Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas 1,5 Km ke Barat Daya pada Selasa Siang, Status Level III Siaga

Bagikan :
Awan panas guguran Gunung Merapi mengarah ke barat daya, Selasa 24 Februari 2026, berdasarkan laporan resmi BPPTKG. (Ist)

TUGUJOGJA – Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran sejauh 1.500 meter ke arah barat daya pada Selasa, 24 Februari 2026. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 14.18 WIB dan mengarah ke hulu Kali Krasak.

Informasi itu disampaikan Badan Geologi melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Aktivitas tersebut terekam dalam sistem pemantauan kegunungapian resmi.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyatakan awan panas guguran tercatat dengan amplitudo maksimum 60,31 mm dan berdurasi 125,6 detik. “Awan panas guguran mengarah ke barat daya, tepatnya ke hulu Kali Krasak, dengan estimasi jarak luncur 1.500 meter,” ujarnya.

Aktivitas Kegempaan dan Kondisi Visual

Dalam laporan Volcanic Activity Report periode pengamatan 24 Februari 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, tercatat peningkatan aktivitas kegempaan yang mencerminkan dinamika internal gunung.

Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut berada di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten. Pada periode pengamatan tersebut, kondisi cuaca di sekitar puncak dilaporkan berawan dengan angin bertiup tenang ke arah selatan.

Baca juga  Nekat Salip Truk, Brio Mahasiswa Sejoli Adu Banteng dengan Motor Pelajar Pulang Upacara HUT RI di Gunungkidul

Suhu udara tercatat antara 22,9 hingga 25,8 derajat Celsius, dengan kelembaban 62,4–77 persen dan tekanan udara 872–915,3 mmHg. Secara visual, puncak gunung tertutup kabut tipis pada skala 0–I dan tidak teramati adanya asap kawah.

Meski demikian, data kegempaan menunjukkan aktivitas internal yang signifikan. Petugas mencatat 30 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–37 mm dan durasi 52,34–185,22 detik.

Selain itu, terekam 13 gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2–26 mm. Gempa tersebut memiliki selisih waktu S-P 0,2–0,8 detik serta durasi 7,41–20,4 detik.

Guguran Lava dan Potensi Bahaya

Selain awan panas guguran, pengamat mencatat sembilan kali guguran lava ke arah barat daya. Guguran tersebut meliputi aliran menuju Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak.

Jarak luncur maksimum guguran lava mencapai 2.000 meter. Data ini menunjukkan suplai magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung.

Badan Geologi menetapkan status aktivitas Gunung Merapi pada Level III (Siaga). Status tersebut menandakan aktivitas vulkanik tinggi dan berpotensi menimbulkan ancaman di wilayah sekitar.

Baca juga  Belasan Kali Guguran Lava Pijar Terjadi di Puncak Merapi Senin Dini Hari, BPPTKG Ingatkan Potensi Bahaya

BPPTKG merinci potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya. Wilayah terdampak meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.

Untuk sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak.

Imbauan kepada Masyarakat dan Pemantauan Lanjutan

Agus Budi Santosa menyatakan suplai magma masih berlangsung berdasarkan data pemantauan terkini. Kondisi tersebut berpotensi memicu awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya yang telah ditetapkan.

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di zona potensi bahaya. Warga juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di kawasan Gunung Merapi.

Selain itu, potensi gangguan akibat abu vulkanik tetap perlu diantisipasi apabila terjadi erupsi lanjutan. Abu vulkanik dapat berdampak pada aktivitas warga di sekitar lereng gunung.

Baca juga  Sempat Keluhkan Pusing, Pekerja Bangunan di Bantul Meninggal Mendadak di Dasar Galian Pondasi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan pemantauan aktivitas Gunung Merapi dilakukan secara intensif. Jika terjadi perubahan signifikan, tingkat aktivitas gunung akan ditinjau kembali sesuai perkembangan yang teramati.

Berita Terbaru

fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus
Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret di Jogja
Fakta Sejarah Monumen Serangan Umum 1 Maret, Simbol Perlawanan Indonesia yang Mendunia
Fenomena Kekeringan Gunungkidul
Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

clars-puk-RLzwwA4EfxA-unsplash

Geopark Nasional Jogja Resmi Ditetapkan, Ini Daftar 24 Geosite, Biosite, dan Cultural Site Beserta Daya Tariknya

mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash

Cara Menukarkan Uang Baru 2026 di Bank: Panduan Lengkap untuk Masyarakat

rut-miit-mPaKMvE3sHg-unsplash

Tidak Lolos KIP Kuliah Apakah Bisa Daftar Lagi? Simak Ketentuannya Berikut Ini