
TUGUJOGJA – Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia terus meningkat dan kini mencapai sekitar 30 juta jiwa, atau 12 persen dari total populasi nasional.
Di tengah kondisi tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan ajakan kepada para pensiunan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk tetap aktif berkontribusi di tengah masyarakat.
Ajakan ini disampaikan dalam Jambore Nasional (JamNas) Juang Kencana VIII Tahun 2025 yang berlangsung di Balai Kota Yogyakarta.
Hasto menyampaikan apresiasi terhadap peran para anggota Juang Kencana, yakni pensiunan BKKBN yang terus aktif mengabdi.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terdapat hampir 200 anggota yang masih terlibat dalam edukasi, konseling, dan pelatihan perubahan perilaku masyarakat.
“Mereka ini bukan orang sembarangan. Banyak di antara mereka doktor komunikasi, ahli perilaku, dan pakar pemberdayaan. Ilmu mereka luar biasa. Kami bersyukur mereka hadir di Kota Yogya, menyemangati kami dalam membangun manusia seutuhnya,” ujar Hasto.
Program Sekolah Lansia dan Konsep Empat Kuadran
Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam memperkuat program Sekolah Lansia. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia melalui pendidikan yang terstruktur.
Hasto menilai, Sekolah Lansia perlu memiliki kurikulum nasional agar pelaksanaannya bisa berlangsung efektif dan berkesinambungan.
“Kota Yogya harus menjadi pencipta kurikulum pendidikan lansia. Kita punya tanggung jawab moral karena jumlah lansia di Yogya termasuk tertinggi di Indonesia. Harus ada kurikulum baku yang bisa jadi rujukan nasional,” jelasnya.
Hasto juga memaparkan konsep empat kuadran lansia sebagai dasar perumusan kebijakan. Pertama, lansia sehat dan memiliki modal, yang dapat bekerja atau membuka lapangan kerja.
Kedua, lansia sehat tetapi tidak memiliki modal, yang perlu difasilitasi untuk bekerja bersama pihak lain. Ketiga, lansia tidak sehat namun memiliki modal, yang dapat berkontribusi melalui kegiatan sosial atau investasi.
Keempat, lansia tidak sehat dan tidak memiliki modal, yang membutuhkan dukungan sosial secara intensif.
“Melalui sekolah lansia, kita bisa membantu mereka agar tetap sehat, mandiri, dan tidak menjadi beban orang lain,” ujarnya.
Selain aspek ekonomi, Hasto juga menyoroti pentingnya hubungan keluarga dan keharmonisan sosial. Banyak lansia yang menghadapi kesepian atau depresi karena merasa ditinggalkan oleh keluarganya.
“Masalah kesepian dan kehilangan peran itu nyata. Lansia butuh dukungan emosional dan sosial agar tetap bahagia,” ucapnya.
Ia juga menambahkan pentingnya pembahasan topik seksualitas secara ilmiah sebagai bagian dari menjaga kualitas hidup lansia.
“Mumpung di sini tidak ada anak-anak, saya sampaikan bahwa masalah seksualitas juga penting dibahas secara ilmiah dan bijak. Itu bagian dari menjaga kualitas hidup lansia,” katanya.
Tiga Pilar Lansia Berdaya
Ketua Umum Juang Kencana, Sudibyo Alimoeso, menegaskan bahwa Jambore Nasional bukan sekadar ajang pertemuan, melainkan wadah untuk berbagi pengalaman dan praktik baik pemberdayaan lansia.
“Kami dulu mengelola banyak program kependudukan, tapi jambore ini bukan nostalgia. Ini wadah untuk berbagi ilmu dan semangat bagaimana membuat lansia tetap berdaya,” tegas Sudibyo.
Ia menjelaskan bahwa BKKBN kini mengusung program prioritas nasional ‘Lansia Berdaya’ yang selaras dengan semangat Juang Kencana: dari lansia, oleh lansia, dan untuk lansia.
“Yang paling tahu kebutuhan lansia adalah mereka sendiri. Karena itu, lansia harus menjadi subjek pembangunan, bukan objek belas kasihan,” katanya.
Sudibyo menyampaikan bahwa kunci lansia berdaya terletak pada tiga pilar utama: kesehatan fisik, mental, dan sosial. Banyak lansia yang secara fisik sehat namun menarik diri dari lingkungan sosial.
“Itu yang harus diubah. Kalau sosialnya tidak sehat, mereka bisa depresi, kesepian, dan akhirnya mudah sakit. Sehat itu harus utuh: tubuhnya kuat, pikirannya tenang, dan jiwanya bahagia,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang ramah lansia. Menurutnya, banyak fasilitas publik maupun rumah tinggal yang belum memperhatikan kebutuhan lansia, seperti tangga tanpa pegangan, kamar mandi licin, dan pencahayaan minim.
“Banyak rumah yang belum ramah lansia, tangga tanpa pegangan, kamar mandi licin, penerangan minim. Kalau mereka jatuh dan cedera, mereka bisa kehilangan kemandiriannya. Itu tragedi kecil yang dampaknya besar,” jelasnya.
Sudibyo mengingatkan bahwa Indonesia tengah memasuki fase masyarakat menua (aging population).
Dengan jumlah lansia mencapai 30 juta atau sekitar 12 persen dari populasi nasional, angka tersebut diprediksi terus meningkat dalam dua dekade mendatang. Di Kota Yogyakarta, proporsi lansia bahkan mencapai 16,8 persen, tertinggi di Indonesia.
“Jumlahnya besar sekali. Kalau mereka tidak produktif dan tidak sehat, bebannya akan berat bagi keluarga maupun pemerintah. Karena itu, lansia harus tetap berdaya, menularkan ilmu dan pengalaman. Kita tidak boleh melihat lansia sebagai beban. Mereka adalah sumber kebijaksanaan dan modal sosial bangsa,” ujarnya.
Penutupan kegiatan di Balai Kota Yogyakarta diwarnai dengan semangat para peserta jambore. Ratusan anggota Juang Kencana berdiri menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh kebersamaan.
Mereka menunjukkan bahwa masa pensiun bukan akhir pengabdian, melainkan awal dari peran baru dalam pembangunan manusia.
“Lansia bukan akhir pengabdian. Bagi mereka yang punya semangat, pensiun hanyalah babak baru untuk terus memberi arti,” tutupnya.