
TUGU JOGJA – Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi dan tetap berstatus Level III (Siaga).
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan asap putih terus keluar dari puncak, sementara pertumbuhan kubah lava, guguran lava, dan awan panas guguran masih terjadi di kawasan potensi bahaya.
Kondisi tersebut menandakan erupsi Merapi masih berlangsung dengan karakter efusif sehingga masyarakat diminta tetap waspada.
Aktivitas Gunung Merapi di Level III
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan aktivitas vulkanik Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada level yang cukup tinggi dengan karakter erupsi efusif. Oleh karena itu, BPPTKG tetap mempertahankan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.
Selama periode pengamatan, Merapi tampak mengeluarkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap bervariasi antara 10 hingga 150 meter dari puncak dengan tekanan lemah. Meski terlihat relatif tenang dari kejauhan, aktivitas di dalam tubuh gunung terus berlangsung.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung sehingga tetap berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” kata Agus Budi Santosa.
Selama sepekan terakhir, BPPTKG mencatat dua kali awan panas guguran meluncur hingga sejauh dua kilometer ke arah hulu Kali Boyong dan Kali Sat/Putih. Selain itu, aktivitas guguran lava masih mendominasi dengan total puluhan kejadian di sejumlah alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Petugas mencatat enam kali guguran lava mengarah ke hulu Kali Boyong dengan jarak luncur maksimal dua kilometer. Sebanyak 38 kali guguran mengarah ke Kali Krasak sejauh dua kilometer, tujuh kali menuju Kali Bebeng hingga 1,7 kilometer, serta 48 kali mengarah ke Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimal dua kilometer.
Temuan lain yang menjadi perhatian datang dari hasil survei drone pada 22 Juli 2026. Pemotretan udara memperlihatkan kubah lava di puncak Merapi terus mengalami pertumbuhan.
BPPTKG mencatat volume Kubah Barat Daya bertambah sekitar 2.000 meter kubik sehingga kini mencapai 4.021.200 meter kubik. Sementara itu, Kubah Tengah juga bertambah sekitar 600 meter kubik dengan total volume mencapai 2.369.400 meter kubik.
Meski volume kubah terus bertambah, hasil pengukuran termal menunjukkan suhu kedua kubah relatif stabil. Suhu Kubah Barat Daya maupun Kubah Tengah sama-sama terukur sekitar 243 derajat Celsius atau tidak mengalami perubahan berarti dibandingkan pengukuran sebelumnya.
Di sisi lain, aktivitas kegempaan masih merekam dinamika di dalam tubuh Merapi. Jaringan seismik mencatat dua gempa awan panas guguran, 31 gempa vulkanik dangkal, 551 gempa fase banyak, empat gempa frekuensi rendah, 647 gempa guguran, serta 12 gempa tektonik.
Meski jumlah gempa masih cukup tinggi, Agus menjelaskan intensitas kegempaan selama periode ini justru lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.
Ancamana Erupsi dan Potensi Bahaya Awan Panas
Pemantauan deformasi menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) dan GPS juga belum menunjukkan perubahan signifikan. Kondisi tersebut mengindikasikan belum terjadi perubahan tekanan besar pada tubuh gunung meskipun suplai magma masih berlangsung.
Sementara itu, selama sepekan terakhir petugas tidak mencatat hujan di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Kondisi itu membuat tidak ada laporan aliran lahar maupun penambahan material di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Meski demikian, BPPTKG mengingatkan ancaman erupsi belum berakhir. Potensi bahaya masih berupa guguran lava dan awan panas yang mengarah ke sektor selatan hingga barat daya. Kawasan Sungai Boyong memiliki potensi bahaya hingga lima kilometer, sedangkan Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng mencapai tujuh kilometer.
Pada sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol hingga lima kilometer. Jika sewaktu-waktu terjadi letusan eksplosif, material vulkanik juga berpotensi terlontar hingga radius tiga kilometer dari puncak.
BPPTKG meminta Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten terus memperkuat langkah mitigasi dengan meningkatkan kapasitas masyarakat serta menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan potensi bahaya. Warga di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi harus tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas guguran dan banjir lahar, terutama ketika hujan turun di kawasan puncak.
Selain itu, masyarakat perlu mengantisipasi dampak hujan abu vulkanik yang sewaktu-waktu dapat terjadi selama aktivitas erupsi masih berlangsung.
BPPTKG menegaskan akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi selama 24 jam. Apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, BPPTKG akan segera melakukan evaluasi dan meninjau kembali status aktivitas Gunung Merapi. (ef linangkung)