
TUGUJOGJA- Di balik penataan megah Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, Teras Malioboro berdiri sebagai saksi transformasi besar ekonomi rakyat.
Kawasan ini tidak sekadar memoles wajah kota, tetapi juga menghidupkan harapan ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sepanjang tahun 2025, Teras Malioboro mencatatkan performa ekonomi yang mencengangkan. Para pedagang yang sebelumnya berjualan di trotoar kini menuai hasil manis dari kebijakan penataan yang terencana.
Capaian Teras Malioboro
Data terbaru menunjukkan total omzet tenant Teras Malioboro menembus angka Rp78,3 miliar setelah pemerintah daerah menggabungkan lokasi eks Indra, Ketandan, dan Beskalan.
Capaian ini menorehkan lonjakan drastis sebesar Rp56,3 miliar dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat omzet Rp22,4 miliar.
Lonjakan lebih dari dua kali lipat tersebut menegaskan bahwa ekosistem baru yang dibangun Pemerintah Daerah DIY bagi para mantan pedagang kaki lima Malioboro mulai menunjukkan kekuatan sesungguhnya.
Lalu, sepanjang tahun 2025, sebanyak 5.296.328 orang tercatat mengunjungi Teras Malioboro. Angka ini menempatkan kawasan tersebut sebagai salah satu magnet wisata belanja dan budaya paling ramai di Yogyakarta.
Teras Beskalan menjadi daya tarik lain. Ia dengan amphitheater terbukanya menghadirkan ruang pertunjukan seni yang hidup.
Sementara itu, Teras Ketandan menghidupkan kembali nuansa pecinan dan jejak sejarah Tan Jin Sing yang kental dengan kisah toleransi dan peradaban Yogyakarta.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Agus Mulyono, menegaskan bahwa Teras Malioboro telah bertransformasi secara signifikan. Kawasan ini tidak lagi sekadar menjadi lokasi relokasi pedagang, tetapi berkembang menjadi pusat literasi budaya yang menyatu dengan denyut ekonomi.
“Tantangan ke depan menuntut kami menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi, penguatan kapasitas tenant, dan penyelenggaraan kegiatan budaya. Teras Malioboro bukan hanya pusat oleh-oleh, tetapi juga ruang pengalaman budaya Yogyakarta,” ujar Agus Mulyono, Sabtu (10/1/2026).
Di balik gemerlap omzet miliaran rupiah tersebut, pemerintah daerah menjalankan upaya penguatan kapasitas pedagang secara masif dan berkelanjutan.
Hingga akhir 2025, sebanyak 1.380 tenant atau sekitar 70,26 persen dari total keseluruhan telah mengikuti berbagai pelatihan. Program ini mencakup strategi permodalan, pengelolaan usaha, hingga manajemen keuangan jangka panjang.
Pemerintah juga memperkuat aspek legalitas usaha. Sepanjang 2025, fasilitasi penerbitan 1.365 Nomor Induk Berusaha (NIB) berhasil memberikan kepastian hukum bagi para tenant.
Kepuasan Tenant
Komitmen terhadap kualitas layanan pun membuahkan hasil ketika Teras Malioboro meraih Sertifikasi ISO 9001:2015 dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Kepala Balai Layanan Usaha Terpadu KUMKM DIY, Wisnu Hermawan, menyebut capaian ini sebagai pijakan awal yang menjanjikan. Ia menegaskan bahwa pihaknya kini mengalihkan fokus pada pemerataan pertumbuhan ekonomi di seluruh area Teras Malioboro.
“Kami memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di area depan, tetapi juga menjangkau lantai atas dan area belakang. Kami berkomitmen menghadirkan kebijakan yang berpihak pada tenant melalui inovasi tata kelola produk agar seluruh tenant tumbuh bersama,” kata Wisnu Hermawan.
Hasil survei memperkuat optimisme tersebut. Tingkat kepuasan tenant mencapai 89,8 persen, sementara Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) berada di angka 88,35 persen.
Angka ini meningkat 4,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan keberhasilan tata kelola dan pelayanan publik di kawasan tersebut.
Dengan pondasi kuat yang terbangun sepanjang 2025, Teras Malioboro menatap 2026 dengan penuh optimisme. Kawasan ini memantapkan diri sebagai jantung ekonomi rakyat yang modern, inklusif, dan berdaya saing, tanpa melepaskan akar budaya Yogyakarta.
Di tengah arus modernisasi kota, Teras Malioboro membuktikan bahwa penataan ruang yang berpihak pada rakyat mampu menghadirkan kemajuan ekonomi sekaligus menjaga ruh kebudayaan. (ef linangkung)