Perbedaan Lebaran: Berkah Penjual Selongsong Ketupat di Yogyakarta yang Menghidupkan Tradisi

Bagikan :
Penjual Selongsong Ketupat di Yogyakarta/Foto: Istimewa

TUGUJOGJA- Suasana menjelang Idulfitri di Pasar Piyungan menghadirkan pemandangan yang berbeda dari hari-hari biasa. Deretan penjual selongsong ketupat mulai memadati trotoar di sepanjang pasar tradisional.

Mereka duduk berjejer, menata anyaman janur dengan cekatan, sambil menawarkan dagangan kepada para pembeli yang hilir mudik. Tradisi ini tidak hanya memperkuat nuansa Lebaran, tetapi juga membuka pintu rezeki bagi warga setempat.

Penjual Selongsong Ketupat di Yogyakarta

Waluyo, salah satu penjual selongsong ketupat, langsung merasakan berkah tersebut sejak hari pertama berjualan. Ia memulai dagangannya pada pagi hari dan langsung disambut pembeli.

“Saya baru jualan hari ini, kemarin belum. Alhamdulillah hingga siang ini saya sudah menjual lebih dari 100 selongsong ketupat,” ujar Waluyo dengan wajah sumringah.

Ia menjalankan usaha musiman ini setiap tahun menjelang Lebaran bersama suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan. Mereka memanfaatkan momen ini untuk menambah penghasilan keluarga di tengah kebutuhan yang meningkat.

Waluyo tidak sekadar berjualan. Ia dan suaminya memulai proses dari rumah, menganyam janur menjadi selongsong ketupat satu per satu dengan ketelitian tinggi. Dalam sehari, mereka mampu menghasilkan hingga 200 buah selongsong yang kemudian dijual dalam ikatan kecil.

Baca juga  KUR Mandiri Rp 100 Juta Cicilan Berapa? Cek Simulasi dan Syaratnya

Ia menjual setiap ikat berisi 10 buah dengan harga berkisar antara Rp3.000 hingga Rp5.000. Harga tersebut tetap terjangkau bagi masyarakat, tetapi cukup berarti bagi tambahan ekonomi keluarga mereka.

“Hasilnya lumayan untuk tambahan kebutuhan Lebaran. Tahun lalu saya bisa dapat sekitar Rp200.000. Mudah-mudahan tahun ini juga bisa seperti itu,” harapnya.

Di tengah keterbatasan, Waluyo tetap menjaga semangat. Ia menyadari bahwa penghasilannya sebagai buruh bangunan sering kali hanya cukup untuk kebutuhan harian. Oleh karena itu, usaha selongsong ketupat menjadi harapan kecil yang membawa dampak besar.

Tidak jauh dari lokasi Waluyo, Titik juga merasakan hal serupa. Ia memilih menjual selongsong ketupat sebagai bagian dari tradisi keluarga dalam menyambut Idulfitri. Bersama anggota keluarganya, ia memproduksi dan menjual anyaman janur dengan penuh kebersamaan.

Dalam sehari, Titik mampu menjual sekitar 200 buah selongsong atau sekitar 20 ikat. Ia tidak merasa khawatir jika dagangannya tidak habis terjual.

“Kalau masih sisa, saya bawa pulang untuk dijual lagi atau dipakai sendiri. Saya juga tidak rugi karena janurnya dari pohon kelapa milik sendiri,” jelasnya.

Baca juga  Arti 'Anda Telah Ditetapkan sebagai Penerima BSU pada Batch 4', Cair Transfer Bank atau Kantor Pos?

Di Balik Selongsong Ketupat

Kisah Titik menunjukkan bahwa usaha ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian tradisi dan kebersamaan keluarga. Proses menganyam janur bahkan menjadi aktivitas yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Di balik kesederhanaan itu, selongsong ketupat memiliki peran penting dalam perayaan Lebaran. Ketupat menjadi simbol kebersamaan dan tradisi yang tidak terpisahkan dari Idulfitri.

Banyak masyarakat memilih menggunakan selongsong siap pakai karena kesibukan mereka dalam mempersiapkan hari raya.

“Menjual selongsong ketupat juga membantu masyarakat. Saat Lebaran, banyak yang tidak sempat masak nasi karena sibuk berkumpul dengan keluarga,” ujar Titik.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana tradisi Lebaran menciptakan ekosistem ekonomi kecil yang menghidupi banyak orang. Dari pohon kelapa di halaman rumah hingga trotoar pasar, semuanya terhubung dalam rantai sederhana yang menghasilkan berkah.

Trotoar Pasar Piyungan pun berubah menjadi ruang hidup yang penuh cerita. Setiap anyaman janur yang dijual menyimpan harapan, kerja keras, dan semangat menyambut hari kemenangan.

Baca juga  Mudik Lebaran 2026 Lebih Lancar? Tol Ambarawa-Bawen dan Prambanan-Purwomartani Siap Difungsikan

Lebaran tidak hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang perjuangan. Di tangan para penjual selongsong ketupat, tradisi berubah menjadi sumber penghidupan.

Mereka tidak sekadar menjual anyaman daun kelapa, tetapi juga menghadirkan makna kebersamaan yang menjadi inti dari Idulfitri itu sendiri. (ef linangkung)

Berita Terbaru

kulinarea-1
Kulinarea 2026 Hadir di GIK UGM, Festival Kuliner yang Satukan Pelaku Industri hingga Pecinta Kuliner
images (14)
Panduan Rute ke KVille Kaliurang dari Pusat Kota Yogyakarta, Lewat Mana yang Paling Mudah?
fky 2025
Angkat Tema Aksara dan Literasi Budaya, Sleman Jadi Tuan Rumah FKY 2026 pada 13–19 September
kulon progo
UMK Dominasi Investasi Kulon Progo, Realisasi Tembus Rp101,9 Miliar hingga Triwulan II 2026
Kisah Mistis Rumah Kentang Kotabaru
Misteri Rumah Kentang Kotabaru Jogja: dari Tragedi Wanita Kaya hingga Aroma Kentang Rebus

Sedang Banyak Dibaca

falaq-lazuardi-o1RFviW3km4-unsplash (1)

Jadwal Lengkap KRL Jogja–Solo Semua Stasiun: Update Terbaru untuk Perjalanan Harian

solo-jogja

Jadwal Lengkap KRL Solo–Jogja Terbaru: Rute, Tarif, dan Waktu Keberangkatan dari Semua Stasiun

Bisnis Truk Tangki Air Gunungkidul

Krisis Air Bersih Meluas, Pengusaha Truk Tangki Gunungkidul Panen Permintaan

haedar nashir

Ini Harapan Haedar Nashir untuk Penerus Paus Fransiskus

Fenomena Kekeringan Gunungkidul

Derita Warga Klayu Tepus, Pipa Air Bersih Bertahun-tahun Terpasang tetapi Tak Mengalir