
TUGU JOGJA – Langit biru tanpa awan memang terlihat indah. Namun, di balik cerahnya langit yang menyelimuti Daerah Istimewa Yogyakarta, tersimpan ancaman yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Musim kemarau tahun 2026 diprediksi menjadi salah satu periode paling kering dalam beberapa tahun terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan mengingatkan bahwa fenomena El Nino berpotensi menguat hingga akhir tahun dan memperpanjang musim kemarau di wilayah DIY.
Kondisi tersebut bukan sekadar prediksi di atas kertas. Analisis dinamika atmosfer dan laut menunjukkan berbagai indikator yang mengarah pada semakin minimnya peluang hujan selama beberapa bulan ke depan. Dampaknya tidak hanya menyentuh sektor pertanian, tetapi juga mengancam ketersediaan air bersih, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga memicu kekeringan meteorologis yang lebih luas.
Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Reni Kraningtyas, S.P., M.Si, menjelaskan bahwa hasil pengamatan terbaru memperlihatkan sejumlah parameter iklim bergerak ke arah yang mendukung berlangsungnya musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
“Angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator saat ini bertiup dari arah timur. Kondisi tersebut mengindikasikan Monsun Australia masih aktif sehingga mendukung berlangsungnya musim kemarau,” ujarnya.
Tidak hanya itu, BMKG juga mencatat bahwa Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) kini berada pada kategori moderat. Bahkan, fenomena El Nino diprediksi berpeluang meningkat menjadi kategori moderat hingga kuat dan bertahan sampai Desember 2026. Situasi tersebut semakin memperbesar peluang berkurangnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sementara itu, Dipole Mode Index (DMI) masih berada pada kategori netral. Namun, BMKG memperkirakan DMI positif mulai berkembang sejak Juli hingga Desember 2026. Kondisi tersebut akan semakin mengurangi suplai uap air menuju wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.
Di sisi lain, Madden Julian Oscillation (MJO), yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemicu terbentuknya awan hujan di kawasan tropis, diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia. Akibatnya, peluang hujan semakin menurun.
BMKG juga mengamati suhu muka laut di perairan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada kisaran 26 hingga 29 derajat Celsius dengan anomali antara minus 1 derajat Celsius hingga 0,5 derajat Celsius atau berada pada kategori dingin hingga netral. Kondisi tersebut turut memengaruhi berkurangnya pasokan uap air yang menjadi bahan baku pembentukan hujan.
Juli hingga September Diprediksi Sangat Kering
BMKG memprediksi hampir seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengalami curah hujan yang sangat rendah sepanjang Juli hingga September 2026. Pada dasarian pertama Juli, curah hujan diperkirakan hanya berkisar 0 hingga 10 milimeter per dasarian dengan sifat hujan seluruhnya berada pada kategori bawah normal.
Prediksi serupa juga terjadi pada dasarian kedua maupun dasarian ketiga Juli. Ketiga periode tersebut sama-sama menunjukkan curah hujan sangat rendah dengan sifat hujan bawah normal. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa peluang hujan selama Juli praktis sangat kecil.
Tidak berhenti sampai di situ, BMKG juga memprakirakan curah hujan bulanan selama Juli, Agustus, hingga September hanya berkisar antara 0 hingga 20 milimeter per bulan. Jumlah tersebut masuk kategori rendah dan seluruh wilayah DIY diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal. Artinya, musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis yang biasa terjadi di Yogyakarta.
Puncak Kemarau Terjadi Agustus
BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Sebanyak delapan Zona Musim (ZOM) atau 100 persen wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta diperkirakan memasuki puncak kemarau secara bersamaan.
Sifat hujan selama musim kemarau juga diprediksi didominasi kategori bawah normal. Sebanyak tujuh Zona Musim atau sekitar 87,5 persen wilayah DIY diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dari biasanya. Sementara satu Zona Musim atau sekitar 12,5 persen berada pada kategori normal.
BMKG memperkirakan total curah hujan selama musim kemarau hanya berkisar antara 250 hingga 400 milimeter. Adapun akhir musim kemarau diprediksi baru terjadi pada dasarian pertama hingga dasarian kedua November 2026. Dengan demikian, masyarakat harus bersiap menghadapi musim kering yang berlangsung cukup panjang.
Ancaman Kekeringan hingga Gagal Panen
BMKG menilai kombinasi Monsun Australia yang aktif, El Nino yang menguat, DMI positif, serta tidak aktifnya MJO menjadi rangkaian kondisi atmosfer yang saling memperkuat terjadinya musim kemarau ekstrem. Fenomena tersebut berpotensi mengurangi curah hujan secara signifikan dan memperpanjang periode tanpa hujan.
Reni Kraningtyas mengatakan peluang El Nino meningkat menjadi kategori kuat mencapai sekitar 86 persen. Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya berupa kekeringan biasa.
“Kondisi tersebut dapat mengurangi curah hujan dan menambah periode musim kemarau di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.
BMKG memperkirakan kekeringan mulai terasa sejak Juli 2026. Bahkan, kondisi kekeringan ekstrem berpotensi berlangsung mulai Juli hingga Desember 2026 apabila penguatan El Nino terjadi sesuai prediksi.
Situasi tersebut dapat memicu berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu produktivitas sektor pertanian. Petani menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi kondisi tersebut.
Keterlambatan menentukan pola tanam atau penggunaan air yang tidak efisien berpotensi menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah yang selama ini bergantung pada curah hujan.
BMKG Minta Semua Pihak Bersiap
BMKG meminta pemerintah daerah, instansi terkait, pelaku usaha, hingga masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sejak sekarang. Pemerintah daerah diharapkan mulai menyiapkan langkah mitigasi terhadap ancaman kekeringan meteorologis, terutama di daerah-daerah yang selama ini rawan mengalami krisis air bersih.
BMKG juga meminta seluruh pihak mengantisipasi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi vegetasi yang semakin kering. Di sektor pertanian, BMKG mendorong petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim yang diprediksi berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Pengelolaan sumber daya air secara efisien juga menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko gagal panen dan menjaga keberlangsungan produksi pertanian. Musim kemarau 2026 memang baru memasuki awal perjalanannya. Namun, seluruh indikator atmosfer sudah memberikan sinyal kuat bahwa masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta harus bersiap menghadapi bulan-bulan yang penuh tantangan.(ef linangkung)