Anggaran BOSDA DIY 2026 Dipangkas, Sekolah Swasta Kecil Mulai Tertekan

Bagikan :
Ilustrasi |  Anggaran BOSDA DIY 2026 turun Rp9,29 miliar/Unsplash

TUGUJOGJA – Penyesuaian anggaran pendidikan mulai terasa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah Daerah DIY memangkas anggaran Program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) 2026 sebesar Rp9,29 miliar, memicu kekhawatiran baru di kalangan sekolah swasta kecil yang selama ini bertahan dengan bantuan operasional pemerintah.

Data anggaran menunjukkan BOSDA DIY turun dari Rp206,01 miliar pada 2025 menjadi Rp196,72 miliar pada 2026. Penurunan itu terjadi di tengah masih tingginya angka anak tidak sekolah di DIY yang kini mencapai 13.669 anak.

Bagi sekolah besar, pengurangan anggaran mungkin masih bisa diantisipasi lewat sumber pendanaan lain. Situasinya berbeda bagi sekolah kecil dengan jumlah siswa minim.

Di sejumlah sekolah swasta kecil, penyesuaian BOSDA langsung memengaruhi pelayanan harian. Mulai dari pengadaan sarana belajar, biaya operasional, hingga kebutuhan ujian sekolah.

Sekolah Kecil Mulai Mengencangkan Pengeluaran

Tekanan paling terasa dialami sekolah dengan jumlah peserta didik sangat sedikit. Salah satunya SMP Gotong Royong di Yogyakarta.

Sekolah tersebut kini hanya memiliki empat siswa tingkat SMP dan 14 siswa tingkat SMA. Dengan kondisi itu, bantuan operasional menjadi penopang utama agar kegiatan belajar tetap berjalan.

Pada jenjang SMP, BOSDA yang diterima sekitar Rp1,5 juta per siswa per tahun. Dana itu digunakan untuk kebutuhan operasional barang dan jasa agar siswa tidak dibebani biaya tambahan.

Baca juga  Love Scamming Bermarkas di Sleman Terbongkar, Gunakan Aplikasi Kencan Asal Cina dan Jaring Korban Internasional

Sementara untuk tingkat SMA, bantuan dari pemerintah provinsi sekitar Rp390 ribu per siswa per tahun.

“Ini bukan biaya personal siswa, tapi untuk operasional sekolah. Jadi kalau anggaran BOSDA terbatas tentu pelayanan juga ikut terbatas,” ungkap pihak sekolah.

Situasi di lapangan mulai berubah sejak pembahasan efisiensi anggaran bergulir. Beberapa sekolah mengaku mulai menunda pembelian fasilitas non-prioritas.

Ada juga yang mulai mengurangi kegiatan tambahan di luar pembelajaran inti.

Di lingkungan sekolah kecil, kondisi seperti ini cepat terasa. Ruang komputer yang terbatas, perangkat belajar yang dipakai bergantian, hingga meja kursi lama yang belum terganti menjadi pemandangan biasa.

“Kalau BOSDA berkurang, pelayanan jelas menjadi minimalis. Sarana prasarana juga terbatas,” ujarnya.

Bertahan dengan Pinjaman dan Donatur

Keterbatasan fasilitas sebenarnya bukan hal baru bagi sekolah kecil di DIY.

Menjelang ujian sekolah, SMP Gotong Royong bahkan beberapa kali meminjam perangkat dari guru, sekolah lain, hingga donatur agar siswa tetap bisa mengikuti ujian dengan layak.

“Kami bisa meminjam dari guru, meminjam dari sekolah lain, bahkan meminjam dari donatur,” kata pihak sekolah.

Di tengah keterbatasan itu, sekolah mengaku tidak mengejar fasilitas mewah. Fokus utama mereka hanya memastikan anak-anak tetap memiliki ruang belajar.

Harapan mereka juga sederhana.

“Yang penting kami tidak kesulitan mempertanggungjawabkan dana, dan para donatur masih tetap semangat membantu meski BOSDA dikurangi,” lanjutnya.

Baca juga  Viral Tilang Dibayar ke Rekening Pribadi, JPW Desak Propam Usut Tuntas Oknum Polisi

Dalam beberapa pekan terakhir, isu penurunan BOSDA juga mulai ramai dibahas di kalangan orang tua murid dan pengelola sekolah swasta kecil.

Sejumlah pengurus sekolah mengaku mulai mendapat pertanyaan soal kemungkinan kenaikan iuran sekolah apabila bantuan operasional terus menurun.

DPRD DIY Soroti Dampak Penurunan BOSDA

Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait penurunan BOSDA 2026. Pengurangan anggaran terjadi di berbagai jenjang sekolah negeri maupun swasta.

Berikut rincian penurunan anggaran BOSDA DIY 2026:

Jenjang 2025 2026
SMA Negeri Rp64,79 miliar Rp62,97 miliar
SMK Negeri Rp100,79 miliar Rp98,35 miliar
SLB Negeri Rp10,54 miliar Rp10,09 miliar
SMA/MA Swasta Rp8,85 miliar Rp7,46 miliar
SMK Swasta Rp14,71 miliar Rp11,55 miliar

Eko menilai kondisi itu perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi akses pendidikan masyarakat.

“Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada akses pendidikan,” ujarnya.

Ia juga meminta pemerintah daerah menyiapkan langkah afirmatif agar anak-anak yang berada di luar sistem pendidikan dapat kembali bersekolah.

Lebih dari 13 Ribu Anak Tidak Sekolah

Data anak tidak sekolah di DIY menjadi perhatian tersendiri di tengah penyesuaian anggaran pendidikan.

Jumlahnya kini mencapai 13.669 anak yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Bantul menjadi wilayah dengan angka tertinggi mencapai 3.727 anak, disusul Gunungkidul 3.429 anak dan Sleman 3.259 anak.

Baca juga  Jangan Cuma Main Gadget! Ini 10 Tips Liburan Produktif agar Anak Tetap Aktif dan Kreatif

Hingga pembaruan terbaru, sekitar 8.066 anak sudah terverifikasi, sementara 5.603 lainnya masih dalam proses pendataan.

Angka tersebut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pemerhati pendidikan, terutama ketika sekolah-sekolah kecil mulai menghadapi tekanan operasional.

Pemda DIY Sebut Faktor Anak Tidak Sekolah Bukan Hanya Ekonomi

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan penyebab anak tidak sekolah tidak selalu berkaitan dengan biaya pendidikan.

Pemda DIY mencatat ada sekitar 18 kategori penyebab anak tidak sekolah, mulai dari memilih bekerja, menikah, mengurus rumah tangga, jarak sekolah yang jauh, hingga trauma dan perundungan di lingkungan pendidikan.

“Tidak sekolah itu bukan selalu karena tidak ada biaya. Klasifikasinya ada sekitar 18 kategori,” ujarnya.

Data pemerintah menunjukkan kategori bekerja menjadi penyebab terbesar pada jenjang SMA dengan sekitar 2.067 siswa. Sementara kategori tidak mampu secara ekonomi tercatat sekitar 186 siswa.

“Kalau mereka bekerja memang bisa jadi karena faktor ekonomi, tetapi bisa juga karena mereka merasa sudah cukup dengan penghasilan yang diperoleh,” jelasnya.

Meski begitu, pemerintah daerah mengakui dampak penyesuaian BOSDA akan lebih berat dirasakan sekolah swasta kecil dengan jumlah siswa terbatas.

Berita Terbaru

kulinarea-1
Kulinarea 2026 Hadir di GIK UGM, Festival Kuliner yang Satukan Pelaku Industri hingga Pecinta Kuliner
images (14)
Panduan Rute ke KVille Kaliurang dari Pusat Kota Yogyakarta, Lewat Mana yang Paling Mudah?
fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

haedar nashir

Ini Harapan Haedar Nashir untuk Penerus Paus Fransiskus

Bisnis Truk Tangki Air Gunungkidul

Krisis Air Bersih Meluas, Pengusaha Truk Tangki Gunungkidul Panen Permintaan

Fenomena Kekeringan Gunungkidul

Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir