
TUGUJOGJA – Kisah pilu datang dari Pedukuhan Dhisil, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.
Seorang remaja bernama Ananda Yue Riastanto (16) harus menjalani hidup dalam kondisi lumpuh total selama 9 tahun setelah digigit ular weling saat masih duduk di bangku kelas 1 SD.
Peristiwa yang terjadi pada Januari 2017 itu bukan hanya mengubah masa kecil Nandaโsapaan akrabnyaโtetapi juga mengubah seluruh kehidupan keluarganya, terutama sang ibu, Deni Rianingsih, yang hingga kini merawatnya seorang diri.
Digigit Ular Saat Tidur Pukul 03.00 WIB
Kejadian bermula pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu Nanda sedang tertidur lelap. Tanpa disadari, seekor ular weling masuk ke dalam rumah dan menggigit telunjuk kaki kiri Nanda.
Gigitan tersebut ternyata berasal dari ular weling atau Bungarus candidus, salah satu jenis ular berbisa yang sangat berbahaya. Bisa ular ini bersifat neurotoksik, menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan hingga gangguan pernapasan.
Awalnya keluarga tidak menyangka dampaknya akan sedemikian parah. Namun dalam waktu singkat, kondisi Nanda memburuk. Tubuhnya melemah, kesadarannya menurun, hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Dirawat 32 Hari, Dampak Permanen
Setelah kejadian, Nanda mendapatkan perawatan intensif di RSUP Dr. Sardjito selama 32 hari. Tim medis berupaya menyelamatkan nyawanya dari dampak racun yang sudah menyebar ke sistem saraf.
Meski berhasil melewati masa kritis, dampak gigitan tersebut meninggalkan kerusakan permanen. Nanda mengalami kelumpuhan motorik total, gangguan penglihatan, serta gangguan saraf berat. Tubuhnya kaku dan tidak lagi mampu bergerak secara normal.
Sejak saat itu, kehidupannya berubah sepenuhnya. Aktivitas yang dulu sederhana seperti bermain, belajar, berlari kini tak lagi bisa dilakukan.
Hidup dengan Selang Makan dan Perawatan Total
Hingga 2026, kondisi Nanda belum menunjukkan pemulihan signifikan. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Untuk asupan nutrisi, ia menggunakan nasogastric tube (NGT) atau selang makan yang dipasang langsung ke lambung melalui hidung.
Semua kebutuhan harianโmulai dari memberi makan, memandikan, mengganti pakaian, hingga memastikan pernapasannya stabilโditangani oleh sang ibu.
Perawatan ini bukan perkara mudah. Selain membutuhkan ketelatenan, juga memerlukan biaya rutin untuk susu khusus, obat-obatan, dan perlengkapan medis.
Bahaya Ular Weling yang Sering Diremehkan
Kasus yang menimpa Nanda menjadi pengingat betapa berbahayanya ular weling. Bungarus candidus dikenal memiliki bisa neurotoksik yang bekerja cepat menyerang sistem saraf pusat.
Pada banyak kasus, korban tidak langsung merasakan nyeri hebat, sehingga sering kali terlambat mendapatkan penanganan medis. Padahal, penanganan cepat di fasilitas kesehatan sangat krusial untuk mencegah dampak fatal seperti kelumpuhan permanen atau gangguan pernapasan.
Lingkungan permukiman yang berdekatan dengan area persawahan atau kebun juga meningkatkan risiko kemunculan ular jenis ini, terutama pada malam hari.
Perjuangan Sang Ibu: Merawat dan Bertahan
Di balik kondisi Nanda, ada perjuangan luar biasa dari ibunya, Deni Rianingsih. Selama 9 tahun, ia merawat anaknya tanpa henti. Hampir seluruh waktunya dihabiskan di rumah.
Tak hanya merawat secara fisik, Deni juga berjuang menjaga kewarasan mentalnya. Beban emosional merawat anak dengan kondisi lumpuh total tentu tidak ringan.
Sejak 2021, ia mulai menulis novel digital sebagai bentuk pelarian sekaligus sumber penghasilan tambahan. Karya-karyanya dipublikasikan di platform seperti GoodNovel, NovelToon, dan Tivizo.
Menulis menjadi ruang bagi Deni untuk menyalurkan emosi, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan obat dan susu Nanda. Puluhan novel telah ia hasilkan dalam beberapa tahun terakhir.
9 Tahun yang Tidak Mudah
Waktu terus berjalan. Nanda kini telah berusia 16 tahun. Masa remajanya dihabiskan di atas tempat tidur, dengan ketergantungan penuh pada sang ibu.
Kisah ini bukan hanya tentang tragedi akibat gigitan ular, tetapi juga tentang keteguhan seorang ibu yang memilih bertahan di tengah situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Peristiwa yang dialami Nanda menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya ular berbisa serta urgensi penanganan medis cepat. Di sisi lain, cerita ini juga menunjukkan bahwa di balik penderitaan panjang, selalu ada cinta dan dedikasi yang tak pernah padam.
***