TUGU JOGJAย – Kuliner tradisional Kabupaten Bantul diketeahui masih mampu bertahan di tengah derasnya kemunculan makanan modern dan tren kuliner yang terus berganti.
Dari kudapan langka bernama Karangan, Kue Adrem, Geplak, Mi Lethek, hingga Sate Klatak, masing-masing mempunyai karakter yang membuatnya tetap dicari masyarakat.
Daya tahan tersebut tidak semata-mata berasal dari rasa. Ada proses pembuatan yang diwariskan, keterikatan dengan wilayah asal, keberadaan pasar tradisional, hingga identitas budaya yang sulit dipisahkan dari makanan itu sendiri.
Sejumlah kuliner bahkan tetap mempertahankan cara produksi lama ketika industri makanan bergerak menuju proses yang serba cepat.
Di sisi lain, ada makanan yang bertahan karena hanya dapat ditemukan di lokasi tertentu, sehingga keterbatasan distribusinya justru membentuk daya tarik tersendiri.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bertahannya kuliner tradisional Bantul bukan sekadar persoalan nostalgia. Makanan-makanan itu terus hidup karena masih mempunyai fungsi, pasar, dan nilai budaya di tengah masyarakat.
Adapun salah satu contoh paling menarik adalah Karangan, makanan tradisional yang keberadaannya kini semakin jarang ditemukan.
Karangan dikenal sebagai kudapan khas wilayah Kretek, Bantul. Berbeda dengan jajanan yang telah masuk ke jaringan toko modern maupun pusat oleh-oleh, distribusi Karangan masih sangat bergantung pada pasar rakyat.
Kudapan tersebut dapat ditemukan antara lain di Pasar Turi ketika pasaran Pahing, Pasar Celep, serta Pasar Ngangkruksari di wilayah Kretek.
Catatan mengenai kuliner lokal ini juga menyebut Karangan sebagai makanan yang sudah mulai langka dan keberadaannya terkonsentrasi pada beberapa pasar tradisional tersebut.
Pola distribusi seperti ini menjadi menarik. Di satu sisi, keterbatasan lokasi membuat Karangan tidak sepopuler kuliner Bantul lainnya.
Namun, di sisi lain, keberadaan makanan ini yang masih melekat dengan pasar tradisional menciptakan pengalaman kuliner yang tidak mudah dipindahkan ke tempat lain.
Orang yang ingin mencicipinya harus mendatangi ruang tempat makanan tersebut memang tumbuh dan diperdagangkan.
Dan jika Karangan bertahan melalui pasar lokal, Kue Adrem memiliki jalur pelestarian yang berbeda.
Kudapan khas Bantul berbahan tepung beras dan gula merah tersebut masih diproduksi dan dikenal masyarakat karena bentuk, rasa, serta proses pembuatannya yang khas.
Melansir dari kajian yang dipublikasikan Universitas PGRI Yogyakarta, diketahui bahwa makanan yang satu ini ditempatkan sebagai warisan gastronomi Bantul dengan nilai historis, simbolik, dan budaya.
Penelitian tersebut juga menyoroti potensi Adrem dalam memperkuat identitas daerah serta keberlanjutan wisata kuliner.
Posisi Adrem semakin kuat setelah makanan ini masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Dinas Kebudayaan DIY mencatat Adrem sebagai salah satu dari 32 karya budaya asal DIY yang ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024.
Pengakuan tersebut penting karena memberikan lapisan baru terhadap sebuah jajanan tradisional.
Adrem tidak lagi hanya dipahami sebagai makanan yang dijual di pasar, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan dan keterampilan budaya yang perlu diwariskan.
Bagi generasi muda, bentuknya yang khas dan proses pembuatannya yang tidak biasa juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali kuliner tradisional Bantul.
Lebih lanjut, kuliner Bantul juga mempunyai sejumlah nama yang jangkauannya jauh lebih luas.
Geplak menjadi salah satu contoh. Kudapan berbahan kelapa parut dan gula tersebut telah lama dikenal sebagai makanan khas sekaligus oleh-oleh yang identik dengan Bantul.
Karakter yang berbeda terlihat pada Mi Lethek. Makanan ini mempertahankan proses produksi tradisional yang menjadi bagian dari identitasnya. Mi Lethek dibuat dari bahan berbasis gaplek dan tapioka, dengan warna cenderung kusam yang justru melahirkan nama “lethek”.
Di salah satu sentra produksinya di Srandakan, proses pencampuran adonan masih menggunakan peralatan tradisional dengan tenaga sapi. Produksinya juga dikenal tidak menggunakan bahan pengawet maupun pemutih.
Proses tersebut bukan sekadar atraksi. Cara produksi lama menjadi bagian dari karakter produk yang membedakannya dari mi yang diproduksi secara industrial.
Sate Klatak mempunyai identitas berbeda lagi. Kuliner berbahan daging kambing dari Bantul tersebut dikenal karena menggunakan tusuk besi menyerupai jeruji sepeda serta bumbu yang relatif sederhana.
Sate Klatak berkembang kuat di kawasan Jejeran dan Wonokromo, Bantul, hingga menjadi salah satu kuliner yang paling mudah diasosiasikan dengan wilayah tersebut.
Jeruji besi bukan sekadar unsur visual yang membuatnya mudah dikenali. Cara penyajian tersebut telah menjadi bagian dari identitas kuliner yang membedakan Sate Klatak dengan berbagai jenis sate kambing lainnya.
Keunikan Jadi Modal Bertahan, tapi Pewarisan Tetap Menentukan
Dari beragam menu kuliner di atas, maka terlihat bahwa kuliner tradisional Bantul mempunyai cara bertahan yang berbeda-beda.
Karangan mempertahankan hubungan kuat dengan pasar tradisional dan wilayah asalnya. Adrem memperoleh penguatan melalui pengakuan sebagai warisan budaya. Mi Lethek mempertahankan metode produksi lama, sementara Sate Klatak mempunyai teknik pengolahan dan penyajian yang sangat khas.
Keunikan memang menjadi salah satu modal penting. Bentuk, nama, bahan, proses memasak, hingga lokasi penjualan memberikan karakter yang tidak mudah dipertukarkan dengan makanan modern.
Namun, keunikan saja tidak cukup. Sebuah makanan tradisional tetap membutuhkan orang yang membuatnya, konsumen yang membeli, ruang untuk menjualnya, serta proses pewarisan agar keterampilan produksi tidak terputus.
Karena itu, pasar tradisional, keluarga produsen, pengakuan budaya, hingga minat masyarakat terhadap makanan lokal mempunyai peran yang saling berhubungan.
Fenomena tersebut sekaligus menjelaskan mengapa makanan sederhana dapat terus bertahan ketika tren kuliner modern datang silih berganti.
Kuliner tradisional tidak selalu bersaing dengan makanan baru melalui kemasan paling modern atau promosi paling besar. Kekuatan utamanya justru sering berada pada karakter yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Dengan begitu, keberlangsungan kuliner tradisional Bantul menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar produk konsumsi.
Di dalamnya tersimpan pengetahuan, kebiasaan, keterampilan, identitas wilayah, serta hubungan antargenerasi.
Selama seluruh unsur tersebut masih hidup dalam masyarakat, ragam kuliner Bantul ini tetap mempunyai peluang untuk terus bertahan meski selera masyarakat terus berubah.***





