TUGU JOGJAย – Sepeda motor dan mobil di Yogyakarta tidak selalu berhenti sebagai alat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Di tangan builder, pemilik kendaraan, painter, fabricator, hingga komunitas, kendaraan dapat berubah menjadi medium untuk mengatakan sesuatu tentang siapa pemiliknya, selera yang dianut, kelompok tempat ia merasa menjadi bagian, bahkan bagaimana ia ingin dibedakan dari produk pabrikan yang diproduksi secara massal.
Fenomena tersebut terlihat jelas dalam ekosistem kustom kulture yang berkembang di Yogyakarta. Posisi Jogja dalam skena ini tidak dibangun dalam satu atau dua tahun.
Kustomfest, yang pertama kali digagas pada 2012, tumbuh menjadi festival tahunan yang mempertemukan motor kustom, hot rod, mobil kustom, sepeda, karya cat, seni, musik, vendor, dan beragam praktik kreatif lain.
Kementerian Pariwisata menempatkan Kustomfest sebagai festival yang menggabungkan otomotif, seni, dan kreativitas sekaligus ruang kolaborasi bagi komunitas serta industri kreatif.
Penelitian Universitas Gadjah Mada tahun 2025 bahkan menyebut DIY telah memiliki tradisi motor kustom yang kuat serta acara tahunan berkelas nasional dan internasional seperti Kustomfest.
Kajian tersebut melihat kebutuhan akan ruang yang mampu mempertemukan proses produksi, kolaborasi, pertukaran informasi, hingga pertunjukan dalam satu ekosistem.
Pada 2026, keberadaan Kustomfest bahkan masuk dalam rangkaian resmi peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
Pemerintah Kota Yogyakarta mencantumkan Kustomfest sebagai salah satu dari tujuh agenda unggulan Oktober 2026. Gelaran tahun ke-15 tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10-11 Oktober 2026 di Jogja Expo Center.
Direktur Kustomfest Lulut Wahyudi juga menyebut penyelenggaraan 2026 terhubung dengan rangkaian ulang tahun Kota Jogja, sekaligus membawa kegiatan sosial berupa charity riding. (jogjapolitan.harianjogja.com)
Posisi tersebut membuat kustom kulture di Jogja menarik dibaca lebih jauh daripada urusan mesin.
Kendaraan kustom merupakan benda yang dipersonalisasi.
Pemilik dapat menentukan proporsi, warna, bentuk tangki, jok, setang, kaki-kaki, detail cat, hingga karakter keseluruhan kendaraan.
Keputusan tersebut sekaligus menjadi keputusan tentang identitas. Penelitian UGM mengenai konsep maskulinitas dalam Kustom Kulture di Yogyakarta menemukan pilihan model motor kustom berkaitan dengan selera serta identitas diri yang ingin dibedakan dari orang lain.
Menggunakan teori distingsi Pierre Bourdieu, penelitian tersebut menemukan kustom kulture membentuk habitus mengenai โrasa berbedaโ.
Pemilik tidak semata memilih motor karena fungsi, tetapi memilih bentuk yang dapat merepresentasikan selera dan identitas khas.
Dengan cara tersebut, kendaraan menjadi seperti pakaian. Produksi massal menyediakan bentuk dasar.
Pemilik kemudian mengubahnya agar terasa miliknya sendiri. Semakin jauh perubahan dari kendaraan standar, semakin besar pula peluang kendaraan tersebut dibaca sebagai representasi personal.
Namun, proses pencarian identitas di Jogja tidak berlangsung dalam ruang tertutup.
Kustom kulture merupakan budaya transnasional. Istilah seperti chopper, bobber, hot rod, cafe racer, scrambler, pinstriping, dan low rider mempunyai perjalanan sejarah yang sangat panjang di luar Indonesia.
Kustomfest sendiri sejak awal secara sadar mempertemukan pemain lokal dengan industri kustom global.
Pertemuan semacam itu menunjukkan bahwa kustom kulture Jogja tidak dapat dibaca sebagai budaya lokal yang steril dari pengaruh luar.
Hal ini justru tumbuh melalui pertukaran estetika. Builder Indonesia mempelajari bahasa visual global, lalu mencoba menghasilkan karya dengan karakter sendiri.
Kustomfest sendiri sejak lama menyatakan salah satu misinya adalah mendorong lahirnya karya yang membentuk identitas kustom kulture Indonesia.
Dalam gelaran event tahun 2013 lalu, festival tersebut mengungkap bahwa karya kustom Indonesia ditampilkan sebagai refleksi kekayaan budaya bangsa.
Jadi, istilah akulturasi memang relevan. Namun, akulturasi tidak harus selalu berarti menempelkan motif batik pada tangki.
Identitas lokal dapat muncul melalui cara memilih bahan, kemampuan fabrikasi, proporsi kendaraan, teknik produksi, filosofi karya, humor visual, cerita yang dibawa builder, hingga cara sebuah karya dipresentasikan.
Justru apabila seluruh โkeindonesiaanโ hanya dibaca melalui ornamen batik, wayang, atau ukiran, identitas lokal dapat direduksi menjadi dekorasi.
Perkembangan terakhir menunjukkan karya kustom Indonesia bahkan dapat memasuki percakapan internasional tanpa harus kehilangan identitas tersebut.
Pada Desember 2025, program Kustomfest Indonesian Attack membawa lima motor karya builder Indonesia ke Yokohama Hot Rod Custom Show di Jepang.
Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat karya Stiletto Dagger dari Kromworks meraih Best Domestic Motorcycle Award, sementara seluruh motor Indonesia memperoleh penghargaan Mooneyes COOL Pick.
Kementerian menyebut program tersebut sebagai jembatan bagi builder Indonesia untuk menguji kualitas sekaligus memasuki jaringan kustom internasional.
Dengan demikian, negosasi identitas berlangsung dua arah. Pelaku lokal menerima pengaruh luar.
Namun, mereka tidak berhenti sebagai peniru. Karya dibawa kembali keluar untuk dinilai bersama karya global.
Pada titik itu, pertanyaan bukan lagi โapakah ini bergaya Amerika atau Jepang?โ
Pertanyaannya menjadi apa yang membuat karya builder Indonesia mempunyai karakter sendiri di tengah bahasa visual yang bersifat global?
Persoalan identitas juga muncul di tingkat komunitas. Penelitian UGM terhadap Motor CB Yogyakarta atau MOBTA menemukan kendaraan bukan sekadar alat transportasi, melainkan medium yang membantu membentuk jaringan sosial dan solidaritas antaranggota.
Komunitas tersebut menggunakan kesamaan ketertarikan pada kendaraan untuk menciptakan hubungan sosial baru. Identitas kelompok kemudian diperkuat melalui nilai persaudaraan dan aktivitas bersama.
Penelitian UGM lain mengenai komunitas motor Yamaha Vega di Yogyakarta juga menunjukkan anggota komunitas membangun identitas melalui proses kategorisasi diri, representasi nilai kelompok, dan kebutuhan memperoleh pengakuan dari orang lain.
Identitas kemudian menjadi cara menunjukkan persamaan dengan kelompok sendiri sekaligus perbedaan dari kelompok lain.
Dari sini muncul fungsi lain kendaraan modifikasi. Hal tersebut menjadi tiket sosial.
Jadi, seseorang datang membawa motor. Lalu, percakapan dimulai dari membahas soal mesinnya, lalu berlanjut ke bengkel.
Setelah itu, berkembang menjadi pertemanan, touring, pertukaran onderdil, kerja sama proyek, hingga hubungan ekonomi.
Di Jogja, pola interaksi tersebut dekat dengan gagasan srawung. Namun, mengatakan bahwa komunitas kustom otomatis menghapus kelas sosial juga terlalu jauh.
Tiada bukti bahwa perbedaan ekonomi benar-benar hilang. Kustomisasi sendiri membutuhkan modal yang sangat beragam.
Ada proyek murah yang dibangun perlahan. Ada pula karya bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Perbedaan akses terhadap kendaraan, komponen, mesin, perkakas, maupun bengkel tetap mempunyai pengaruh.
Yang lebih tepat adalah mengatakan komunitas menciptakan ruang interaksi yang dapat mempertemukan orang dengan latar berbeda melalui minat bersama.
Status di dalam skena tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan atau kekayaan.
Kemampuan membangun motor, pengetahuan teknis, konsistensi berkarya, jaringan, reputasi, dan orisinalitas dapat menghasilkan bentuk status sosial lain.
Dalam perspektif Bourdieu, seseorang tidak hanya membawa modal ekonomi. Hal itu juga membawa modal budaya dan modal sosial.
Kustomfest sendiri sejak awal tidak hanya menampilkan mesin.
Festival memasukkan seni, musik, karya cat, body art, vendor, dan berbagai produk kreatif dalam satu arena.
Diketahui bahwa event seperti in idisebut sebagai platform kolaborasi antara komunitas kreatif, penggemar otomotif, dan pelaku industri.
Pada Kustomfest 2024, Dinas Pariwisata DIY bahkan mempertemukan kustom kulture dengan musik keras melalui kolaborasi bersama Hammersonic.
Dalam publikasi tersebut muncul konsep festival sebagai โrumahโ tanpa sekat, sembari tetap mengedepankan nilai tepa slira atau respect.
Ini membuat istilah โekosistem kreatifโ lebih tepat daripada sekadar โindustri modifikasiโ. Builder membutuhkan fotografer agar karyanya terdokumentasi.
Painter membutuhkan kendaraan sebagai kanvas. Musisi tampil di festival.
Perajin membuat jok dan aksesori. Vendor menjual produk.
Media memperluas reputasi. Sementara kedatangan tamu internasional membuka kemungkinan jaringan baru.
Kustomfest 2025 menjadi contoh jelasnya. Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mencatat festival menghadirkan builder internasional sekaligus kompetisi kustom paint.
Setelah festival, karya Indonesia kemudian dibawa menuju Yokohama dalam program Indonesian Attack. Siklus tersebut menunjukkan bagaimana kultur lokal dapat beroperasi secara global.
Pada akhirnya, kendaraan kustom memang dapat bergerak di jalan. Tetapi fungsi sosialnya jauh melampaui transportasi.
Hal ini membawa kisah soal siapa yang membuatnya, siapa yang mengendarainya, lingkungan sosial yang membentuknya, dan identitas seperti apa yang ingin ditampilkan.***





