
TUGUJOGJA– Pada Kamis, 11 Desember 2025, Gunungkidul Lautan Bakmi 2025 siap digelar. Ini adalah sebuah hajatan yang menghadirkan 2.025 porsi Bakmi Jawa gratis di Taman Budaya Gunungkidul mulai pukul 19.00 WIB.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Gebyar Warisan Budaya Takbenda (WBTb) 2025 yang masyarakat nantikan.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Gunungkidul, Agus Mantara, memastikan pemerintah daerah menyambut penetapan itu dengan penuh rasa syukur.
Gunungkidul Lautan Bakmi 2025
Ia menegaskan bahwa Lautan Bakmi merupakan cara Gunungkidul memberi ruang pada masyarakat untuk merasakan langsung identitas kuliner yang kini telah mendapat pengakuan nasional.
“Jadi, akhir tahun kuliner Bakmi Jawa telah ditetapkan menjadi WBTb. Selain itu ada kuliner Apem Contong dan tradisi Nyumbang,” ujar Agus pada Selasa (2/12/2025).
Ia menambahkan bahwa momentum ini harus menguatkan kembali ingatan kolektif tentang kuliner dan tradisi lokal Gunungkidul.
Panitia bergerak cepat memastikan hidangan layak tersaji. Mereka menyiapkan 2.025 porsi Bakmi Jawa lengkap dengan mie basah hasil produksi perajin lokal.
Langkah ini tidak hanya mempertegas dominasi cita rasa khas Gunungkidul, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi para pembuat mie yang selama ini menjadi tulang punggung kuliner bakmi di daerah tersebut.
“Lautan Bakmi diharapkan benar-benar menjadi lautan, ramai, hangat, dan membahagiakan,” harapnya.
Aturan Kupon: Mencegah Penumpukan, Mengutamakan Kenyamanan
Warga yang ingin mencicipi bakmi cukup mengambil dan menukarkan kupon khusus di stan panitia. Mekanisme ini akan mencegah antrean membludak dan memastikan semua peserta tetap nyaman.
Panitia membuka pengambilan kupon pada hari pelaksanaan mulai pukul 16.00 WIB. Namun untuk memperluas akses masyarakat, mereka membuka pengambilan lebih awal pada 9–10 Desember, pukul 10.00–14.00 WIB.
“Pada tanggal 9 dan 10 itu kami melepas 500 kupon per hari. Tanggal 11 kami melepas 1.025 kupon. Hal itu dilakukan supaya tertib, masyarakat dimanapun bisa menikmati,” jelas Agus.
Dengan mekanisme ini, panitia berharap setiap warga yang ingin mencicipi bakmi dapat memperoleh kesempatan yang sama, tanpa harus berdesak-desakan.
Lautan Bakmi bukan satu-satunya daya tarik. Panitia juga menyiapkan panggung hiburan yang menampilkan 31 WBTb Gunungkidul lain.
Warga akan menikmati pertunjukan tayub, lantunan campursari, hingga dagelan yang menghadirkan sosok populer seperti Mbah Baut dan Niken Sarintem.
Seluruh rangkaian ini akan memperkenalkan kekayaan budaya Gunungkidul kepada generasi muda sekaligus memeriahkan malam dengan suasana penuh tawa dan nostalgia.
Agus Mantara menggarisbawahi bahwa penetapan WBTb seharusnya tidak berhenti pada rasa bangga semata. Ia menegaskan bahwa pengakuan ini harus membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku kuliner, seniman, hingga perajin bahan baku.
“Jadi, kita tidak hanya bangga diakui secara nasional, tetapi harus memanfaatkannya untuk mendorong roda perekonomian di Gunungkidul,” tegasnya.
Melalui Lautan Bakmi, Gunungkidul ingin menunjukkan bahwa budaya tidak hanya hidup dalam kenangan, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi masyarakatnya. (ef linangkung)