
TUGUJOGJA – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta memasang kamera trap di sejumlah titik di Kabupaten Gunungkidul untuk memverifikasi laporan warga terkait dugaan kemunculan satwa liar menyerupai macan yang menimbulkan kekhawatiran di sekitar kawasan permukiman dan ladang.
Dalam beberapa hari terakhir, warga di beberapa wilayah Gunungkidul melaporkan melihat sosok yang diduga macan melintas di sekitar hutan rakyat dan area pertanian.
Informasi tersebut berkembang di masyarakat dan memicu kewaspadaan, terutama pada malam hari ketika aktivitas warga berkurang.
Menindaklanjuti laporan itu, tim Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Yogyakarta melakukan pemasangan kamera trap pada hari ini di lokasi-lokasi yang diduga menjadi jalur perlintasan satwa liar. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebenaran laporan secara ilmiah melalui bukti visual dan data lapangan.
Pemasangan Kamera Trap di Titik Laporan Warga
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Yogyakarta, Taufan Kharis, memimpin langsung kegiatan pemasangan kamera trap. Ia menjelaskan bahwa BKSDA memilih pendekatan berbasis pemantauan lapangan guna menghindari spekulasi tanpa dasar data.
“Kami hari ini memasang kamera trap dalam rangka pemantauan dari laporan masyarakat terkait dugaan adanya macan. Kami pasang tiga kamera trap di tiga lokasi yang kemarin dilaporkan warga sebagai tempat kemunculan satwa tersebut,” kata Taufan.
Tim menyusuri ladang, tepi hutan, dan jalur setapak yang biasa dilalui warga untuk menentukan titik pemasangan. Lokasi dipilih agar kamera dapat merekam pergerakan satwa secara optimal tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
Masa Pemantauan dan Pola Evaluasi
Kamera trap direncanakan terpasang selama sekitar dua pekan. Selama periode tersebut, petugas akan melakukan pengecekan rutin setiap minggu untuk mengunduh dan menelaah rekaman.
“Setiap minggu akan kami pantau. Dari situ nanti bisa diketahui apakah benar ada macan atau ternyata satwa lain,” ujar Taufan.
Rekaman yang diperoleh akan dianalisis untuk memastikan jenis satwa yang terekam, termasuk membedakan antara satwa liar yang dilindungi dan hewan lain yang mungkin keliru diidentifikasi warga.
Dalam proses pemasangan, BKSDA juga melibatkan warga setempat. Masukan warga digunakan untuk menyesuaikan posisi kamera berdasarkan dugaan jalur lintasan satwa yang sering terlihat.
“Tadi sempat kami pasang, lalu ada masukan dari warga kalau sebaiknya dipindah karena kemungkinan lintasan satwanya ada di situ. Akhirnya kami menyesuaikan lokasi berdasarkan laporan masyarakat,” ungkap Taufan.
Kolaborasi ini dimaksudkan agar pemantauan lebih efektif sekaligus memastikan informasi lapangan yang dimiliki warga dapat dimanfaatkan dalam proses pengambilan data.
Kamera trap yang digunakan dilengkapi sensor gerak dan panas. Sistem ini memungkinkan perekaman otomatis terhadap setiap objek yang melintas di area jangkauan kamera.
“Modelnya sensor gerak dan panas. Jadi bukan hanya satwa, manusia atau gerakan lain juga bisa terekam. Dari situ nanti kami pilah,” kata Taufan.
Data visual tersebut akan dianalisis berdasarkan bentuk tubuh, pola gerak, dan karakteristik fisik satwa sebelum ditarik kesimpulan resmi.
Dasar Penentuan Tindak Lanjut
BKSDA menyatakan seluruh hasil rekaman akan dikonsolidasikan secara internal dan dibahas dalam forum evaluasi untuk menentukan langkah lanjutan sesuai prosedur konservasi dan keselamatan masyarakat.
“Kalau memang itu satwa liar yang berpotensi meresahkan, tentu ada proses-proses lanjutan sesuai prosedur. Tapi kalau ternyata hanya anjing atau kucing, nanti kami sosialisasikan ke masyarakat agar tidak menimbulkan kekhawatiran,” ujar Taufan.
Laporan dugaan kemunculan macan di Gunungkidul sebelumnya juga pernah muncul, termasuk temuan jejak kaki berukuran besar yang kerap dikaitkan dengan macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), satwa dilindungi yang masih terdapat di sejumlah kawasan Pulau Jawa.
Bentang alam karst, hutan jati, semak belukar, dan hutan rakyat di Gunungkidul berpotensi menjadi koridor pergerakan satwa liar. Perubahan tutupan lahan dan penyempitan habitat alami dapat mendorong satwa mendekati area aktivitas manusia.
BKSDA mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta segera melapor kepada petugas jika menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar.
Hasil pemantauan kamera trap diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai jenis satwa yang dilaporkan dan menjadi dasar pengambilan langkah lanjutan.