
TUGUJOGJA – Dulu, Yogyakarta mempunyai reputasi yang melekat di hati banyak orang yaitu kota yang murah, ramah, dan nyaman.
Ada ungkapan yang sudah lama hidup di benak pendatang, misalnya “Kalau mau hidup hemat, tinggal saja di Jogja.”
Harga makanan yang bersahabat, biaya tempat tinggal yang terjangkau, hingga ongkos transportasi yang ringan menjadi alasan kuat mengapa banyak mahasiswa, pekerja seni, hingga perantau memilih kota ini sebagai tempat menetap.
Namun, seperti cerita yang pelan-pelan berubah alurnya, romantisme tentang Jogja yang murah kini mulai pudar.
Fenomena ini semakin terasa ketika data dari surveri terbaru Survei Biaya Hidup Mahasiswa (SBHM) menunjukkan angka rata-rata pengeluaran bulanan di Yogyakarta mencapai sekitar Rp2.966.514.
Jumlah ini bahkan sedikit di atas Upah Minimum Kabupaten-Kota (UMK) Yogyakarta. Sebagai informasi, berdasarkan laman Jogjaprov, saat ini UMK tertinggi berada di wilayah Kota Yogyakarta dengan kisaran Rp2,6 juta.
Jika dihitung secara kasar, beginilah perkiraan biaya hidup bulanan di Kota Pelajar.
| Kebutuhan | Kisaran Biaya per Bulan |
|---|---|
| Tempat tinggal | Rp500.000 – Rp2.500.000 |
| Makan | Rp800.000 – Rp1.500.000 |
| Transportasi | Rp100.000 – Rp300.000 |
| Kebutuhan pribadi | Rp200.000 – Rp400.000 |
| Internet | Rp100.000 – Rp300.000 |
| Hiburan & lainnya | Rp500.000 – Rp1.000.000 |
| Total Estimasi | Rp2.200.000 – Rp6.000.000 |
Kebiasaan Mahasiswa hingga Perubahan Wajah Kota
Perubahan gaya hidup di Jogja tidak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa pendatang, terutama yang berasal dari kota-kota besar.
Mereka datang dengan kebiasaan yang sudah terbentuk di tempat asalnya. Misalnya, kebiasaan minum kopi di tempat yang estetik, rutin belanja online, dan lain sebagainya.
Beragam kebiasaan ini secara perlahan mampu menggeser pola konsumsi di Jogja. Pemilik warung dan rumah makan mulai menaikkan harga dan menyesuaikan menu.
Kos-kosan sederhana direnovasi menjadi penginapan modern dengan fasilitas lengkap. Tempat hiburan bermunculan, menawarkan kenyamanan yang dibalut kemewahan.
Semua ini memenuhi ekspektasi gaya hidup baru yang tidak selalu selaras dengan kantong warga lokal.
Nostalgia Disulap Jadi Konten
Meski biaya hidup naik, pandangan soal “Jogja murah” tetap dirawat dalam berbagai cerita serta foto.
Misalnya, media sosial dipenuhi potret nostalgia soal angkringan dengan lampu temaram, becak yang melintas di jalanan sepi, hingga harga makanan yang terlihat tidak masuk akal murahnya.
Sayangnya, itu tergolong potongan kisah dari masa lalu atau sudut tertentu yang jarang terjamah perubahan.
Kenyataannya, harga-harga di Yogyakarta kini tak jauh berbeda dengan kota besar lain. Perbandingan sederhananya, yaitu nasi ayam di Jakarta seharga Rp17.000, di Jogja pun berada di kisaran yang sama.
Memang masih ada pilihan lebih murah, tetapi tidak lagi serendah yang dibayangkan banyak orang.
Relatif Murah atau Mulai Mahal?

Bagi mereka yang datang dari Jakarta atau kota metropolitan, harga-harga di Jogja masih terasa bersahabat.
Tetapi bagi warga desa atau kampung yang terbiasa dengan biaya hidup jauh lebih rendah, angka-angka di Jogja bisa terasa berat.
Itulah mengapa murah dan mahal menjadi hal yang relatif, tergantung dari mana kita memandangnya.
Ada pula cara untuk tetap menikmati Jogja dengan biaya lebih hemat. Salah satunya, mencari tempat makan atau belanja yang berada jauh dari pusat wisata.
Biasanya, harga di daerah pinggiran masih lebih ramah. Kemudian, mengatur pengeluaran dengan cermat pun menjadi kunci agar biaya hidup di Jogja tetap terkendali.
Kota Pelajar yang Terus Bergerak
Namun demikian, perubahan ini sebenarnya memang tidak bisa dihindari. Kota yang menjadi pusat pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata tentu akan terus berkembang.
Perkembangan itu membawa konsekuensi, khususnya persoalan biaya hidup yang mengikuti arus zaman.
Jogja yang dahulu murah kini lebih seperti kenangan kolektif yang mana indah untuk diceritakan, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan realita hari ini.
Sehingga, Yogyakarta tetap memiliki daya tarik yang sulit tergantikan. Suasana yang tenang, budaya yang kental, dan keramahan warganya tetap menjadi alasan banyak orang bertahan.
Mungkin, Jogja bukan lagi sekadar kota murah, tetapi tetap menjadi kota dengan cerita yang selalu membikin rindu siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di sini.***