seluruh susuk otomatis aman. Komposisi benda yang dipasang oleh praktisi berbeda-beda dan pasien belum tentu mengetahui jenis logamnya.

Karena itu, langkah paling aman adalah memberi tahu dokter, radiografer, atau petugas MRI apabila seseorang mengetahui atau menduga mempunyai susuk sebelum pemeriksaan dilakukan.

Petugas medis kemudian dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan tambahan untuk mengidentifikasi material dan lokasinya.

Begitu pula apabila susuk ditemukan secara tidak sengaja. Tak semua benda tersebut harus langsung dikeluarkan.

Beberapa publikasi medis mencatat susuk yang tidak menimbulkan masalah dapat dibiarkan tetap berada di tempatnya, sedangkan tindakan medis lebih relevan apabila muncul infeksi, gangguan terhadap prosedur lain, atau alasan klinis tertentu.

Pengeluaran benda asing juga sebaiknya tidak dilakukan sendiri. Dokter perlu mengetahui lokasi benda dan hubungannya dengan jaringan di sekitar sebelum menentukan tindakan.

Dengan demikian, fenomena soal susuk tersebut bakal mempertemukan dua hal menyoal tubuh manusia.

Dalam kepercayaan tradisional, benda kecil tersebut memperoleh makna melalui ritual, pantangan, simbol, serta harapan terhadap kecantikan atau keberuntungan.

Tetapi, dalam dunia kedokteran, benda yang sama dibaca sebagai objek logam yang berada di jaringan tubuh dan dapat dievaluasi melalui anatomi, pencitraan, komposisi material, serta kemungkinan komplikasinya.

Kedua perspektif tersebut perlu dibedakan tanpa harus mencampurkan klaim spiritual dengan kesimpulan medisnya.***

Berita Terbaru

30 lurah terpilih hasil Pilur Serentak Bantul 2026. Bupati Halim mengajak warga menerima hasil dan menjaga persaudaraan.
Ini Nama 30 Lurah Terpilih di Pilur Bantul 2026, Bupati Abdul Halim Titip Pesan: Jangan Terpecah karena Beda Pilihan
unnamed (20)
6 Toko Camilan Murah di Jogja, Pilihan Snack Lengkap untuk Jajan atau Oleh-oleh
zoshua-colah-W_H1sClALf0-unsplash
6 Toko Buah Segar di Jogja, Ada yang Buka 24 Jam dan Jual Buah Impor
rob-lambert-9Q_pLLP_jmA-unsplash
5 Bengkel Las di Jogja, Ada yang Buka 24 Jam dan Bisa Dipanggil
Budaya Nglaju Motor Lawas Jogja
Budaya Nglaju dan Resiliensi Pengendara Motor Lawas di Yogyakarta

Pilihan Editor

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

Penyebab Lisman Puja Kesuma Meninggal

M. Lisman Puja Kesuma Meninggal Dunia, Apa Penyebab Kepergiannya?

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

maxime-bhm-icyZmdkCGZ0-unsplash

40 Event Jogja Oktober 2026, Ada Konser, Festival, Running Event hingga Seni Budaya

Kapan Kelok 23 Terakhir Dibuka

Kelok 23 Buka Sampai Kapan? Ini Jadwal Terakhir dan Aturan Melintasnya

Artikel Populer

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogjaโ€“Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

Penyebab Lisman Puja Kesuma Meninggal

M. Lisman Puja Kesuma Meninggal Dunia, Apa Penyebab Kepergiannya?

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Soloโ€“Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

maxime-bhm-icyZmdkCGZ0-unsplash

40 Event Jogja Oktober 2026, Ada Konser, Festival, Running Event hingga Seni Budaya

Kapan Kelok 23 Terakhir Dibuka

Kelok 23 Buka Sampai Kapan? Ini Jadwal Terakhir dan Aturan Melintasnya