
TUGU JOGJA – Musim kemarau yang mulai melanda Kabupaten Gunungkidul sejak awal Juni 2026 masih menjadi topik yang belakangan ramai menjadi bahan berbincangan, khususnya warga masyarakat yang tinggal di sana.
Adapun belakangan, diketahui bahwa fenomena tersebut kemudian memicu lonjakan kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah.
Dampaknya, aktivitas distribusi air menggunakan truk tangki meningkat tajam, sementara para pengusaha dan sopir truk air merasakan kenaikan pendapatan dibandingkan saat musim hujan.
Adapun lokasi pengisian air Tirtosari di Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, menjadi salah satu titik yang cukup sibuk.
Deretan truk tangki tampak bergantian masuk ke area pengisian sejak pagi hingga sore untuk memenuhi permintaan masyarakat di kawasan rawan kekeringan.
Dalam sehari, sedikitnya 60 hingga 65 truk tangki datang mengisi air bersih. Angka tersebut meningkat berkali-kali lipat dibandingkan musim penghujan yang hanya melayani beberapa kendaraan setiap hari.
Aktivitas Pengisian Air Berlangsung Hampir Tanpa Henti
Kesibukan terlihat jelas di lokasi pengisian air. Truk tangki datang silih berganti tanpa jeda panjang. Setelah proses pengisian selesai, kendaraan langsung berangkat menuju berbagai wilayah yang mengalami kekurangan pasokan air bersih.
Peningkatan aktivitas itu terjadi seiring semakin banyaknya permintaan dari masyarakat di wilayah selatan Gunungkidul yang mulai terdampak musim kemarau.
Kawasan yang paling banyak menerima distribusi air bersih antara lain:
- Kapanewon Panggang bagian selatan
- Kapanewon Purwosari
- Sejumlah wilayah lain yang mulai mengalami krisis air bersih
Bagi masyarakat di daerah tersebut, pasokan air tangki menjadi solusi utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika sumber air mulai berkurang.
Sopir Truk Air Tangki Jalani Musim Tersibuk
Lonjakan permintaan juga berdampak langsung terhadap aktivitas para sopir truk tangki.
Jika pada hari biasa jumlah pengiriman relatif terbatas, memasuki musim kemarau mereka dapat melakukan lima hingga tujuh kali perjalanan dalam sehari.
Saat permintaan sedang mencapai puncak, seorang sopir bahkan mampu mengirimkan hingga 10 tangki air dalam satu hari.
Mariyanto, salah seorang sopir truk tangki, mengatakan harga pengiriman disesuaikan dengan lokasi tujuan dan tingkat kesulitan akses menuju rumah pelanggan.
“Harga tangki tergantung sama jarak jalan sama rumah,” ungkap Mariyanto.
Ia menjelaskan tarif paling rendah berada di kisaran Rp150 ribu.
“Mungkin minimal 150,” katanya.
Apabila lokasi pengiriman lebih jauh, tarif dapat meningkat.
“Kalau jaraknya dari bak ke rumah itu mungkin 170 sampai 200,” ucapnya.
Satu truk berkapasitas sekitar 5.000 liter dijual dengan harga antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, bergantung pada jarak distribusi.
Lonjakan Permintaan Terjadi Sejak Dua Bulan Terakhir

Pemilik lokasi pengisian air Tirtosari, Sagiyo, mengaku peningkatan permintaan sudah mulai terasa sejak sekitar dua bulan terakhir seiring memasuki musim kemarau.
Perubahan jumlah kendaraan yang datang sangat signifikan. Saat musim hujan, lokasi usahanya rata-rata hanya melayani lima hingga tujuh truk tangki setiap hari. Sebagian besar air saat itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan peternakan.
Memasuki musim kemarau, jumlah tersebut melonjak menjadi sekitar 60 hingga 65 truk per hari.
“Musim hujan itu lima sampai tujuh tangki,” ucapnya.
“Kalau musim kemarau itu enam puluh sampai enam puluh lima per hari,” kata Sagiyo.
Air Berasal dari Sumur Pribadi yang Dekat Mata Air Besar
Untuk memenuhi tingginya kebutuhan air bersih, Sagiyo memanfaatkan sumur milik pribadi.
Air dipompa terlebih dahulu menuju bak penampungan sebelum dialirkan ke dalam truk tangki yang antre melakukan pengisian.
Meski biaya operasional listrik mencapai sekitar Rp7 juta setiap bulan, pasokan air tetap mampu memenuhi permintaan karena sumber air berada di dekat mata air besar yang tidak pernah mengering.
“Dari sumur manual,” katanya.
Menurut Sagiyo, debit air memang bisa mengalami penurunan saat kemarau panjang, tetapi sumbernya belum pernah benar-benar kering.
“Tidak pernah kering, surut biasa, tetapi kering enggak pernah,” jelasnya.
Untuk setiap pengisian sebanyak 5.000 liter, pemilik lokasi mematok tarif Rp30 ribu kepada truk tangki.
Kemarau Mendorong Kebutuhan Air Bersih Meningkat
Fenomena meningkatnya aktivitas truk tangki menjadi gambaran awal dampak musim kemarau di Gunungkidul.
Ketika sejumlah wilayah mulai mengalami keterbatasan sumber air, distribusi menggunakan kendaraan tangki menjadi penopang utama kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, kondisi tersebut menghadirkan peluang ekonomi bagi pengusaha pengisian air maupun para sopir truk tangki yang kini menjalani hari-hari tersibuk sepanjang musim kemarau. (ef linangkung)