
TUGUJOGJA – Selama hampir sepekan, ketenangan warga Seyegan, Kabupaten Sleman, terusik oleh peristiwa yang sulit diterima akal sehat. Titik-titik api muncul tanpa diduga di dalam rumah milik Mutfiana dan ibunya, Agus Yani.
Kebakaran terjadi berulang kali, menyasar pakaian, sofa, hingga berbagai sudut rumah. Dalam hitungan hari, api tercatat muncul lebih dari 55 kali.
Warga datang silih berganti. Aparat kepolisian turun tangan. Tim akademisi dari berbagai kampus melakukan investigasi.
Di tengah beragam spekulasi yang berkembang, satu demi satu fakta ilmiah mulai mengarah pada sebuah kesimpulan yang mengejutkan: gas metana diduga kuat menjadi penyebab munculnya api misterius tersebut.
Fenomena langka ini bahkan memunculkan pertanyaan besar. Mengapa kebakaran hanya terjadi di satu rumah? Dari mana asal gas yang memicu api itu? Dan apakah peristiwa serupa berpotensi terjadi di wilayah lain?
Kini, misteri yang sempat menjadi perbincangan luas masyarakat mulai menemukan titik terang. Tim ahli berdatangan untuk memecahkan misteri tersebut.
Awal Teror Api yang Datang Tanpa Peringatan
Peristiwa itu bermula pada Sabtu, 23 Mei 2026. Saat itu, penghuni rumah dikejutkan oleh kemunculan api secara tiba-tiba di beberapa titik dalam rumah.
Awalnya, kebakaran diduga berasal dari kebocoran gas metana yang muncul melalui septic tank. Dugaan tersebut membuat berbagai langkah penanganan dilakukan.
Saluran septic tank dikuras dan diperbaiki. Namun harapan agar kejadian berhenti ternyata tidak terwujud.
Api kembali muncul, bahkan intensitasnya meningkat. Karena Dalam rentang hampir satu pekan, kebakaran terus berulang hingga mencapai lebih dari 54 kali. Fenomena tersebut membuat warga sekitar diliputi kecemasan.
Banyak yang tidak memahami bagaimana api dapat muncul tanpa sumber pemicu yang jelas. Rumah itu kemudian menjadi pusat perhatian masyarakat, aparat, hingga kalangan akademisi.
Polisi Temukan Kenaikan Kandungan Gas Metana di Titik Munculnya Api
Sejumlah pengukuran dilakukan untuk mengungkap penyebab sebenarnya..Dosen sekaligus Asisten Profesor Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sarju Winardi, menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang dilakukan pihak kepolisian menunjukkan fakta penting.
Alat ukur yang digunakan polisi mendeteksi peningkatan kandungan gas metana tepat di lokasi-lokasi tempat api muncul. Temuan tersebut menjadi bukti paling kuat yang saat ini dimiliki tim investigasi.
“Kalau yang selama ini sudah dilakukan oleh pihak kepolisian, pihak kepolisian sudah mengukur kandungan gas. Dari alat ukur kepolisian itu ternyata di tempat keluarnya api memang gas metananya naik. Jadi evidence based yang paling kuat selama ini, api itu berindikasi dengan keluarnya gas metana,” ujar Sarju.
Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa sumber masalah bukan berasal dari korsleting listrik maupun faktor lain yang selama ini umum menjadi penyebab kebakaran rumah.
Kamera Thermal Ungkap Suhu Lebih Tinggi di Titik Kebakaran
Tim geologi UGM tidak berhenti pada pengukuran kandungan gas. Mereka juga melakukan pemetaan suhu menggunakan kamera thermal untuk melihat pola kemunculan api.
Hasil pengamatan menunjukkan titik-titik yang terbakar memiliki suhu lebih tinggi dibanding area sekitarnya. Menurut Sarju, kondisi tersebut sesuai dengan karakteristik material yang baru mengalami proses pembakaran.
“Kami hari ini mengukur suhu dengan kamera termal. Memang keluarnya api itu di tempat-tempat yang suhunya agak tinggi. Itu wajar karena ketika terbakar suhunya naik,” katanya.
Meski demikian, tim UGM masih akan melakukan investigasi lanjutan guna memastikan sumber metana yang muncul dari bawah permukaan tanah.
Sumur dan Jalur Pipa Air Ikut Menjadi Perhatian
Salah satu fakta yang membuat para peneliti semakin tertarik adalah laporan munculnya api di sekitar jalur pipa air hingga area sumur warga.
Fenomena tersebut memunculkan dugaan bahwa gas metana tidak hanya muncul melalui tanah, tetapi juga mungkin terbawa bersama aliran air bawah tanah.
Karena itu, tim UGM berencana melakukan pengukuran ulang kandungan gas metana sekaligus memeriksa sampel air dari lokasi kejadian.
“Nanti mungkin pekan depan kami akan membawa alat untuk mengukur kandungan gas yang ada di tempat itu dan juga sampel air. Karena beberapa waktu yang lalu keluarnya gas itu juga bersamaan dengan jalur pipa air dan sumur yang keluar api, maka kami juga akan mengukur sampel air apakah terkontaminasi metana atau tidak,” jelas Sarju.
Menurutnya, air yang mengandung metana tidak otomatis terbakar saat masih berada di bawah tanah. Api baru muncul ketika air mencapai permukaan dan gas metana yang terlarut di dalamnya terlepas ke udara lalu bercampur dengan oksigen.
“Terbakarnya adalah ketika air keluar di permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar,” ujarnya.
Metana Menumpuk di Sofa dan Pakaian
Penjelasan yang lebih menarik muncul ketika tim geologi mencoba memahami mengapa api sering muncul pada benda-benda tertentu di dalam rumah.
Sarju menerangkan bahwa gas metana memiliki karakteristik mirip LPG yang biasa digunakan masyarakat untuk memasak. Namun metana memiliki nilai kalor lebih rendah dan memerlukan konsentrasi tertentu sebelum dapat terbakar.
Gas tersebut diduga terakumulasi pada material berpori seperti pakaian, kain, kasur, hingga sofa. Dalam kondisi tertentu, gas yang tersimpan cukup lama pada benda-benda tersebut dapat mencapai konsentrasi yang memungkinkan terjadinya pembakaran.
“Kadang-kadang butuh waktu yang agak lama. Ngumpul di sofa, ngumpul di pakaian, di kain, itu dalam jumlah waktu yang cukup dia baru menyala,” ungkapnya.
Material berpori memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan gas lebih banyak dibanding benda padat lainnya.
Ketika kandungan metana mencapai kadar tertentu dan bertemu oksigen dalam kondisi yang memungkinkan, api dapat muncul secara tiba-tiba.
“Yang punya pori seperti pakaian, sofa, itu dia akan menyimpan gas di situ. Nanti kalau jumlahnya cukup banyak, kena oksigen, menyala dia,” katanya.
Gas Metana Tidak Menyebar ke Rumah Tetangga
Meski fenomena tersebut terdengar mengkhawatirkan, tim geologi memastikan risiko penyebaran ke rumah tetangga relatif kecil. Sarju menjelaskan bahwa gas metana memiliki sifat bergerak ke atas sehingga tidak mudah menyebar secara horizontal menuju bangunan lain.
Kalaupun terbawa angin, gas tersebut akan segera bercampur dengan udara bebas sehingga konsentrasinya menurun drastis.
“Dia tidak secara lateral atau horizontal bergerak ke sana. Kecuali terbawa angin. Tapi biasanya kalau sudah di luar, dia bercampur udara luar, kadarnya sudah sangat menurun, jadi relatif aman,” terangnya.
Karena alasan itu, para ahli merekomendasikan peningkatan sirkulasi udara di dalam rumah. Pemasangan kipas angin atau blower dinilai mampu mempercepat pergantian udara sehingga metana tidak terkumpul di dalam ruangan.
“Kami sarankan agar ruangan itu sirkulasinya diperbagus. Dipasang kipas angin atau blower sehingga tidak mudah terjadi penumpukan gas metana pada material seperti pakaian atau sofa,” jelasnya.
Jejak Rawa Purba di Balik Munculnya Gas Metana
Di tengah investigasi yang terus berlangsung, temuan menarik datang dari tim Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN Veteran Yogyakarta, Basuki Rahmad, menemukan indikasi geologi yang berpotensi menjelaskan asal-usul gas metana tersebut.
Sekitar 300 meter dari rumah Agus Yani, tim menemukan singkapan batuan lanau berwarna gelap. Tidak jauh dari lokasi itu, muncul gelembung-gelembung gas yang diduga kuat merupakan gas metana. Temuan batuan lanau gelap tersebut menjadi petunjuk penting.
Menurut Basuki, karakteristik batuan tersebut menunjukkan bahwa kawasan itu kemungkinan pernah menjadi rawa pada masa lampau.
Lingkungan rawa yang kaya material organik sering kali menghasilkan gas metana akibat proses pembusukan yang berlangsung selama ribuan tahun.
Gas kemudian tersimpan di bawah permukaan tanah dan dapat bermigrasi melalui rekahan maupun jalur-jalur geologi tertentu.
Temuan inilah yang saat ini menjadi salah satu hipotesis utama dalam menjelaskan kemunculan api misterius di Seyegan.
Rekaman Geofisika Jadi Kunci Mitigasi
Meski penyebab kebakaran mulai teridentifikasi, pekerjaan besar masih menanti para peneliti. Basuki Rahmad menilai investigasi harus dilanjutkan melalui rekaman geofisika yang lebih komprehensif.
Teknologi tersebut dapat memetakan kondisi bawah permukaan tanah secara detail, termasuk keberadaan reservoir gas, luas sebaran, hingga ketebalan lapisan yang menyimpannya.
Data tersebut sangat penting untuk mengetahui tingkat risiko di masa mendatang.
“Kalau kemungkinan terjadi di wilayah yang sama, itu serba kemungkinan. Cuma kita tidak tahu kapan. Jadi gas itu terus bermigrasi. Maka saran kami kalau memang harus lebih rinci dilakukan rekaman geofisika,” ujarnya.
Rekaman geofisika juga akan menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi agar fenomena serupa tidak kembali mengancam warga.
Misteri Mulai Terpecahkan, Penelitian Masih Berlanjut
Setelah lebih dari 55 kali kebakaran dalam waktu hampir sepekan, tabir misteri yang menyelimuti rumah di Seyegan perlahan mulai tersingkap.
Hasil pengukuran kepolisian, observasi tim geologi UGM, serta temuan geologi dari UPN Veteran Yogyakarta mengarah pada satu benang merah yang sama: keberadaan gas metana yang muncul dari bawah permukaan tanah.
Namun para peneliti belum berhenti sampai di situ. Mereka masih harus memastikan sumber pasti gas, pola migrasinya, serta potensi kemunculan di masa depan.
Di balik ketakutan yang sempat menyelimuti keluarga Agus Yani dan warga sekitar, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa fenomena geologi yang tersembunyi di bawah tanah dapat muncul kapan saja dan menghadirkan kejadian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Di Seyegan, Sleman, api yang semula dianggap misterius kini mulai berbicara lewat bahasa sains.
Misteri itu belum sepenuhnya selesai, tetapi arah jawabannya semakin jelas: gas metana yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan tanah diduga menjadi aktor utama di balik puluhan kebakaran yang menggegerkan warga.