
TUGUJOGJA — Ribuan pesepeda memadati kawasan pusat Kota Yogyakarta saat gelaran Jogja Last Friday Ride (JLFR) #195 Edisi Juli 2026 berlangsung pada Jumat (31/7/2026) malam.
Untuk mengantisipasi kepadatan dan menjaga ketertiban lalu lintas, Polresta Yogyakarta menerjunkan ratusan personel gabungan di sepanjang jalur kegiatan.
Pengamanan dipusatkan di kawasan Tugu Yogyakarta, Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer yang menjadi titik utama pergerakan peserta. Hingga malam hari, kegiatan berlangsung aman tanpa gangguan berarti.
Kabag Ops Polresta Yogyakarta Kompol Sumanto memimpin langsung operasi pengamanan yang melibatkan personel Polresta Yogyakarta, jajaran Polsek, Dinas Perhubungan, Satpol PP, dan sejumlah instansi terkait.
“Kami mengedepankan pendekatan humanis melalui pengaturan arus, pemberian imbauan, serta koordinasi lintas instansi agar kegiatan pesepeda ini berlangsung aman, tertib, dan tetap memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan maupun pejalan kaki di Malioboro,” ujar Kompol Sumanto dalam keterangan tertulis.
Arus Pesepeda Mulai Memadat Sejak Sore
Kepadatan mulai terlihat sejak sekitar pukul 19.00 WIB. Pesepeda dari berbagai komunitas maupun masyarakat umum bergerak menuju pusat kota untuk mengikuti agenda rutin yang digelar setiap akhir bulan tersebut.
Di sejumlah ruas jalan menuju kawasan Tugu dan Malioboro, volume pesepeda meningkat signifikan. Antrean kendaraan sempat mengular di beberapa simpang karena bercampurnya arus kendaraan bermotor dan rombongan pesepeda yang datang dari berbagai arah.
Simpang Empat Jetis menjadi salah satu titik yang mengalami perlambatan. Kendaraan harus bergantian melintas saat lampu lalu lintas berubah, sementara rombongan pesepeda terus berdatangan menuju pusat kota.
Situasi serupa juga terlihat di sekitar kawasan Tugu Yogyakarta. Sesekali terdengar bunyi klakson kendaraan ketika sejumlah pesepeda bergerak melebar hingga mendekati badan jalan utama.
Sekitar pukul 20.00 WIB, kepadatan bergeser ke kawasan Kridosono yang menjadi salah satu titik berkumpul peserta. Arus pesepeda dari Jalan Abu Bakar Ali, Jalan Suroto, dan Jalan Atmosukarto bertemu di satu simpang sehingga menyebabkan perlambatan lalu lintas di sekitarnya.
Dampaknya terasa hingga ujung Jalan Atmosukarto dan kawasan Kleringan. Kendaraan dari arah Jalan Mangkubumi menuju Abu Bakar Ali harus melaju lebih lambat dibanding kondisi normal.
Malioboro Tetap Relatif Lancar
Meski jumlah pesepeda terus bertambah, kondisi di kawasan Malioboro cenderung lebih terkendali. Penerapan konsep car free night membuat ruang gerak peserta lebih leluasa tanpa banyak bersinggungan dengan kendaraan bermotor.
Petugas ditempatkan di sejumlah titik untuk mengatur pergerakan peserta dan menjaga akses pejalan kaki. Imbauan terus diberikan agar pesepeda menggunakan jalur yang telah diarahkan sehingga aktivitas wisatawan dan masyarakat yang berada di Malioboro tetap nyaman.
Dari pengamatan di lapangan, konsentrasi pesepeda mulai terpecah ketika memasuki kawasan Titik Nol Kilometer. Sebagian peserta bergerak ke arah selatan, sementara lainnya memilih jalur timur dan barat sehingga kepadatan perlahan terurai.
Kompol Sumanto juga mengapresiasi peserta yang dinilai kooperatif selama kegiatan berlangsung.
Menurutnya, kepatuhan peserta terhadap arahan petugas menjadi salah satu faktor yang membuat kegiatan berjalan lancar hingga selesai.

Evaluasi Arus Pesepeda
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo terlihat memantau langsung jalannya JLFR dari sejumlah titik di pusat kota pada Jumat malam. Pemantauan dilakukan untuk melihat kondisi riil di lapangan saat ribuan pesepeda bergerak menuju kawasan Malioboro.
Ia mendatangi beberapa ruas jalan yang menjadi jalur utama peserta, sekaligus mengamati dampak kegiatan terhadap arus lalu lintas dan aktivitas masyarakat di pusat kota. Sejumlah titik yang sempat mengalami perlambatan kendaraan juga menjadi perhatian dalam pemantauan tersebut.
Menurut Hasto, pengamatan langsung diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran yang utuh mengenai pelaksanaan JLFR, termasuk potensi kendala yang muncul saat jumlah peserta meningkat.
“Kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan sebagai bahan evaluasi agar penyelenggaraan JLFR ke depan semakin tertib, aman, dan nyaman bagi seluruh pengguna jalan,” kata Hasto.
Pemkot Yogyakarta berencana menjadikan hasil pemantauan tersebut sebagai bahan evaluasi bersama berbagai pihak terkait.
Pengaturan arus lalu lintas, titik konsentrasi peserta, hingga kenyamanan wisatawan dan warga di kawasan pusat kota menjadi aspek yang akan dikaji untuk pelaksanaan JLFR berikutnya.
Hingga penghujung acara, tidak ditemukan gangguan menonjol selama kegiatan berlangsung.
Arus pesepeda yang sempat menumpuk di beberapa simpang utama berangsur terurai setelah peserta menyebar ke berbagai arah dari kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer. (Gal)